Belajar Mandiri

Belakangan ini Ibu sering menelfon untuk sekedar mengingatkan makan ke saya kalau adik saya sedang butuh dinasihati. Daftar rinciannya panjang tapi intinya ya itu, meminta saya lebih dekat dengan adik saya. Dekat agar nasihat saya didengarkan oleh dia, karena dia sedikit istimewa (kalau tidak mau disebut bandel) dari saya.

Sebagai saudara yang beda umurnya sebelas tahun, kami memang tidak cukup punya waktu bersama di masa kecil. Saya hampir setiap hari membersamainya hanya sampai saya kelas 3 SMP, itu artinya dia masih balita dan ingatannya mungkin tidak sepenuhnya tersimpan. Kedekatan kami cukup sebenarnya, tapi sebagai seorang kakak yang merantau, kadang saya belum bisa merasa : selalu ada untuknya, meskipun selama ini saya tahu dia selalu mencari saya ketika ada apa-apa.

Banyak kejadian yang saya alami sedari kecil, membuat saya belajar bagaimana menjadi kakak sekaligus teman untuk adik saya. Ternyata apa yang dulu diajarkan oleh kedua orang tua saya, kini beberapa saya terapkan ke adik saya. Saya pilah mana yang harusnya dia terima dan mana yang harusnya tidak dia terima.

Kali ini tentang uang saku.

Dulu saat saya kecil, ketika musim liburan sekolah, sebagian besar uang saku saya juga akan terhenti. Karena saya tidak sekolah, maka hak saya untuk mendapat uang jajan dikurangi. Paling-paling kalau ada tukang sayur lewat, saya merengek minta jajan. Selebihnya ya pernah diberi, tapi tidak setiap hari. Alasannya Ibu, nanti uang sakunya buat beli buku tulis baru. Oke, masuk akal. Alasan diterima.

Kata Ibu kalau mau punya uang jajan di waktu liburan ya harus membuat sesuatu yang menghasilkan uang (sendiri), jangan minta terus. Akhirnya saya mencari cara, mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Pertama : menganyam tas. Tas belanja yang biasanya Ibu-Ibu kalian pakai belanja di pasar, saya membuatnya. Namanya tas Ram. Entah diluar sana orang menyebutnya apa. Kami mengambil bahan dari boss tas (orang yang punya usaha di desa) kemudian menganyamnya dan menyetorkan hasilnya. Upahnya beragam, tergantung dari ukuran tas dan tingkat kerumitan. Dari Rp.150,00 sampai Rp.800,00. Dulu masih di kisaran angka itu, entah sekarang.

Di desa saya mayoritas penduduknya bisa membuat tas ini. Ada beberapa orang yang membuka usaha pembuatan tas ini dan langgeng sampai sekarang. Kalau main ke sana nanti saya tunjukkan, barangkali kamu mau belajar bikin juga atau mau kulakan buat dijual di kota. πŸ˜€

Hasil gambar untuk tas belanja pasar tas belanja pasar tas belanja pasar
sumber gambar: brilio(dot)net, kabarnya pernah ada bule cantik nge-mall pake tas ini

Sehari dapat berapa ? itu semua tergantung kecepatan tangan. πŸ˜€ Jadi, untuk ukuran anak kecil (saat itu saya SD) seperti saya, sudah lumayanlah sehari dapat lima tas paling kecil, upahnya Rp.500,00 bisa buat jajan lima kali. Hahaha. Biasanya saya curang, dapat satu tas saya minta dulu upahnya ke Ibu, padahal Ibu menyetorkan tas kalau sudah dapat minimal sepuluh tas. Jadi, Ibu yang nambeli.

Kedua : membantu Mbah saya. Membantu apa saja pokoknya yang dikasih upah. Ini agak maksa. Kebetulan Mbah saya dulu suka menganyam tikar, tikar dari daun mendong yang kecil-kecil dan panjang itu, atau tikar dari daun pandan. Tikar yang biasanya dibuat untuk orang meninggal. Jangan salah, menganyam tikar itu ada seninya sendiri. Dan saya suka menghancurkan tatanan anyaman, alhasil saya hanya sering dimarahi ketika niatnya  mau membantu. πŸ˜€

Gambar terkait
Tikar mendong

Jenis bantuan yang tidak menghasilkan uang adalah membantu Bapak, karena Bapak tidak sering memegang uang, jadilah saya sukarela kalau membantu Bapak. Tapi pekerjaan Bapak berat-berat, jadilah saya tidak sering membantu Bapak. Sukarela saya sedikit sekali, ya.

Ketiga : menjual kulit padi, atau yang lebih dikenal dengan nama brambut di desa saya. Untuk kegiatan ini saya lakukan ramai-ramai dengan kawan sepermainan. Padi yang selesai diselep, kulitnya akan terpisah dari berasnya. Kulitnya itu biasanya digunakan orang untuk bahan bakar di dapur. Dapur yang masih memakai tungku dari tanah. Sekarung dulu harganya Rp.200,00 tapi kalau yang nyari anak laki-laki, harganya bisa Rp.500,00. Karena apa, karena karungnya anak laki-laki lebih besar dan lebih berisi(padat). Kalau saya ya enggak kuat kalau berat-berat. πŸ˜€

Zaman saya kecil penggilingan padi masih ada satu saja di desa, belum ada penggilingan yang keliling seperti sekarang. Penggilingan yang masih memakai peralatan besar-besar, tangganya bisa berjalan seperti tangga berjalan yang ada di pusat perbelanjaan (eskalator maksudnya). Bedanya yang berjalan di atas sana karung padi, bukan manusia. Cerobongnya besar dan suara di dalamnya bising sekali. Kalaupun saya menangis dengan suara keras tidak akan bisa mengalahkan suara mesin penggilingan padi ini. Tahun 2000an ada iklan yang Bapak nyari jodoh buat anaknya terus bilang : bibit-bebet-bobotnya. Saya pasti tertawa dan teringat dengan pemilik penggilingan padi tersebut, beliau dipanggil Mbah Bibit. hihihi

Keempat : mengambil daun tembakau kering di sawah kami. Di musim-musim tertentu saya pernah pergi malam-malam ketika bulan sedang purnama bersama kawan-kawan sepermainan, kami pergi ke sawah mengambil daun tembakau kering untuk kemudian dikeringkan lagi dirumah dan dijual. Kenapa harus malam? Ya, itu ada hubunganya dengan kelembaban udara pokoknya. Dimana daun kering ketika malam hari akan lemas dan tidak keras. Sekilo daun tembakau kering, paling murah Rp.300,00.

Ini baru beberapa cerita, banyak cerita lainnya yang rasanya hanya saya lakukan seumur hidup sekali. Ya, kan masa kecil ga akan terulang. Tapi saya tidak menemui anak-anak di desa saya sekarang yang melakukan seperti apa yang saya dan kawan-kawan saya lakukan di masa kecil dulu.

Melakukan hal-hal begini dulu malah menyenangkan, saya bisa tetap bermain, karena perginya ramai-ramai dengan teman-teman tapi tetap dapat uang jajan. Di usia segitu, dapat uang dari hasil kerja sendiri itu rasanya menyenangkan sekali. Beda rasanya dari kalian lulus kuliah terus dapat pekerjaan dan diakhir bulan mendapat gaji. Saya sudah mengalami keduanya dan ternyata rasanya beda. Tapi dua-duanya pasti menimbulkan buncah kegembiraan di dada. πŸ˜€

Dewasa ini banyak saya temui teman-teman saya yang sudah mandiri entah sejak usia berapa. Beberapa diantaranya anak orang yang mampu, bahkan cukup dibilang sangat mampu untuk membiayainya kuliah dan biaya hidupnya di kota. Tapi karena prinsipnya yang kuat, dia kuliah sambil bekerja, bekerja apa saja, hingga dia bisa membayar uang kuliahnya sendiri dan tidak meminta dari orang tua. Meski orang tuanya tetap berbaik hati mengiriminya pundi-pundi rupiah setiap bulan. Mereka sungkan dan malu untuk terus meminta katanya. Saya salut sama mereka. Saya dulu jauh dari bisa seperti itu.

Kembali ke adik saya.

Biasanya kalau saya pulang ke Ngawi, saya berikan beberapa rupiah untuk adik saya sebelum saya kembali ke Surabaya. Mungkin juga jarang, tapi pernah. Dia juga sudah dapat uang saku sendiri dari Ibu, kalau dari saya cukup sebagai tambahan saja. Akhirnya, dia kalau butuh apa-apa minta ke saya, dia takut bilang ke Ibu dulu. Karena pasti kena marah. Alhasil saya yang bilang ke Ibu, kalau tidak mau ketiban rejeki saya yang kena marah karena memanjakannya dengan menuruti segala permintaannya.

Beberapa waktu yang lalu adik saya memasuki waktu liburan sekolah. Ibu saya sepertinya masih menerapkan aturan yang sama. πŸ˜€ Tidak ada uang saku ketika liburan sekolah. Adik saya mengirim pesan whatsapp ke saya dan meminta untuk dibelikan casing handphone. Ini benda yang rasanya tidak terlalu penting, tapi kalau dia ingin maka kali ini saya memberinya kesempatan untuk mengusahakan sendiri. Saya bilang ke dia untuk nabung sendiri dan nanti beli sendiri, pakai uang sendiri. Entah nabung dari uang saku sekolah atau dari mana.

β€œEntah gimana caramu pokoknya aku ga mau ngasih uang.”

Balas saya sambil mengirim emot ketawa jahat. Percakapan kami menjadi panjang dan penuh dengan emoticon menyebalkan dari dia. Akhirnya dia mengiyakan.

Dia mengiyakan pasti dengan wajah sebal. Dia sebal saya senang. πŸ˜€

Advertisements

66 thoughts on “Belajar Mandiri

    1. Saya mencontoh orang tua mbak. Hehe. Tp kadang kala saya mendapat julukan pelit dr adik saya.

      Hahaha. Jangan salah mbak. Rumah saya selalu ramai kalau saya pulang. Kami dua bersaudara yang berpotensi berantem bahkan ketika mau tidur pun. Tp itu menyenangkan, kadang malah saling cari gara2. Entahlah kami ini πŸ˜…

      Liked by 1 person

  1. Yeee.. mbaknya pelit euy. Tapi pendidikan model begitu, model ketika kita kecil dulu jangan sampai hilang ditelan masa. Boleh medianya berbeda (karena mungkin jaman udah jauh lebih maju) tetapi prinsip-prinsip mandiri, peduli terhadap sesama, teamwork, ketrampilan tangan (seperti halnya menganyam diatas), menanam, olah fisik, dan nilai adab agama harus tetap ditanamkan ke anak-anak jaman apapun.

    Liked by 1 person

  2. Kakak yang bijak…
    Adikku mana bisa gitu mbak ikha. Mintanya uang terus….. anak manja dia πŸ˜€
    Masih ingat pas sd dulu kalau mama lg nggak ada uang, bwanya 500 perak saja ke skolah.

    Liked by 1 person

    1. Ruri.. 500 perak itu sudah uang saku minimal kah?
      Jaman mbak SD dulu uang sakunya 100 pas kelas 1 malahan. πŸ˜€
      Tapi kita beda tahun jauh sih, ya.

      Hihi, gpp. Semoga nanti adiknya Ruri bisa jd ga manja, seiring waktu berjalan.

      Liked by 1 person

  3. Biarpun dia sebal tapi juga nantinya punya kesadaran sendiri, meskipun prosesnya nggak secepat yang dibayangkan. Tapi tak ada salahnya kan mulai memupuknya dari sekarang. Hehehe..

    Liked by 1 person

  4. Pantas saja energi hidup kak ikha nggak habis-habis. Dari kecil udah tau berbagai cara mencari uang rupanya wkwk. Btw kenapa temabakau kering itu mesti yang lemas kak? Kirain yang semangat lebih baik. Harganyapun yang ‘cuma’ Rp 300 itu murah sekali yak huhu

    Titip saam buat adiknya kak. Semoga sukses nambungnya. Kelak ia akan sama mandirinya dengan sang kakak. Oh ya, satu lagi. Semoga kapan-kapan proposal pengajuan dana yang berikutnya diterima sang kakak. Amin

    Liked by 1 person

    1. Wkwkwk. Hidup harus selalu semangat katanya, Del.
      Kalau daunnya kering (ini yg dimaksud bagian daun yang bawah sendiri, daun2 yg pertama tumbuh dn mengering di sawah) harus diambil pas lemas bahasa jawanya ayem, Del. Kalau ga gitu dia akan pecah dan hancur. Kalau sudah hancur ga bisa dijual.

      Kalau yang digunakan untuk rokok itu ngambil daunnya pas masih basah.

      Pergudangan tembakau jaman dulu ada sortir daun tembakau yang sudah dioven Del, dan untuk bisa disortir dia akan disiram/semprot dengan air dulu, agar daunnya lemas dan ga pecah. Nah, kalau malam hari kita memanfaatkan embun malam atau kelembaban udara malam.
      Iya, 300 itu murah sekali. Dan sepertinya sekarang sudah ga ada yang jual beli daun2 ini. Langsung mereka beli tembakau dr daun yg bagus.
      *ah, panjang ternyata jawabannya Del. Tp cerita lengkapnya bsa jd lebih panjang. πŸ˜…

      Iya nanti kusampaikan Del. πŸ˜„
      Terima kasih doanya.
      Hahaha. Amin.

      Like

  5. Wah …kerem masa kecilnya mbak Ikha
    dan betul anak-anak jaman sekarang tentu sudah amat jarang mengalaminya.
    Tentang Selepan padi …jadi mengingatkan masa kecil saya juga mbak, karena waktu masih SD sy sering ikut ibu saya menjaga selepan padi milik Om.

    Mengenai cara ibunda untuk ngajarin anak mencari uang jajan sendiri, ini pernah sy terapkan jg sama anak-anak, terutama jika mereka minta barang/mainan yg agak mahal, seperti sepeda atau beli sepatu yg agak mahal, biasanya sy suruh nabung dr uang jajannya dl nanti biasanya sebelum cukup saya tambahkan shg tdk terllau lama bisa membelinya. Yang penting sdh ada usaha mereka sendiri gitu. He he jd ikut cerita wk wk

    Liked by 1 person

    1. Iya Bunda, tempat yang jadi selepan padi sekarang sudah tidak ada juga, mesinnya sudah tidak ada. Waah Bunda pernah jaga selepan juga. πŸ™‚

      Bunda sepemikiran dengan Ibuk saya, dulu juga dibegitukan Bun, Hehe.
      Iya Bun, ndak papa, saya seneng denger cerita πŸ™‚
      Sekarang ternyata terasa efeknya pas sudah besar, cara orang tua didik saya dulu sampai pelajaran-pelajaran kecil lainnya.

      Liked by 1 person

      1. Eh komen belum selesai sdh terklik.

        btw, betul mbak Ikha seringkali didikan orang tua terasa manfaatnya setelah anak besar/dewasa.
        Wah …itu menganyam tas dan tikar asyik juga tuh mbak, sy baru tahu kalau desa mbak Ikha produsen tas anyaman dan tikar

        Liked by 1 person

      2. Tas anyaman banyak sekali di sini Bunda. Kalau Bunda mau. Dirumah ada banyak. Hehe.
        Dan lebih murah harganya. Yg besar bahkan cuma 5rb.
        Kalau tikar sudah jarang bunda, biasanya yg sudah sepuh2 yang nganyam tikar. Mbah saya sendiri sekarang sudah berhenti menganyam tikar.

        Liked by 1 person

      3. Upah anyamnya dibawah 1000 Bunda. Kisaran 500-1000 itu sekarng kalau ndak salah. Hehehe
        Ini yang agak kecil Bunda. Tidak besar2 banget. Inggih Bun, kalau main ke Jawa mampir saja πŸ˜€
        Bunda, saya komen di post bunda sepertinya masuk spam 😒

        Liked by 1 person

      4. Oh …. Ya Allah …kecil skl itu upah utk jaman skrg ya?
        In Sha Allah mbak Ikha. siapa tahu suatu saat sy kesasar sampai Madiun pasti sy hub mbak Ikha he he,

        Oh …iya nanti sy buka spam nya mbak, makasih ya, mf bt smpt buka blog lagi

        Liked by 1 person

      5. Iya Bun, hehe. Bunda itu tasnya bikinnya cepet kok Bun.
        Satu jam ga ada bisa dapet satu atau lebin kalau tangannya sdh lincah.
        Nggih Bun, ditunggu. Hehe

        Ndak papa Bunda. πŸ˜€

        Liked by 1 person

  6. Sama mba ikha, saya pun kalau liburan ndak diberi uang saku.
    Bedanya, saya tidak diperbolehkan mencari uang tambahan mbak, padahal niatnya cuma pengen cari pengalaman.

    Pas sudah kuliah malah sudah berani coba cari uang tambahan, karena kan ngekost dan orangtua ndak tauπŸ˜‚

    Btw, masa kecilnya mba ikha menyenangkan sekalii…

    Liked by 1 person

    1. Ndak papa Mbak, Alhamdulillah pas ngekos bisa sambil nyari uang ya Mbak. Yang penting ndak ganggu kuliahnya. πŸ˜€

      Iyakah Mbak.. hihi. Masa kecil Mbak Galuh gimna? πŸ˜…
      Oh ya, saya kok ga bisa follow balik ya Mbak. Alamat blog tidak ditemukan.

      Salam kenal Mbak Galuh 😊

      Like

  7. Mungkin selain di WA seperti itu, harusnya dikirim link post ini, sapa tahu adiknya terinspirasi bikin tas juga, atau lebih keren lagi, bikin pabrik koper kulit dan diekspor.

    Generally, nice. Saya suka cerita tentang perjuangan seperti ini. Awesome.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih sarannya Mas. Dia tahu alamat blog saya sih, tp belum tahu juga sudah berkunjung ke sini lagi atau belum. πŸ™‚

      Terima kasih sudah berkunjung. πŸ™

      Like

      1. Uda gede, kami beda 6th. Sekarang dia semester akhir S1 nya. Sekitar tahun lalu di pengen punya tab, alasannya lebih mobile dibanding laptop, butuh buat tugas kuliah. Tapi menurut saya sih ini bentuk kemewahan karena bukan kebutuhan pokok (dia uda punya laptop, cuma dia aja yang rada males).
        Jadi lalu dia nego ke saya, pinjem uang dan dia cicil dengan dipotong uang bulanan dia yang memang tiap bulan saya kirim.
        Kalo menurut saya bukan cuma dia yang sedang belajar manajemen diri dan keuangan, saya juga. Tab yang dipilih kurang oke menurut saya, tapi dibanding menghakimi, saya berhasil jadi kakak yang bijak (ciyeeeh hahaha). Waktu tab nya mulai ada masalah, saya tidak terjebak untuk mengeluarkan kata-kata “tuh kan…. apa kakak bilang?”, saya berhasil berkata “dioptimalkan ya apa yang km punya, itu pencapaianmu lho, coba kamu atasi”. Padahal sebenarnya kalo dia mengikuti benar-benar nasihat saya, dia akan punya tab yang lebih bagus dan tidak mudah bermasalah, saya merasa berhasil mengelola diri saya sambil mendewasakannya B-) hahahaa.

        Liked by 1 person

      2. Mudah-mudahan dari permasalahan tab itu bisa jadi pelajaran untuk dia, bisa mamanajemen keuangannya dengan baik, meskipun juga dipotong uang bulanan atau lainnya.
        Ah, selamat jadi kakak yang bijak mbak. semoga kita saling belajar sambil terus mendewasakan diri dan orang-orang sekitar. πŸ˜€

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s