Rumah

Dear Sore,

Ini sapa pertamaku padamu, kan? Apa kabar langitmu saat ini? Aku bisa melihatnya selingkaran mata di atasku dari kaca jendela Kereta, tapi aku ingin kamu yang menceritakannya. Biar kudengarkan merdu suaramu itu. Atau sesekali kubertanya dengan sedikit melembutkan suaraku. Suara yang Gita bilang bermodel “bulat-bulat” ini. Bagaimana model suara bulat itu? Entahlah aku tak tahu.

Dear Sore,

Aku ingin bercerita tentang “rumah” saat ini. Kita bayangkan saja, karena aku sedang tidak bisa menunjukkan fotonya. Pagi tadi saat melihat Hp, tiba-tiba aku teringat akan rumah. Kemudian aku membuat pertanyaan yang aku jawab sendiri.

“Apakah ada rumah yang ditulisi “buanglah sampah pada tempatnya”, “jagalah kebersihan”, atau pesan-pesan kebersihan lainnya?”

Aku belum pernah melihatnya. Setahuku tulisan itu dipasang di tempat-tempat umum. Di mall, di masjid, di jalan dan di tempat lainnya. Tapi di rumah ini Sore, di rumah ini tidak ada tulisan itu. Ibu bilang, semua penghuni rumah harus bertanggungjawab. Menjaga kebersihan dimanapun berada. Membersihkan yang kotor. Mengelap yang berdebu. Mengepel dan menggosok lantai yang berkerak. Dilakukan setiap waktu, tidak hanya ketika ingat.

Sore, aku sedang memegang sapu lidi tadi. Berniat menyapu halaman. Daun-daun sedang gugur beberapa dibawah pohon rambutan. Setelah itu kusiram bunga-bunga di halamannya. Kutaburkan sedikit pupuk alami. Kurapikan pot yang berserakan. Kutata sedemikian rupa.

Sore, aku kemudian memegang kain pel tadi. Kubersihkan seluruh lantainya. Tetap dengan menyapunya terlebih dahulu. Kubersihan juga debu-debu di setiap sudut lemari dan meja kursi. Kuatur sedemikian rupa, agar dia terlihat rapi untuk sementara.

Iya, sementara saja Sore. Karena Ibu bilang, semua ini adalah pekerjaan yang berulang. Nanti, kalau ada orang datang, anak kecil bermain atau angin berdebu yang bertiup juga akan kotor lagi. Atau kalau ada tamu ? Arisan keluarga misalnya. Kotor itu memungkinkan, keadaan tetap bersih itu bonus. Jika kotor nanti kita juga akan membersihkannya lagi kan. Halaman juga begitu. Daun-daun akan gugur dan tanaman minta disiram lagi.

Ga apa-apa. Akan tetap aku bersihkan. Rumah, aku akan tetap membersihkanmu. Kamu tetap mau dibersihkan berulang, kan ?

Lagi. Ibu juga pernah bilang. Bahwa bagian rumah itu ada perbedaan hawa udaranya. Misalnya di teras itu kadang sejuk, dingin, kadang juga panas. Di dalam rumah, diruang tengah itu akan hangat ketika malam. Dan tetap nyaman saat siang. “Tapi akan ada masanya juga kamu merasa gerah dimana-mana. Bagian belakang, di dalam rumah atau di teras.”, kata Ibu lagi.

Ga apa-apa, aku pernah belajar menghadapi cuaca panas, dingin, gerah dan pengap. Aku mau tetap bertahan.  Dan ketika rumahku belum terbuka karena kunci lupa kubawa, aku di teras saja dulu. Meski angin panas bersemangat sekali meniup wajahku, akan ku anggap itu sepoi-sepoi. Aku tetap akan menyayangi rumah ini. Tempat dimana aku berteduh kala hujan turun dengan derasnya. Tempat yang melindungiku dari sengatan matahari jam 12 siang. Tempatku berpulang dari segala bepergian. Rumah adalah ketenangan. Tempat segala resah-resahku tertuang.

Dear Sore,

Langitmu di Cibitung sedang abu-abu saat ini. Sampai mana ceritamu tadi ? Mari lanjutkan, ada dua telinga yang siap mendengarkan. Sore, boleh aku meminta tolong. Tolong tanyakan pada langitmu, apa kabar rumahku saat ini? Rumah yang selalu aku rindui. Rumah yang padanya doa-doa tertuju. Rumah yang akan kukunjungi lagi nanti. Iya, suatu saat nanti.

Mungkin suatu saat kita akan menemui rumah lainnya lagi untuk berteduh. Tapi Sore, satu rumah ini tak akan kulupa. Aku kerasan di dalamnya.

Rumah segala cuacaku. 🙂

Lemah Abang, KA Kertajaya, Kereta 1-13 E

14.41

Advertisements

36 thoughts on “Rumah

    1. Ahahaha.. saking nganggurnya di Kereta ini mbak. Ga ada yang di ajak ngomong selain adek2 yang baru lulus SMA. Jadi main imaji.

      Barangkali kapan2 saya ngomong sama pasir kali ya. Kalau pas di pantai sendirian begitu.🙈

      Liked by 1 person

      1. Waaa, berasa seumuran mereka nih mesti 😂😂

        Bisa tuh Mba Ikha, ajak ngomong ikan atau kepitingnya juga, siapatau dikenalin putra duyung *eh*apasih 😂😂

        Liked by 1 person

      2. Betul. Berasa seumuran. 🙈🙈🙈

        Kayak di film-film itu Mbak, terus putra duyungnya berubah jadi manusia gitu y..😅
        *duh drama sekali

        Liked by 1 person

    1. Dear Malam,
      Tolong kirimkan sejuta rekaman kepada gadis manis pujakesuma ini.

      Ambilkan saja dari kumpulan suaraku dari kotak rahasia bernama laci rindu. Ada banyak sapaan, doa, nama yang sering ku kumpulkan disana. Pilihlah yang mana saja. Berikan sebanyak yang dia mau.
      😗

      Liked by 1 person

    1. Dear Sore,
      Jika nanti sudah berlabuh di belahan bumi Australia tempat Kak Didi berada. Sampaikan salam balik dariku untuknya. Dan jadilah Sore yang cantik untuk kak Didi, meskipun dingin membalut tubuhmu. 🙂

      terima kasih kak Didi 🙂

      Liked by 1 person

      1. Owh engga, gak ada yang salah. ✌
        rumah dengan Rumah, itu bedalho. Seperti, aku mencintai dia, aku mencintai Dia.

        Bedakan? Hehehe

        Liked by 1 person

      2. Iya beda Mas. tapi ini memang beda, hahaha. maunya bisa dibaca dengan maksud Rumah dan rumah.
        dan memang deskripsi rumah di pikiranku tidak melulu rumah yang nyata itu.

        tapi entah gimana kalau kayak gini nulisnya ? apa harus menetapkan satu tujuan ?

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s