Ima dan Cerita Tentang Jogja

Hai, Ima.

Adikku yang lainnya, yang sedang berada di Jogja. Feelingku kamu sehat. Dan semoga memang dalam keadaan sehat. πŸ˜‰

Ima, suratku kali ini terbuka, tidak lewat email seperti biasanya. Aku meminta maaf, karena belum bisa membalas emailmu sebelumnya. Pekan ini aku kedatangan sahabatku dari Lamongan, namanya Dya. Seorang guru di SMK Muhammadiyah di Ngimbang. Kami sedang dalam perjalanan ke Probolinggo ketika postingan ini sampai di berandamu. Kami akan menghadiri pernikahan kawan baik kami berdua, April namanya.

Ima suatu ketika kamu bertanya, dalam rencana apa aku kemarin main ke Jogja? Aku yang mengabari lewat email kala itu memang sangat mendadak, hingga akhirnya kita belum bisa bertemu. Maka biarkan kali ini aku bercerita sedikit, tentang tiga kota di Jawa yang selama ini telah merebut hatiku.

Aku lahir dan besar di Ngawi Ima, sebuah kota kecil yang tidak banyak orang luar tahu. Kota di perbatasan memang, tepat sebelum kamu meninggalkan Jawa Timur ketika hendak ke Jawa Tengah lewat jalur provinsi bagian selatan. Di sanalah Ngawi berada. Kota yang banyak pohon bambunya, karena Ngawi sendiri berasal dari kata Awi yang artinya bambu. Kota keripik tempe, karena memang oleh-oleh khasnya salah satunya adalah keripik tempe, ada sentranya didaerah Prandon . Bumi Orek-orek, karena tarian itu tarian khas daerah Ngawi. Kota ini adalah kota yang selalu menjadi tempatku pulang, Ima. Aku nyaman berada di sana, dan aku belum menemui kota lainnya untuk kujadikan tempat pulang kedua. Namun, aku punya tiga kota yang selalu kurindu, Ima. Salah satunya adalah Jogja.

Aku jatuh cinta dengan Jogja kali pertama waktu aku tamasya ke sana, tahun 2001. Aku menyukai Jogja ketika pertama kali menginjak tanahnya. Menyukai udaranya, suasananya, langitnya, aku suka semuanya. Mungkin Jogja yang kukenal di tahun 2001 samar-samar diingatanku, dan keadaannya jauh berbeda dari sekarang, tapi bisa kupastikan sejak saat itu aku menyukai Jogja sampai sekarang. Dan dulu berniat menjadikannya tempat untuk kutuju suatu ketika nanti.

Lalu kunjungan keduaku ke Jogja tanggal 27 Mei tahun 2006. Kamu ingat tanggal itu? Tanggal itu adalah tanggal dimana Jogja mengalami gempa. Gempa yang merubuhkan banyak rumah dan gedung perkantoran itu terjadi saat bus kami mendekati kota Jogja. Akhirnya bus pariwisata sekolah kami kembali, terpaksa kembali lebih tepatnya dan kami bertamasya di daerah Solo dan sekitarnya.

Setelah kunjungan itu aku lama tidak pergi ke Jogja, baru tahun 2014 sekitar bulan Januari, dan itupun juga kunjungan yang singkat, Ima. Dan terakhir bulan kemarin. Maka, bisa kukatakan bahwa aku bermain ke Jogja adalah memenuhi rindu pada kota itu. Selain merefresh pikiran dari hal-hal yang selama ini banyak menjemukan.

Dua kota lainnya adalah Malang dan Bandung. Aku belum pernah ke Bandung Ima, tapi aku sudah pernah kangen dengan kota itu. Dulu, kakak kelasku banyak yang kuliah di sana. Banyak cerita tentang Bandung aku dapati dari mereka. Seperti ada rasa yang bergerak menuju hatiku, hingga akhirnya aku meletakkan nama Bandung disalah satu petaknya. Aku sempat mendaftarkan diri di salah satu kampus di sana, tapi belum rejeki. Meskipun begitu, suatu saat aku ingin mengunjungi kota kembang itu. Setidaknya sekali seumur hidup, mungkin.

Dan Malang adalah kota yang dulu selalu aku aminkan agar aku ketrima kuliah dan tinggal di sana. Pada dasarnya aku suka kota yang dingin Ima. Dingin, sejuk dan udaranya segar. Aku menyukai Malang entah sejak kapan, mungkin sejak Bu Gunarti, guru bahasa inggrisku zaman madrasah, bercerita tentang kota tinggalnya. Aku cukup sering ke Malang, tiga kali diantaranya untuk kopdar dengan kawan bloger. Aku belum cerita ya, Ima? Lain kali akan aku ceritakan, insyaAllah. Malang yang aku kenal ditahun 2010 tentu sedikit berbeda dengan tahun 2017, tapi aku tetap menyukainya.

Rasanya seperti bagaimana kamu bisa menyukai seseorang lewat tulisan-tulisannya, tulisan tentangnya, dan segala cerita tentangnya, meskipun kamu belum pernah bertemu dengan orang itu. Seperti ada radar yang kamu tangkap dan kamu terperangkap dalam imaji dan rasa suka yang kamu pelihara di dalam diri. Kamu jadi rindu dia pada suatu ketika. Rindu sebelum bertemu, apakah itu ada? Ada. Banyak, Ima.

Nah, seperti itulah awalnya aku menyukai kota-kota itu dahulu, Ima.

Dan Surabaya adalah kota yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya untuk aku tinggal cukup lama di tanahnya. 7 tahun cukuplah lama dan kini menjelang 8. Hahaha.

Ima, adakah kamu mempunyai juga kota yang ingin kamu tuju? Atau barangkali pulau? Kamu boleh menjawabnya, sempilkan diantara email balasanmu. πŸ˜‰

Ima, kiranya cukup sekian suratku kali ini. Segera akan kubalas email darimu. Semoga Jogja cuacanya baik hari ini. 😊

Dari sahabatmu yang sedang kepengen makan pempek Palembang.

Surabaya, Februari 2018 || ikha.

Advertisements

44 thoughts on “Ima dan Cerita Tentang Jogja

    1. Kotanya.. gimana ya, ya seperti itu Mas Des. Hehe. Kalau ke Jawa semoga bisa mampir Mas Des.
      Yang jelas lebih dinging dibanding Surabaya Mas Des.. πŸ˜€ Surabaya panas banget.

      Iya Mas Des, dia bloger juga.

      Like

  1. Duh senangnya jadi Ima, disurati dengan kata-kata seperti ini. Dipilih, dan dirangkai dengan indah. Bagi saya disurati seperti ini, rasanya manis, seperti rasa Jogja tersaji di depan mata.
    Jogja dan Bandung memang membuat rindu. Jogja kampung halaman suamiku, Bandung tempat kami mencari penghidupan. Dan Malang itu target, kota tujuan wisata yang saya targetkan untuk didatangi. Tulisan mbak Ikha ini saya suka saya suka 😍😍😸

    Liked by 1 person

    1. Aih, Terima kasih mbak Hilmaa. 😘
      Mbk Hilma ternyata bersinggungan dgn kota Jogja dan Bandung. Senangnyaaa.
      Semoga suatu ketika terlaksana liburan ke Malangnya ya mbaak. Saya doakan, saya doakan. 😘😘😘

      Terima kasih lagi mbak. Syukurlah kalau suka. Hihi. 😳😳😳

      Like

  2. Mengutip komentar Mbak Hilma di atas, saya suka saya suka, Mbak Ikha. Terima kasih banyak sudah berbagi begitu banyak cerita, terharu sampai dikirimi surat terbuka ini ❀ (ga tau emoji apa yang pas untuk menggambarkannya).
    Terima kasih untuk ceritanya yang sederhana, tapi apa adanya dan penuh dengan ketulusan.
    Semoga Mbak Ikha sehat selalu di manapun Mbak Ikha berada. Aamiin…

    Liked by 1 person

  3. Jadi penasaran kan sama Ima ini hahaha
    Btw Kak Ikha bisa jatuh cinta ya sama Bandung, yang katanya belum dikunjungi. Jangan2 sama pria gitu juga kak. Cuma dari foto atau nama, udah terebut hatinya hehehe

    Liked by 2 people

    1. Ima ada di sebelah Fadel, mampir saja ke blognya. hahaha.
      wkwkwk, nah, jangan-jangan begitu, Del. kayaknya kurang kalau cuman foto atau nama, ditambah tulisan dan cerita juga mungkin. πŸ˜›

      Jadi keinget salah satu pelajaran di film Teacher’s Diary, mereka bisa saling kangen dan cinta meski ga pernah bertemu sebelumnya. hanya bermodal membaca curhatan di buku Diary.

      Like

  4. hebat tuh ngasih kabar biasanya pakai email. ga pakai fb atau whatsapp. saya sekali di kontak wanita lewat email terkait urusan, padahal ada kontak fb, whatsapp dll. usut punya usut ternyata semua di blokir olehnya karena dia ngambeg di becandain. eh akhirnya kirim email untuk berkomunikasi πŸ˜€

    Liked by 2 people

  5. “Rasanya seperti bagaimana kamu bisa menyukai seseorang lewat tulisan-tulisannya, tulisan tentangnya, dan segala cerita tentangnya, meskipun kamu belum pernah bertemu dengan orang itu. Seperti ada radar yang kamu tangkap dan kamu terperangkap dalam imaji dan rasa suka yang kamu pelihara di dalam diri. Kamu jadi rindu dia pada suatu ketika. Rindu sebelum bertemu, apakah itu ada? Ada.”

    Aku senang banget kata-kata Mbak Ikha yang aku kutip di atas β™₯

    Entah mengapa, melalui tulisan seseorang, kita seperti mengenalnya secara utuh, ya Mbak Ikha :’)

    Kita seperti bisa mengetahui pola pikirnya, perasaannya, cara pandang dia terhadap orang lain, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.

    Mbak Ikha pernah merasakan hal ini juga kah?

    Liked by 1 person

    1. Hehehe, Iya Mbak Shinta, pernah mengalaminya. :”)

      Iya benar Mbk, mengenali seseorang lewat tulisannya. karena sering memperhatikannya jadi sedikit banyak tahu bagaimana pola pikir dan perasaannya.

      Liked by 1 person

      1. Hmm seneng banget ketemu seseorang yg juga merasakan hal sama :’)

        Selamat saling mengenal lewat tulisan, Mbak Ikhaaaa.

        Hmm luar biasa ya mbak. Ternyata di luar sana mungkin saja ada yang benar2 memahami kita. Krn ‘dia’ rutin membaca tulisan kita hehehe

        Liked by 1 person

  6. Jogja, hanya sebuah nama namun tersirat penuh makna didalamnya. Akupun cinta tanah itu. Karena budayanya, karena sejarahnya karena nuansa yang kental walaupun bergesek dengan zaman. Aku cinta jogja dari pertama aku menginjakan kaki di istimewanya. Semoga kita bisa berbagi cerita kelak jika dizinkan bertemu mba minika 😁

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s