Cerita untuk Samudra

samudra
Ilustrasi: Uluwatu, Bali

Aku bermimpi tentang samudra, yang airnya biru dan ombaknya menderu, yang karangnya keras seperti karang lautan difilm Surf’s Up. Aku bermimpi tentang samudra, yang pantainya langsung berbatasan dengan bukit hijau yang meninggi. Tanahnya beberapa bagian penuh dengan tumbuhan perdu yang daunnya tampak hijau dan segar ketika diterpa sinar matahari. Aku bermimpi tentang samudra, yang angin lautnya halus membelai pucuk-pucuk rumput, kaki telanjangku menapak di atasnya. Tidak ada nyiur ataupun pohon bakau. Hanya ada biru samudra, karang-karang hitam yang kokoh, tanah, rumput hijau, perdu pohon, angin yang membawa aroma asin garam dan semuanya menjelma sepi yang mendamaikan. Di dalamnya, aku menemukanmu, yang tidak tampak tapi dekat, melekat.


Hai Samudra, kamu apa kabar?
Semenjak aku tinggal sendirian, dan kita lama tidak bertukar kabar, aku mulai menikmati dan memaknai kata dan rasa sepi berulang kali di kepalaku. Aku menikmati ketika malam-malam dimana kepalaku gaduh, tapi aku hanya bisa berdiam diri. Duduk di dekat jendela kamar, menyibak tirainya lalu merasakan angin mengalir dari luar. Mendengar gemerisik daun-daun mangga yang basah sehabis diguyur gerimis. Gerimis tadi sore, masih ada aromanya, masuk berulang kali mengetuk olfaktori.

Badankku tidak bertambah tingginya satu senti pun, tapi rinduku tumbuh menjulang tinggi menembus langit-langit kamar. Naik merayap-rayap hingga ke atap-atap yang jauh di awang-awang. Berat badanku tidak berkurang banyak, makanku masih tiga kali sehari. Aku masak hampir setiap hari, tidur nyenyak yang cukup dan bertemu denganmu banyak kali di alam mimpi. Kamu percaya? Hahaha. Ah, aku memang sedang ingin bebas bercerita kepadamu.

Samudra, belakangan aku pulang lebih sering, aku sedang suka berkutat dengan bunga-bunga di depan rumah. Menanam dua batang anggrek di pohon mangga dan menata sri rejeki serta camelia di beranda. Menebar biji-biji bunga balsamina yang berwarna ungu dan merah muda. Bunga pacar air yang daunnya bergerigi dan batangnya tidak berkayu itu adalah bunga yang puluhan tahun hidup di pekarangan rumah nenekku. Tumbuh lalu mati dan meninggalkan peranakannya, beregenerasi lebih dari dua puluh tahun. Aku menyebutnya bunga dari masa kecil.

Kamu sudah pernah bertemu dengannya, dengan balsamina yang hanya hidup semusim? Daunnya bisa kamu gunakan untuk kutek kuku. Bunganya yang berwarna-warni, kadang selapis kadang bertumpuk. Buahnya yang akan meletus kulitnya ketika sudah tua dan tanganmu tak sengaja menyentuhnya atau tergesek angin. Kulit buahnya akan menggulung seperti badan ulat hijau, bijinya akan menyebar dan mencuat ke udara. Ambyar. Jatuh terpencar-pencar.

.

.

.

Samudra, aku… mau bercerita, mungkin ini masih seputar dunia botani. Tentang sebatang pohon yang tiga bulan ini menyita banyak waktuku. Menyitaku untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya. Pohon kecil itu namanya Vaccinium varingiaefolium. Ah, itu nama latinnya. Tak perlu kamu hapalkan, cukup kamu sebut nama jawanya saja, manisrejo atau cantigi. Dia punya beberapa nama, cantigi sebagai nama sundanya atau delima montak sebutannya di Kalimantan Timur. Pohon kecil yang tumbuh di ketinggian lebih dari 1500mdpl itu awalnya kukira sebagai gambaran dari kesendirian, kesepian, dingin dan rapuh karena tiadanya teman diketinggian. Manisrejo terlihat seperti tanaman yang tidak dikenal, jarang ada pendaki yang menyebutnya, tidak berbunga menarik dan pohonnya biasa saja. Tapi, ternyata aku salah.

Lama aku belajar tentang alam tanaman yang juga disebut cantigi ungu ini, tempat tinggalnya, manfaatnya dan kebaikan yang dilakukannya untuk para penjelajah alam. Hingga aku menemui kesimpulan, bahwa cantigi itu kuat. Dia lebih sering hidup di tanah yang jarang vegetasi lainnya bertahan di sana, di lereng-lereng dekat kawah, di area tanah tandus dan kering, di tanah cadas, dan cantigi bertahan. Akarnya tumbuh kuat mencengkeram tanah, batangnya meski kecil, tapi liat dan kuat. Daunnya yang muda bisa kamu makan jika sedang berada dalam keadaan lapar. Buahnya yang sedikit manis bercampur kecut-asam, bisa menjadi pengganjal rasa lapar. Dia pelindung, tanaman penolong.

Maka aku menarik kesimpulan cantigi tidak pernah kesepian, temannya adalah dingin, beku, angin yang menusuk, hujan yang menderas, panas yang menguliti dan sepi yang merangkum itu semua. Sepi sendiri telah menjelma menjadi temannya. Cantigi itu kuat, dia bertahan dengan medan yang menumbuhkannya. Dia bertahan dan memberikan kebaikan yang ada pada dirinya untuk yang membutuhkan. Cantigi adalah gambaran dari kesabaran, kesederhanaan, kekuatan, keberanian, ketulusan, keikhlasan dan perlindungan. Tidak banyak yang mengenalnya dengan sangat baik, orang mungkin akan lekas melupakannya ketika sampai di dataran rendah atau mengingat bunga yang lebih cantik. Tapi cantigi tidak lupa, cantigi tetap melihat dari jauh.

Samudra, aku tidak tahu aku ini sedang bercerita apa, yang aku tahu aku hanya sedang menyukai satu tanaman itu dan filosofi yang ada di dalamnya. Lalu…

Aku membayangkan, kamu adalah sebatang cantigi yang tengah dipeluk oleh hangat udara pagi. Tidak ada sepi yang membayangi, riuh burung pemakan buah sudah pergi. Tersisa satu biji buahmu yang menjadi satu-satunya penanda kamu pernah berbunga. Dan aku adalah pengembara kehabisan tenaga yang menemui pagi ketika turun dari ketinggian. Tidak sadar kaukah cantigi yang semalam aku pakai untuk pegangan, atau aku tarik rantingnya, hingga mau patah rasanya. Maka, jika kini aku berlindung di bawah pohonmu, dan memintanya, meminta buah terakhirmu, akankah kau berikan? Akankah kau izinkan?

31 Maret 2018

Advertisements

82 thoughts on “Cerita untuk Samudra

    1. Samudra gita, bukan samudra. Kalau samudra itu lautan yang luas, kalau Samudra…. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

      Iya, Samudra aku bayangkan bagai cantigi. πŸ˜‚
      Bagus ya filosofinya. πŸ™‚

      Liked by 2 people

      1. Iya, itu pake S besar sama S kecil. Atau barangkali aku harus menulis dalam bentuk lainnya. Misalnya begini :

        “Dear Samudra,
        Selamat datang di Kota Pahlawan.
        Aku tak tahu, pukul berapa ujung kapalmu menyentuh dermaga.
        Yang aku tahu, kamu akan segera tiba. “

        Liked by 1 person

  1. kemarin ada ibu-ibu terdampar di pantai pelabuhanratu, sukabumi. konon doi ilang setahun setengah lalu. eh kemarin tiba-tiba muncul di pantai itu. mungkin diumpetin neptunus si dewa laut ya?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s