Tari Orek-orek, Sebuah Persembahan dari Ibu Sri Widajati

sumber: komunitasrahayat

Saya suka melihat orang menari. Tari Saman salah satunya, dulu zaman SMA ada penari ala-ala gerakan Saman yang tampil setiap grup hadrah juga tampil. Bagi saya tari ini menarik karena gerakannya yang kompak, lincah, cepat dan memikat mata. Sambil sesekali khawatir gimana kalau ada yang salah pas di tengah tarian. Sewaktu kemarin mengomentari penjelasan Arin/Rissaid terkait tari Saman. Bahwa tari Saman sejatinya untuk laki-laki sedangkan untuk perempuan adalah Ratoeh Jaroeh. Diikuti beberapa video tarian Ratoeh Jaroeh. Saya mendapat pertanyaan, “Mbak Ikha pernah nyoba ikut nari?”

Kira-kira kebayang tidak kalau saya bisa nari? Percaya kalau saya bisa nari? Percaya saja ya. Yap, saya pernah latihan menari dan saya bisa menari. Tari Orek-orek namanya. Tari ini menjadi satu-satunya tarian daerah yang saya bisa. Begini cerita singkatnya.

Pada zaman dahulu…

Saya duduk di kelas VI SD, sebulan sebelum hari kemerdekaan beberapa murid perempuan di kelas ditunjuk untuk ikut partisipasi menari Orek-orek di acara 17 Agustus nanti. Menjelang peringatan hari kemerdekaan banyak acara dan lomba-lomba diselenggarakan memang. Mulai dari lomba senam Poco-poco, cerdas cermat, baca puisi, menyanyi sampai jalan sehat. Nah, tarian Orek-orek ini diikutsertakan dalam kelompok jalan sehat. Padahal ya, tahu ga sih? Jalan sehatnya itu jam 12 siang. Wkwkwk. Beneran sehat kan, keringat mengucur deras karena panas dan gerah. Terus paling depan bawa spanduk bertuliskan, “Men sana in corpore sano”. Kalimat ini adalah senjata guru olahraga, diucapkan kalau kami sudah terlihat capek.

Kembali ke cerita Orek-orek. Akhirnya saya dan teman-teman latihan tari itu selama sebulan, setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Atau siang satu jam menjelang pulang sekolah. Waktu itu tari ini belum seterkenal sekarang. Emang sekarang terkenal? iya. Ka..yaknya…Hahaha. Lagu yang dipakai pun masih terbatas kasetnya. Kami berlatih dengan tape recorder yang kasetnya masih kaset pita dan kasetnya hanya satu untuk dua SD. Jadi kalau kami latihan pagi, SD desa sebelah akan latihan siang dan sebaliknya. Pernah akhirnya waktu itu kami latihan bersama. Entah waktu itu belum ditemukan yang mau menggandakan kaset lagu ini atau bagaimana, saya kurang tahu. Kami menari diajari oleh Bu Marinah bergantian dengan Bu Parni. Sekarang rasanya belajar dari youtube dan nyetel MP3 sendiri saja bisa, dulu semua itu masih jauh dari jangkauan.

Tari ini menurut saya tidak susah untuk dipelajari, asal hapal nama gerakannya saja bisa. Heuheu, sombong. Tidak sih, cukup susah untuk saya yang waktu itu tidak pernah menari sama sekali. Apalagi gerakannya yang harus melemaskan gerakan tangan, kepala dan menyelaraskan dengan langkah kaki, dipadukan dengan kibasan sampur yang manis. Aduh, jadi pengen nari, kan.

Gerakan yang paling saya ingat adalah gerakan yang dinamai ‘mususi beras’, atau bahasa Indonesianya mencuci beras. Saya berpikir mungkin nama Orek-orek ini diambil dari suara orang mususi beras di tumbu, rek…orek..rek..orek..rek..orek..srok..srok. Srok adalah bunyi beras dikocok setelah dikorek lagi. Begitu berulang kali kemudian diguyur dengan air, diulangi sampai tiga atau empat kali sampai dirasa beras cukup bersih. Katanya kalau dikorek sampai airnya putih bening zat gizinya banyak yang terbuang. Jadi, orang mencuci beras di tempat saya ada iramanya sendiri. Saya suka mendengarnya sewaktu pagi, suara beras ditapeni di tampah kemudian dicuci. Itu alarm alami dirumah.

Tapi ternyata salah, Orek-orek sendiri pengertian secara etimologinya adalah kesenian tradisional berupa tarian pergaulan yang merupakan perpaduan antara gerak tari dan nyanyian, kemudian diiringi tetabuhan yang cara memukulnya salah satunya dengan dikorek. Tari ini ada sejak tahun 1980, yang akhirnya tumbuh berkembang di masyarakat dan membuat Ngawi dijuluki dengan bumi Orek-orek. Tari ini ditarikan oleh laki-laki dan perempuan berpasangan antara 4-10 orang. Namun tak jarang juga hanya ditarikan oleh perempuan.

Tari yang melegenda ini tentunya tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia kala itu.

Tari orek-orek menggambarkan kegembiraan pemuda-pemudi setelah melakukan kerja rodi yang di perintahkan oleh pemerintah zaman Belanda di Ambarawa. Saat itu pemuda Ngawi di paksa untuk membangun sebuah jembatan mulai dari Anyer sampai Panarukan. Tidak hanya Pemuda Ngawi saja yang di paksa untuk melakukan kerja rodi, namun juga banyak pemuda dari daerah lain. Setelah bekerja mereka melakukan berbagai pertunjukan seperti bermain ketoprak, ludruk dan menari bersama sebagai hiburan untuk melepas rasa lelah.Pada saat itu tari orek-orek belum tercipta, hanya saja nama Orek-orek sudah ada sejak dulu dikarenakan pemerintah belanda mengatakan” ini morak-marik bagus” kenapa disebut morak-marik ? hal tersebut dikarenakan asal pekerja rodi tersebut berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Karena lidah orang yang berbeda maka morak-marik menjadi morat-marit kemudian menjadi orek-orek.

Sejak kecil bu Sri Widajati suka melihat kesenian rakyat tersebut, sehingga pada tahun 1980-an bu Sri menciptakan tari Orek-orek sebagai tarian Khas Kabupaten Ngawi. Dengan tatanan gerak sederhana yang dan dinamis tari Orek-orek mampu berkembang hingga sekarang. (Komunitasrahayat, 2016)

Ibu Sri Widajati sendiri adalah pemilik sanggar Sri Budoyo. Tari ini pernah memecahkan rekor MURI tahun 2014 dengan penari sebanyak 15.124 dari SD-Mahasiswa yang digelar di alun-alun Merdeka Kabupaten Ngawi. Penari yang berbusana jarik, berbaju seragam lengan hitam panjang ditambah emblem merah dipundaknya terlihat membanjiri pusat kota Ngawi. Saat itu sekaligus memperingati HUT RI ke 69 dan Hari Jadi PemKab Ngawi ke-656.

Bisa dilihat di video ini:

Adik saya sempat ikut di pentas itu, waktu dia kelas VI SD. Entah dia berada dibarisan sebelah mana. 😀

Sebagaimana tercermin dari pakaian penari Orek-orek ini yang sederhana dan sopan, lagu yang dinyanyikan untuk mengiringi tari ini pun menceritakan tentang kesederhanaan hidup. Berikut lirik dan arti lagu Orek-orek sendiri.

“Orek-orek puniki kesenian saking Ngawi Promiarso kakung putri,
wit kino nganti saiki Aduh gusti mugi mugi antuk berkahing Hyang Widi
E o e ya eyo eya eyo E o e ya eyo eya eyo
Kagungan langen beksa mawih luhuring budhaya Yo pro konco amakaryo,
dimeh lestari widodo Tuwo mudo gotong royong saiyek saeko proyo
E o e ya eyo eya eyo E o e ya eyo eya eyo
Nadyan among sapala, rasane kok miroso Gawe lipuring wardoyo Ayem tentrem kang pinagyo,
awit iku Kabudayan tinular e pro pujangga
E o e ya eyo eya eyo E o e ya eyo eya eyo ”

Arti lirik lagu Orek-orek :

Tari orek-orek asli Ngawi Terlahir atau tercipta sejak jaman dulu Semoga tetap lestari dan mendapat berkah Tuhan
Tari Orek-orek bisa dinikmati dalam bentuk tayub atau langen bekso yang menggambarkan kerukunan dan persatuan antara pemuda dan orang tua
Iringan tari Orek sebenarnya memang sederhana Namun mengandung nilai rasa yang tinggi dan dapat menghibur masyarakat Tari Orek-orek di ciptakan seniman sesepuh pada jaman dahulu Dalam bentuktari pergaulan
Dari lirik iringan tari orek-orek tersebut sangat menggambarkan bahwa tari orek-orek sebenarnya merupakan tarian rakyat yang mempunyai pesan moral bahwa dengan kesederhanaan akan mampu menciptakan suatu perdamaian dan tari orek-orek lebih mengutamakan nilai-nilai persatuan antar sesama.

*sebagian sumber informasi dikutip dari blog : http://komunitasrahayat.blogspot.co.id

Advertisements

42 thoughts on “Tari Orek-orek, Sebuah Persembahan dari Ibu Sri Widajati

  1. Waa Mbak Ikha suka nari 😏😏 Saya pun, saya pun. Pas SD tapi, tari ngremo, pakai selendang gitu 😀😀

    Belum pernah lihat tari orek-orek sih, tapi kalo dari jatim sukaaaaaak banget sama pertunjukkan reog 😍😍

    Liked by 1 person

    1. Asyiik. Mbak Mulya ngremo. Seru pasti. 😍 Sekarang masih hafal mbak?

      Reog is Ponorogo punyaa. Saya sukaa juga sama Reog. Beberapa kali sempat liat pas ke Ponorogo. Waktu itu ada pertunjukan dari komunitas reog di kampung-kampung.

      Like

      1. tari merak khas jawa barat mbak, nginet itu jadi pengen ketawa karena dulu harus di make-up sedangkan aku rewel ngga mau di make-up, jadi deh polos dikit haha

        Liked by 1 person

      2. Waah tari ini seragamnya cantik, warna warni, menggambarkan merak aslinya. 😍
        Wkwkwk… ternyata dari kecil kamu udah ga mau dimake up ya. Good. 🙂

        Like

    1. Lah Uda, emang tulisan ini bukan tutorial nari. Kalau orang baca tulisan ini terus bisa nari, lain kali aku nulis tentang makanan agar orang setelah baca jadi kenyang dan ga kelaparan 😅😅😅

      Like

  2. Kak Ikha luwes ya sampai bisa nari, aku megang sampur aja kaku banget walhasil nilai tari waktu SMA di bawah rata-rata 😂

    Sampai sekarang masih suka nari orek-orek sendiri nggak kak kalau ada waktu? 😂

    Liked by 1 person

    1. Dulu luwes Za… sekarang entah, belum nyoba lagi sejak lama. Aku SMP malah pindah ke kesenian musik pukul (drum band) jadi ga melatih keluwesan sama sekali.
      😂

      Wkwkkw. Enggak Za, ga ada yang nonton. Ga seru nari sendiri. 😆
      Kalau ketemu nari sama kamu aja gimana? 😜

      Like

    1. Iyaa mbak, penari kelas SD.
      Hahaha.
      Latihannya per sekolah mbak, jadi masing2 sekolah ngadakan latihan untuk murid-muridnya sampai mahir.
      Iya, pas hari h nya rame banget alun-alunnya… 😀

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s