Jogja, Saya Mengunjungimu

Jogja itu kota yang romantis. Entah di sana hujan atau mendung, tetap saja terasa romantis. Kalau main ke Jogja, rasanya tak ingin melewatkan malam sambil terpejam. Inginnya terjaga sampai pagi menyapa kembali.

(Diadaptasi dari pernyataan Liya, bahwa dia tidak ingin tidur ketika Jogja menemui malam)

*

Beberapa waktu yang lalu, saya main ke Jogjakarta. Main kilat. Saya berangkat dari terminal lama Ngawi pukul 09.00 dan tiba di Prambanan sekitar pukul 13.00. Saya pergi dengan ketiga kawan saya. Liya dan sepasang pengantin baru, namanya Mbk Nina dan bang Samsuar. Pengantin baru itu adalah seorang yang berasal dari Aceh dan gadis jawa yang bertemu di Malaisya. Mereka berdua ini hendak berbulan madu. Sebagai orang Aceh yang belum pernah kemana-mana, Bang Samsuar ini sangat asing dengan kota-kota di pulau Jawa. Tugas saya dan Liya hanya mengantarkan mereka berdua ke pintu loket tiket masuk Prambanan. Kita berpisah di depan pintu masuk, dan berjanji akan bertemu lagi besok sorenya di Taman Pintar Jogja.

Selesai mengantar pengantin baru, kami-saya dan Liya- masuk ke pasar yang ada di pintu keluar Prambanan. Niatnya hanya membeli es jeruk, ternyata malah merembet membeli vespa. Dasar wanita. hahaha. Liya keluar dari pasar menenteng miniatur vespa dan miniatur prambanan yang dibingkai dengan pigura dari karton. Saya? Tidak membeli apa-apa.

P_20180127_141447
pasar oleh-oleh Prambanan

Masuk pasar yang saya amati adalah desain-desain tas rajut beserta bahan yang digunakan, sambil sekali dua kali menanyakan harganya. Siapa tahu nanti saya bisa bikin tas rajut banyak terus dijual. Amin. Tapi, tas rajut di Jogja murah-murah dibandingkan di Kaboki. Ya iyalah. Hehehe.

Dari Prambanan saya dan Liya naik trans Jogja menuju tempat yang menjadi tujuan utama Liya. Yaitu, kafe Basabasi. Jadi, sebenarnya saya main ke Jogja kali ini misi utamanya adalah menemani Liya ke kafe Basabasi. Tapi, misi yang paling utama adalah saya kangen Jogja.

Ketika Buku Dibicarakan

Liya adalah anggota klub baca buku Basabasi. Sore itu agenda klub itu adalah mereview secara lisan buku Mas Eko Triono yang berjudul: Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini, yang mana Mas Eko berada disitu juga. Mereka duduk melingkar dan satu persatu memberikan review dari apa yang sudah mereka baca. Forum ini benar-benar menarik perhatian saya. Rasanya pengen datang ke Jogja sebulan sekali buat menyimak, tapi Surabaya-Jogjakarta itu jauh. Terus kenapa saya ga cari komunitas begini yang di Surabaya saja ya? Hehe

IMG-20180208-WA0018.jpg
Mas Eko sedang menjawab banyak pertanyaan

Oleh Liya saya dipinjami buku kumcernya Mas Eko ini, tapi saya keburu tahu banyak tentang gambaran isinya dan bayangan apa yang dialami oleh teman-teman setelah membaca buku ini. Meski banyak dibahas, tapi tentu tidak semua dijabarkan dalam forum ini. Baiklah, nanti saya baca. Setelah sampai Surabaya saya membuka buku itu tepat di halaman 149. Atirec Malad Mukuh Kilabret, ini judulnya. Kira-kira ada yang membayangkan gimana isinya? Ya, di halaman itu semua kata-katanya terbalik. πŸ˜€

p_20180209_201035.jpg

Selesai diskusi buku kami sempat makan dulu di kafe Basabasi dan setelahnya ngobrol sejenak. Liya mengenalkan saya dengan beberapa kawannya, mereka ini dari berbagai kalangan. Jujur awalnya saya takut tidak bisa membawa diri (saya orangnya sering tidak bisa memulai percakapan) dan menyesuaikan obrolan dengan mereka, tapi ternyata tidak begitu. Mereka ramah-ramah dan asyik. Obrolan yang ada pun beragam, mulai dari hal teknik, teori pawang hujan sampai sejarah dan filsafat. Harus saya akui, mereka ini teman-teman bertukar pikiran yang menyenangkan.

IMG_20180127_201621.jpg

Liya terima kasih, saya senang berkenalan dengan semuanya. (dari kanan ke kiri) [1] Mas Reza Nufa, yang akrab di sapa Bang Eja. Penulis yang suka naik gunung ini ramah dan baik hati meski belum mandi (dia sendiri yang bilang). Saya sering baca cerpen beliau di blognya, dan kini bertemu dengan orangnya langsung. Senang. [2] Mas Wawan, yang lebih banyak bercerita dan ngakunya lebih terkenal dari A.S. Rosyid (Bang Ical) serta penulis-penulis buku lainnya, ini karena saya dulu sempat beli bukunya Bang Ical dan Mas Wawan masih ingat. Padahal sudah lama sekali. Jiwa marketing banget, kan! [3] Oliv yang menyenangkan, thanks udah difotoin. Wkwkwk. [4] Mas Jun yang meminta saya menebak dia orang mana, tapi saya disalahin terus. [5] Mas Isnaini yang hobby bikin lagu dari bukunya teman-teman, kemarin dia menyanyikan lagu yang dibikin dari buku Mas Eko Triono. [6] Liya [7] Saya. [8] Mas samping saya yang saya lupa namanya, tapi jurusannya pertanian padahal pengen di komputer katanya, satu pertanyaannya yang belum sempat saya jawab karena saya belum menemukan jawabannya. Terima kasih sudah mengingatkan untuk belajar bisnis. [9] Mas Febri, seorang mahasiswa sejarah yang ngerti banyak hal tentang teknik, bahkan sampe perihal kepadatan iron, steel dan baja. [10] Dan mas-mas belakang itu saya belum sempat kenalan, aslinya beliau lagi makan terus diajakin foto.

Condongcatur dan Nyasarnya Kami

Kami menginap di kos-an Ainun, di daerah jalan Kemuning-Condongcatur. Naik ojek online dan kami kesasar. Ternyata jalan Kemuning di Condongcatur itu ada dua, dan yang kami tuju harusnya jalan Kemuning yang ada di belakang Polda. Kami cukup lama berputar-putar di jalan Kemuning yang satunya ini. Hingga Ainun memberikan arahan yang jelas dan Liya mengingat dengan baik jalan sekitar kos-an Ainun. Ainun baru saja pulang dari jalan-jalan di malam minggu waktu saya dan Liya sampai di sana.

P_20180128_074907.jpg
Kos kuning itu kosnya Ainun

Ainun ini orang yang suka bertanam-tanam, paginya saya lihat ada pot kaktus berbunga kuning di depan kamar. Kaktusnya cantik sekali, dan di dalam kamar mandinya ada juga tanaman lidah buaya. Sip, bulan depan saya mau bawa tanaman ke kos. Nyontoh Ainun. πŸ˜€

Suasana kos Ainun nyaman sekali, di sekitar kos masih banyak rumah-rumah warga yang tampak seperti perumahan jaman dahulu, joglo. Halamannya yang luas, dikelilingi pagar tanaman yang dipangkas rapi. Dinding, pintu dan jendelanya masih terbuat dari kayu jati.

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Taman Sari, sebelum itu saya dan Liya sarapan soto kuali di daerah Condongcatur. Sotonya rasanya khas, konon katanya soto Solo dan Jogja memang bening. Kuahnya bening ada aroma rempah-rempah yang menguar tiap kali asap mengepul dari mangkuk. Harganya juga murah. Jauh jika dibandingkan di Surabaya. Dua mangkuk soto, dua gelas jeruk anget, rempeyek dan dua gorengan tempe, kami membayar dengan harga Rp.20.000,-. Kalau di Surabaya itu dapat Soto Lamongan dua mangkuk saja.

P_20180128_080433.jpg
pengen ga?

Jalan Kaki dari Taman Sari hingga ke Tugu Jogja

Kami naik bus trans Jogja dari Condongcatur menuju daerah Taman Sari. Tiket masuk ke Taman Sari perorang Rp.5.000,-. Barangkali sudah banyak yang tahu Taman Sari itu tempat apa. Iya, Taman Sari adalah situs bersejarah bagian dari keraton Ngayogyakarta, yang mana dulu merupakan kebun istana. Konon katanya Taman Sari ini terdiri dari 57 bangunan di tanah seluas 10 hektar. Dua lokasi yang saya kunjungi kemarin adalah kolam pemandian dan masjid bawah tanah. Meski sudah tidak digunakan, kolam pemandian ini airnya jernih sekali, tempat para permaisuri dan selir Raja mandi. Di samping kanan dan kiri kolam pemandian terdapat bangunan yang katanya berfungsi sebagai tempat mengganti pakaian dan tempat istirahat. Waktu melihat dari luar, saya berpikir bahwa bangunan ini sedikit pengap, ternyata tidak. Ketika masuk di dalamnya hawanya adem.

P_20180128_104808.jpg
Pengen nyebur kolam ga ?

Pintu-pintu yang ada di ruangan ini terlihat rendah, bukan berarti orang dahulu tidak seberapa tinggi, namun ternyata pintu sengaja dibuat rendah untuk mengajarkan sopan santun, agar kepala kita merunduk dan sopan ketika memasuki ruangan.

P_20180128_105347
pintu yang rendah
P_20180128_103709
ruang ganti

Dari kolam pemandian menuju masjid bawah tanah, kami melewati rumah-rumah warga. Entah sejak kapan Taman Sari mulai dihuni warga masyarakat sehingga di sela-sela bangunan sejarah berjejalan rumah penduduk sekitar. Beruntungnya kamu bisa menemukan es atau jus jika haus karena lelah berjalan dari kolam pemandian sampai ke pintu keluar, jalannya lumayan panjang.

Masuk ke bangunan yang tampak dari luar seperti lingkaran besar, saya kira awalnya itu adalah penjara, ternyata masjid. Masjid ini berbentuk lingkaran. Dengan atapnya terbuka bagian atasnya, tepat di atas ada sumur yang sekarang sudah ditutup. Tangga yang ada di atas Sumur Gumuling itu menjadi spot foto yang cukup menarik, banyak yang antre. Di lantai bertama di sebelah barat sumur terdapat tempat imam. Naik ke lantai dua (saya kira) di posisi yang lurus dengan tempat imam dibawah, terdapat tempat imam juga. Saya tidak tahu, kenapa dalam satu bangunan masjid ada dua tempat untuk imam. Di lantai 2 ini, terdapat satu ruang yang agak naik, saya kira itu sebuah tangga menuju ke atas bangunan lagi, tampak gelap, lebarnya mirip tempat imam tadi. Saya menghitung berulang kali waktu mau masuk, sampe membaca bismillah dan menyalakan senter, ternyata… itu TOILET. Toilet jongkok yang ada penutupnya setinggi setengah meter berbentuk lingkaran tak penuh.

Masuk ke masjid ini mungkin rasanya agak gimana gitu bagi saya. Senyap ditengah-tengah keramaian. Sekaligus jalan masuknya agak remang-remang, sampai kaki saya harus meraba anak tangga waktu jalanan menurun. Lampu tidak menyala dan Jogja sedang mendung. Liya sempat membisiki saya bahwa dia mendengar suara Azan keras sekali ketika sampai di lantai pertama. Sesaat setelah kami duduk selonjoran belakang tempat imam. Kami duduk di pintu dekat bibir Sumur Gumuling. Sebisa mungkin saya mencoba biasa saja karena saya tidak mendengar apa-apa. Dan Azan Dhuhur baru berkumandang ketika kami keluar dari masjid bawah tanah ini, padahal kami cukup lama berada di dalam, sekitar 30 menit. Lalu, itu tadi apa yang didengar Liya?

Selesai dari Taman Sari kami berjalan kaki menuju Masjid Gede Kauman. Sholat dan beristirahat di sana sampai sore. Dilanjutkan berjalan kaki sampai Taman Pintar bertemu dengan Mbk Nina dan suaminya. Dari Taman Pintar kami berjalan-jalan sore menuju Nol Kilometer Jogja. Di sana saya menemukan ATM BNI yang masih mengeluarkan uang dengan pecahan kecil, Rp.20.000,-. Saya senang sekali, saya dengar ATM pecahan kecil ini sudah ditutup ternyata masih ada di Jogja, di Surabaya saya belum menemukan sama sekali. Atau memang tidak ada?

Dari Nol Km Jogja, kami berjalan menyusuri jalanan Malioboro hingga ke Tugu. Tugu Jogja lo ya, bukan stasiun Tugu. Huaah, lumayan jauh, tapi menyenangkan. Diselingi dengan angin sore, pertunjukan angklung di trotoar Malioboro, ramainya orang berbelanja dan lalu lalang, gerimis sampai hujan yang cukup deras.

Kata Liya, belum ke Jogja kalau belum berfoto di Tugu. Giliran mau berfoto hujan turun semakin deras, akhirnya kami memutuskan pulang.

P_20180128_190027

Sampai jumpa kapan-kapan lagi Jogja. Terima kasih panasnya, mendungnya, dinginnya, gerahnya, langit birunya, awan-awan putihnya yang seperti bulu angsa diterbangkan, langit kelabunya, gerimisnya, dan hujan derasnya. Saya menikmati semuanya.

Advertisements

71 thoughts on “Jogja, Saya Mengunjungimu

  1. ya ampun kak ikha ikut serta di kegiatan klub baca basabasi yang itu tho. aku bahkan sampai nonton video di youtube, kak ikha ternyata ada di antara mereka.😱
    seru banget.
    Seru banget!!!

    Liked by 2 people

    1. Iyaa Au, di ajak temenku pas itu. Dia yg anak klub baca. Aku hanya nemenin, sekalian main ke jogja.
      Wew.. sampe nonton dia. Hahaha. Iyaa seruu, ada aku yg lagi nyempil di sana. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      Like

      1. Wkwkkq. Aku tidak menemukan kata yg tepat Au.

        Jauh dibentang jarak
        Riuh rindu beranak
        Berdesak-desak
        Jogja menanti kau jejak.

        Begini saja kali yaaaa πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

        Like

    1. Iyaa Masjid Mbak Ve. Aku malah ngiranya penjara pas dr luar. Jendelanya tinggi2.
      Hehehe. Nah, siapalah itu yg adzan. Aku ga denger soalnya, orang2 tertentu yg denger. 😦

      Like

    1. Entahlaah mbak.. hehe. Mungkin suara dari dunia sebelah.
      Aduh, maafkan. Begitulah kalau pos makanan, takut bkin yg baca kepengen.
      Nah, besok masak soto mbaak.. biar ga pengen πŸ˜†πŸ˜†

      Liked by 1 person

  2. Setidaknya ada tiga yang bikin kaget di tulisan ini:
    1. Kaget banget bacanya pas bilang tiba2 beli vespa padahal nggak niat beli apa2. Ternyata bukan vespa beneran πŸ˜‚πŸ˜‚

    2. Tamansari tanahnya ternyata luas banget yaa. Sampai 10 hektar huhu. Selama ini cuma tau pemandiannya aja.

    3. AZANNYA SIAAPAAA ITTUUU πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Ini aku jawabnya mesti pake angka urutan juga ga, nanti disalahin ga kalau ada penghitungan statistik. πŸ˜‚

      1. Wkwkkq. Iyaaa, vespa miniatur.

      2. Luaaas Fadeel. Aku juga baru tahu pas ke sana kemarin. Barangkali yang paling terkenal pemandiannya itu karena dekat pintu masuk. Ada yg bilang zaman dulu tamansari itu semacam KRBnya keraton.

      3. TIDAK TAHUUU πŸ™‰πŸ™‰πŸ™‰πŸ˜‚

      Like

  3. Kafe basabasi! Deket dari Kosan, setiap mau kesana pasti lagi rame. Atau memang rame terus kali, ya?

    Btw, mba ikha dan mba Liya kuat banget jalan-jalannya. Dan, niat banget, Hehe..

    Liked by 1 person

    1. Waaah mbak Galuh di Jogja juga ternyataa. Banyak banget bloger yg dr Jogja yaa. Hehe
      Iya Mbak, kalau aku merhatiin selalu rame. Pada nongkrong atau ngerjakan tugas gt kalau hari biasa.

      Mbak tgl 3 ada acara di sana, kali aja mau ikutan.

      Iyaa. Hehe. Jauh banget yaa. πŸ˜†πŸ˜†

      Like

    1. πŸ˜‚πŸ˜‚ beneraaan. Wkwkwk.
      Dari Taman Sari, ke masjid gede, ke taman pintar, ke malioboro, ke tugu semuanya jalan kaki.
      Besoknya sampe Surabaya kakinya kayak habis naik gunung mbak πŸ˜‚

      Like

      1. Ya ampun, bahkan dari taman sari, Mbak? Gempor deh pasti kakinya πŸ˜€
        Kalau di gunung mending, Mbak, sejuk, hawanya enak. Nah, kalau di sepanjang Malioboro? Pasti udah kayak dipanggang matahari πŸ˜€

        Liked by 1 person

      2. gempor bangeet. wkwkkwk
        panasnya pas sampa malioboro, habis gitu kan berteduh di taman pintar, baru sorenya jalan lagi. Lumayan, membakar kalori banyak mbk. πŸ˜€

        Liked by 1 person

  4. Jogja selalu punya cerita πŸ˜† dua tahun lalu aku pernah main ke Taman Sari bareng temen kos. Tapi sayangnya kolamnya lg di kuras jadi nggak ada airnya 😒 ga bisa buat foto yg instagramable haha. Btw Ikha keren deh kemana-mananya jalan kaki. Coba kalau aku, mesti minta naik bus atau ojek πŸ˜†

    Liked by 1 person

    1. Yah, ga bisa ambil foto di kolam ya mbk Destin. 😦 haha, iya kolamnya instagramable bangeet.
      hehehe, kayaknya kebiasaan sejak kecil ini mbk, terlalu banyak jalan kaki. πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s