Sisa Kemarin (2)

Sisa – sisa cerita pendek selama empat hari berada di Jakarta. Ditulis agar kelak kamu ingat, jika merindukanku lagi di kota Jakartamu itu, kamu tahu harus mencari jejakku dimana. Atau membaca tulisan ini.

Cerita ini tentu tokohnya saya bersama Kania. Ditambah April, Hanif dan bonus Kopdar dengan Mas Fadel (alias pemilik blog Semut Hitam) di CFD.

***

 Hari ke-3

Boleh, silahkan dan Cari apa, silahkan ?

“Mik, kita ga jadi ke TMII aja. Hari ini jatahnya kita ke Tanah Abang, aku ajari cara menghabiskan uang nanti. hahaha. Sekalian kamu nyariin titipan mbk kos, terus nanti sore ketemu Hanif di KFC Benhil.”

“Tanah Abang”, saya cuma bergumam menanggapi. Tapi sebenarnya otak ini masih memutar kata-kata “Tanah Abang” sendiri. Tanah Abang, Tanahnya Abang(berwarna merah), Tanahnya si Abang (miliknya Abang). Kenapa namanya Tanah Abang? setelah bertanya pada google akhirnya menemukan sejarahnya. Ah, tapi ada tiga versi ternyata, mau nulis tapi enggan. 😛

Mana yang benar dari tiga versi itu ? entahlah, biarkan Tanah dan Abang sibuk dengan asal namanya. Mari kita jalan – jalan saja.

P_20170514_111337
Bajaj,  foto saya ambil iseng ketika di jalan

Kami berangkat ke Tanah Abang sekitar pukul 10.00 pagi, entah lebih berapa menit. Langit Jakarta yang abu-abu ditambah jalanan yang padat dan penuh dengan suara klakson, semakin menambah sumuk, jiwa dan raga. Keluar dari gang Kebon Pala-1, kami segera naik angkot menuju Tanah Abang. Sampai di wilayah Tanah Abang, saya di ajak masuk ke Metro, tempat ini katanya Yuni hanya buka sampai jam 12.00 siang saja.

“Mi, kalau pengen bilang ya. Nanti aku tanyain harganya”, Yuni berujar itu berulang kali. Saya hanya mengiyakan sambil terus mengikutinya dari belakang dan sesekali mendahului. Jika semeter saja kami berjarak, dia akan menengok ke belakang dan berkata, “Mik, ayo sini. Nanti ilang kamu.”

Huft.. sejujurnya saya tidak takut hilang disini, tersesat atau lupa jalan pulang. Yang saya takuti hanya satu : mules. Entah saya punya sindrom apa. Setiap kali masuk mall, pasar, atau tempat ramai lainnya perut saya akan sering merasakan mules-mules yang minta lekas dibawa ke kamar mandi. Tapi dilemanya, saya paling anti kamar mandi umum. Selalu merasa tidak nyaman. Tapi lama-lama juga ilang sendiri sih. Mungkin mulesnya tadi hanya ilusi saja 😀

Capek berkeliling Metro, Yuni membawa saya masuk ke Tanah Abang, deket sih hanya nyebrang jalan saja. Hanya satu yang digambarkan otak saya mengenai Tanah Abang, ramai. (Ya iyalah, kalau ga ramai ga pasar namanya mik ). Ada banyak orang keluar masuk pasar Tanah Abang. Mereka yang keluar dari pasar membawa dagangan seambrek untuk dijual lagi. Mereka datang dari jauh sepertinya.

Masuk di blok A Tanah Abang bikin saya pusing, dan selama dua jam berkeliling demi mencari, ah entahlah apa itu. Baju pesanan dengan ukuran khusus (pokoknya ukuran yang susah dicari, saya mau nyebut ukurannya sungkan sama yang nitip kalau baca ini hehehe ), warna request harus gelap tapi kalem tidak boleh cerah yang meriah. Modelnya harus model cewek, tidak alay, biasa tapi tetap modis. Singkatnya semacam model blush begitulah mungkin ya. Sudah di kirimi foto baju yang ada di toko tapi masih kurang puas, tanya lagi baju yang tadi padahal sudah pindah toko. Panjanglah ceritanya, tapi dari sini saya sama Yuni jadi belajar sabar. Seperti pesannya Yuni di sela-sela ramainya desakan pembeli lainnya.

“Sabar ya Mik. Kadang kala aku orangnya gitu, suka ga sabar nungguin. Kalau mau ya mau, kalau beli ya beli kalau enggak ya enggak. Kan sungkan juga berdiri lama di tempat Mas penjualnya, nungguin jawabannya di dia.”

Saya hanya tersenyum sambil menahan mules yang mau muncul lagi, yah gimana lagi, namanya titipan. Kalau ada ya dicariin, kalau memang sudah diupayakan dan tidak menemukan yang sesuai ya gimana lagi.

Selesai urusan dengan Tanah Abang, kami berpindah ke Thamrin City atau Thamcit, kali ini giliran Yuni mencarikan titipan teman sekelasnya waktu kuliah dulu. Ah, kena sekarang kau. Wkwkwk. Sabar muterin ruko-ruko jilbab demi nemu sepotong jilbab saja. kali ini giliran saya yang bilang “sabar” ke dia.

“Sabar ya, kali saja dia juga bingung kayak temenku tadi.”

***

Hasil dari berputar – putar di tiga tempat itu ada satu hal yang menarik dan saya catat, yaitu cara orang berjualan menawarkan dagangannya. Saya sedang membandingkannya dengan pasar-pasar di Surabaya. Kalau di Surabaya orang menawarkan dengan kalimat begini :

“Silahkan mbk, kak cari apa ? silahkan bajunya ?” atau “cari apa kak, silahkan”

Nah kalau di Jakarta (maksudnya di tiga tempat itu tadi) akan menjadi seperti ini :

“boleh bajunya silahkan”, “boleh silahkan”, atau “boleh kakak, bajunya boleeh”

Kalau saja Yuni tahu ya, ah Yuni pasti tahu. Selama keliling pasar saya sering iseng menjawab teriakan para penjual itu dengan : “iya, boleh. Kenapa ga boleh. Kan situ jual, sini beli.”

Ah, ini kayaknya ga penting ya. Tapi otak saya terlanjur suka mencatat hal kecil dan kurang penting begini. -_-

Hanif dan Megang HP waktu Meet up

Selesai sholat magrib, kami bergegas ke KFC daerah Benhil. (Kayaknya ada kepanjangannya kenapa namanya Benhil, tapi saya lupa. Bendungan Hilir atau apa gitu. Ada yang tahu mungkin?) Hanya naik satu kali angkot dari Kebon Pala. Sesampainya disana kami belum menemui Hanif ada di dalam. Sambil menunggu kami memesan sesuatu. Barulah sekitar lima belas menit Hanif muncul dengan wajah dan senyum sumringahnya yang masih khas. Ah Hanif, terakhir kali kita ketemu adalah bulan September 2014 saat kamu wisuda. Iya ga sih ?Setengah jam kemudian disusul April Fitriani, dia datang sendirian. Tanpa April kecil.

Aslinya banyak hal menarik yang diperbincangkan di meja KFC ini, tapi banyak saya skip. Biar jadi obrolan kenangan saja. Salah satunya yang mau saya tuliskan adalah pertanyaannya Hanif.

“Mik, ente ngapain ke Jakarta ? seriusan cuman main aja. Ga ada yang lain Mik. Ada perlu mau ketemu siapa gitu.”

Pertanyaan ini diulanginya lebih dari tiga kali karena merasa tidak puas dengan jawaban saya yang hanya menjawab, “main ke tempat Yuni. Nepatin janji aja nif.”

Kayaknya takut kaget kali ya, kalau tiba-tiba saya ngeluarin kertas tebal dengan ukuran 15×20 cm berwarna biru atau tosca bertuliskan nama saya sama nama siapa gitu. Yang intinya ngundang mereka buat datang ke Ngawi dalam waktu dekat. Wkwkwk. Ditambah protesnya bahwa namanya dia tidak masuk ke dalam daftar kunjungan saya. Ya gimanalah, saya cuma kepikiran satu niatan, pengen ke Istiqlal, sisanya terserah guide. Hehehe. Ah, sejujurnya saya lupa di Jakarta itu ada siapa saja. (Dan waktu saya di kereta untuk kembali ke Surabaya, di grup alumni rohis kampus  juga ramai, ada Ima yang merasa dilupakan oleh saya, karena tidak di ajak ketemu. 😦 Maafkanlah, kok saya jadi jahat gini ya.)

Masih di KFC Benhil. Menjelang sesi foto-foto (karena lama ndak ketemu ya, terakhir kali foto sama dia itu ya pas wisuda kayaknya) tiba-tiba dia nyeletuk gini, “Ijin buka HP ya, takutnya ada yang nyariin.”

Ah, saya baru sadar selama ngobrol hampir dua jam kami semua meletakkan HP di meja tanpa sepenuhnya menyentuhnya untuk sibuk ber-WA-an. Yuni sesekali yang membuka HP untuk menghubungi April kecil (adek kos dulu di Surabaya) yang katanya mau ikut ketemuan juga. Tapi ternyata tidak jadi karena dia masih ada acara. Jadi, beginilah harusnya. Ketika ada yang hadir nyata di depan kita, jangan kita abaikan karena sibuk membalas pesan atau chatting dengan yang maya. Dunia kita memang ada dua, yang maya dan nyata. Tapi ketika menjadi nyata di depannya dan diabaikan itu rasanya, ya gitudeh. Saya jadi ingat kalimat Yuni yang saya tulis di tulisan sebelumnya.

Hari Terakhir

Cari saja

 “Mik, bilang ke temenmu kita ketemuan di HI ya, jangan di Monas jauh.” pesan Yuni sebelum beranjak tidur.

“Kita berangkat jam berapa ?”

“Lima mi.”

Setelah berkabar dengan Mas Fadel dan mengatur jam bertemu. Saya kembali mempertanyakan ulang jam limanya dia itu.

“iya, jam 5. Kan kita jalan kaki. Harus pagi-pagi.”

***

(Besoknyaaa…….)

Selesai sholat Shubuh saya bangunkan kedua teman saya itu ( April dan Yuni). Sampai jam lima lebih mereka baru meninggalkan kasur masing-masing. Dan barulah saya sadar, bahwa yang dimaksud jam lima itu adalah: jam lima mulai membuka mata, setengah enam bangun, jam enam mandi, setengah tujuh siap-siap dan jam tujuh berangkat. 😀

Sembari menunggu Mas Fadel yang masih di busway, saya, April dan Yuni berkeliling di stand-stand CFD. Ada beberapa benda yang menarik perhatian saya salah duanya Lego dan Hamster. Satu benda mengingatkan saya pada jaman TK satunya lagi mengingatkan saya pada Lab TA Elektronika di gedung D4. Ada sejumlah cerita saya dan Mbk Churnia terjadi disana. Saya yang rajin mampir ke Lab itu sering bermain dengan hamster, milik temannya mbk Chur. Dan hewan lucu itu makanannya adalah biji bunga Matahari atau kwaci. 😀 Apa hubungannya coba ? Aaah, pokoknya yang menyangkut bunga Matahari itu menarik untuk saya. Hahaha

P_20170514_075414
Lego | Foto : Koleksi pribadi
P_20170514_074728
Hamster | foto koleksi pribadi

Selesai sarapan Lontong Sayur kami bertiga duduk-duduk di bundaran HI. Di tepi kolam, sembari menunggu kedatangan Mas Fadel. Entah sudah berapa penyanyi dan pertunjukkan seni yang sudah menghampiri kami, sampai akhirnya Mas Fadel mengabarkan bahwa dirinya sudah mendekati bundaran HI. Sedang menuju ke arah gedung Deutsche Bank. Dia mengabarkan bahwa dirinya memakai jaket Varsity biru-orange, pakai tas ransel besar, bawa kamera dan bukan tampang-tampang orang yang mau olahraga. Wkwkwk. Ya, saya saja niatnya tadi ke CFD malah mau pake gamis gitu. Sebelum akhirnya Yuni ngomel-ngomel panjang karena dibilang ribet. Padahal sih biasa saja aslinya. Karena ga muncul – muncul akhirnya saya mengabarkan kalau saya akan mencari dirinya.

“Kalau sama-sama nyari nggak ada yang dicari nanti.wkwkwk”, pesannya Mas Fadel.

Eh, saya tercenung sebentar membaca kalimat ini. Dan diluar pencarian kecil seperti ini, sebenarnya ditemukan itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Baiklah, kukantongi kalimatnya untuk diterbitkan jadi quote. Wkwkwk.

“Ya udah cariin aku aja. Masuk ke Bundaran, Nah nganan dikit. Deket kolam. ada mbk2 bertiga…jilbab mint, donker, pink. Itulah aku.”, saya membalas pesannya panjang.

Akhirnya ada sesosok laki-laki, bawa tas ransel besar, bawa kamera, pake jaket biru-orange dan tinggi. Tinggi amat, kira-kira kalau berdiri saya, aah..pokoknya jauh dari sepadan pundaknya. Hahaha. Dia menyapa saya.

“Kak Ikha ya ?”, dua detik saya tercenung lagi. ‘Ikha? Siapa itu?’. Allah, saya lupa itu nama panggilan saya di blog. Beneran saya lupa kalau itu nama panggilan saya waktu itu. Yah, soalnya jarang dengar nama ‘Ikha’ dilafalin sih. Jadi semacam telinga ini masih asing-asing kenal gitu.

“Iyaa, ini Ikha.” Kayaknya gitu saya jawabnya waktu itu.

Yak, akhirnya saya ketemu sama raja kopdar satu ini. Saya kenalkan dia dengan April dan Yuni (atau Kania). Dari hasil obrolan, saya ketahui bahwa dia ini adek kelas saya jauh. Harusnya dipanggil Fadel saja ga masalah, tapi karena kebiasaan ya sudah tetap saya panggil Mas Fadel saja.

Kami yang tinggal bertiga ngobrol sana-sini sambil menikmati orang yang berlalu lalang. Yuni terpaksa pulang duluan ke kos karena ada urusan darurat. Obrolan kami tak jauh-jauh dari pertanyaan-pertanyaan umum, alamat asal, tinggal dimana di Jakartanya, kerja dimana, berapa saudaranya, dan skripsi. Oh ya dia lagi skripsi tahun ini. Dan kabarnya dia akan penempatan dari kampusnya di akhir tahun ini, karena memang STIS adalah kampus dengan sistem Ikatan Dinas. Dan entah apa lagi yang kami perbincangkan, banyak seingat saya.

Selanjutnya kami berkeliling ke stand-stand yang ada di sebelah kiri bundaran HI. Ada banyak penjual makanan, sendal, pakaian, orang promo detergen juga ada dan pertunjukan juga salah satunya. Pertunjukan orang memakan api, berdiri dengan kepala begitulah yang sempat kami lihat sebentar. Oh ya, salah satu makanan yang ada disana yang pernah ditulis Mas Fadel ini adalah Toge Goreng, dimana dia merasa kecewa karena ternyata tidak ada bahan makanan yang digoreng sama sekali. Tapi semuanya direbus. Lah, saya baru tahu kali ini malahan ada makanan namanya begitu. Kemudian dia membeli dodol betawi. Dua diberikan kepada saya dan April dan satu untuknya. Terima kasih dodolnya, saya baru sadar kalau ternyata bungkusnya sampai sekarang masih ada di dalam tas saya. Wkwkwk. Udah seminggu saja.

P_20170514_103037
Dodol betawi yang tinggal bungkusnya

Inilah penampakan putra batam itu. Semoga saja nanti dia lepas wisuda ditempatkan di daerah-daerah dekat Batam sana. Biar bisa sering-sering mudik bertemu Ibunya.

P_20170514_105410_BF
Dari depan : April, Mas Fadel dan saya

***

Pukul 13.30 saya memasuki peron stasiun Pasar Senen. Satu teman memeluk saya dengan erat. Satunya lagi sibuk memvideokan kepergian saya.

“nanti main lagi ya”, katanya.

And I just smile to her. 🙂 []

Advertisements

29 thoughts on “Sisa Kemarin (2)

  1. Bagus ya…travelingnya diabadikan dalam bentuk tulisan. Saya beberapa kali bepergian ke beberapa tempat belum pernah ada yang saya tulis…jadi menyesal …he..he..Sekarang mau nuliskan sudah banyak yang lupa..terutama menggambarkan keadaan tempat yang kita datangi

    Liked by 1 person

    1. Iya bun. Sesekali kadang saya tulis, tapi banyak juga yang tidak. Setidaknya nanti bisa buat kenang2an. Syukur2 Hehehe.

      Iya, kalau kelamaan lupa bun. Saya saja baru sebulan kadang juga sudah lupa, nama jalan nama desanya kayak gt. 😩

      Liked by 1 person

      1. Pernah juga aku lihat cerita kopdarnya fadel sama valendri…
        Mbak ikha, kapan kopdar dengan saya… 😀
        Syaratnya cukul bawa pasangan, kalau enggak.. Hahahaha #tertawa jahat

        Liked by 1 person

      2. Sebenarnya kita ini dekat lo Mas Nur jarak kotanya 😅

        Gampang. Pasangan aja kan. Ga ada embel2 lainnya kan. Bawa temen satu kan udah pasangan namanya 😌😌😌

        Liked by 1 person

  2. Kok sama kita kak wkwk. Kalau masuk keramaian lebih khawatir mulesnya daripada kesasarnya 😂. Yup, Benhil = Bendungan Hilir. Udah, langsung kasih aja kak undangannyaaaaa HA HA!

    Aku baru tau Kak Ikha menunggu lama di sana. Padahal di sana panas bet. Duh maaf baru bilang maaf sekarang kak 😂 Bahagia akhirnya bisa ketemu Kak Ikha, Toh terbayar suah rasa penasarannya akhirnya. Btw julukan raja kopdar itu berat sekali kak wkwk. Malu bacanya 😂

    Terima kasih menyempatkan bertemu. Terima kasih kue pukisnya. Terima kasih telah berbagi kak. Jangan bosen2 ya mampir ke ibukota!

    Liked by 1 person

    1. wkwkwk. sek jangan-jangan mulesmu kemaren karena ditempat ramai ya Mas Fadel. oke kucatat, kamu pengidap sindrom ini juga.
      Iya, nanti pasti kukasih kok undangannya. masih nunggu satu nama belum keliatan dimulai dari huruf apa ini.

      Itu kemaren ga panas sih, radak gerah-gerah gimana saja, soalnya pas mendung juga.
      Huum, gpp. lain kali kalau ketemu saya bawain payung ya. hahaha.
      Ga apa-apa, jarang-jarang kan punya julukan gitu.

      Sama-sama.. 🙂
      Terima kasih juga sudah disambut dengan baik di Ibukota. Bosen sih enggak, tapi jauhnya itu lo. 😀

      Liked by 1 person

    1. Suatu saat nanti Ruri ..semoga bisa main ke Jakarta juga. Sampai ke Bikit tinggi..

      Oh ya Ruri. Maaf belom bisa balas email. Nanti malam ya..mbk ketik balasannya. InsyaAllah 😊

      Like

      1. Lagi buka WordPress soalnya hehe. Sambil antri teller..😜

        Huum. Ruri fokus UAS dulu saja.. moga2 lancar ulangannya. Sehat-sehat yaaa… jangan sakit lagi. 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s