Menyimpan Barang yang Membuat Kita Bahagia

Saya baru saja menyelesaikan dua buku ketika akhirnya menulis di blog ini (lagi). Satu buku tentang seni berbenah, The Life Changing Magic of Tidying up dan satunya lagi buku tentang gaya hidup, Minimalisme Seni Untuk Menyederhanakan Hidup. Buku pertama saya beli jauh sebelum saya membeli buku kedua, namun kedua buku itu nyatanya saya rampungkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Ya, saya sempat malas membaca saat itu. πŸ˜€

Kali ini saya akan bercerita tentang berbenah isi kamar, yang saya lakukan dengan banyak berpedoman pada kedua buku tersebut.

Buku pertama saya beli karena penasaran dengan metode berbenah ala KonMari setelah membaca ulasan Mbk Era (Humairah) tentang buku itu. Dan terlebih saya mulai merasakan kebanyakan barang-barang. Kamar saya penuh dan sesak, jadi saya (merasa) perlu berbenah.

Dulu kali pertama ke Surabaya, saya hanya membawa satu tas jinjing dan satu tas ransel. Namun tiga tahun lalu ketika saya pindah kamar kos, saya kaget ketika mendapati barang-barang saya berkembang biak, ada tambahan beberapa kardus. Betapa barang saya lebih subur ketimbang badan saya yang bobotnya masih sama dengan lima tahun lalu. Hadeh.

Dari hasil membaca buku Marie Kondo, hal yang paling saya garis bawahi adalah tentang menyimpan barang-barang yang membangkitkan kebahagiaan saja. Menurut Marie Kondo, barang yang kita simpan adalah barang yang membangkitkan kebahagiaan saja, yang tidak maka dibuang. Namun, saya pribadi tidak benar-benar membuang barang yang sudah saya sisihkan dari lemari, saya berpikir ada baiknya jika saya berikan atau sumbangkan bagi yang membutuhkan.

Dalam bukunya KonMari menerapkan seni berbenah sesuai kategori. Mulai dari pakaian, buku, kertas-kertas, Komono (pernak-pernik), sampai benda-benda bernilai sentimental. Ketika mempraktikan seni berbenah ala KonMari, waktu itu saya hanya membenahi 3 benda yang saya rasa memakan banyak ruang di kamar kos saya. Tiga benda itu adalah :

 

Pakaian

Seperti dalam metode KonMari, barang pertama yang ditumpahruahkan untuk kemudian dipilih dan dipilah adalah pakaian. Waktu itu saya pun melakukan hal yang sama. Saya tumpahkan semua pakaian ke tempat tidur dan saya pilih satu persatu.

Sebenarnya saya bukan orang yang suka berbelanja, terlebih pakaian. Dengan menganut nasehat Mamak saya, β€œMembeli ketika kita butuh”, maka saya pun selama ini seringnya membeli pakaian ketika perlu saja. Misalnya ketika baju untuk ke kantor sudah waktunya ganti.

Ini semacam menjadi prinsip saya pribadi sampai-sampai saya tidak mau memasang aplikasi belanja di handphone saya. Takut nanti nafsu saya menang dan saya jadi khilaf. Hmm.

20180601_055035_0001.png

Masalahnya adalah ternyata saya masih menyimpan baju, rok ataupun jilbab lama yang tidak saya pakai lagi meskipun saya sudah membeli yang baru sebagai gantinya. Alhasil lemari saya terlihat penuh setiap kali saya selesai mencuci dan melipat baju. Dan masalahnya lagi ternyata pakaian yang selama ini menumpuk di lemari banyak yang jarang saya gunakan. Yang jarang dipakai ini bahkan saya tidak ingat kapan saya membelinya. Hahaha. Barangkali waktu itu saya sedang khilaf.

Setelah memilih dan memilah saya akhirnya memisahkan setumpuk baju dan jilbab yang sudah tidak saya gunakan lagi, jarang saya gunakan dan tidak membangkitkan kebahagiaan ketika memakainya. Bahkan saya pernah mempunyai baju yang hanya saya pakai kurang dari sepuluh kali. Anehnya baju itu dulu saya cari sendiri kainnya dan saya jahitkan ke tukang jahit sendiri. Lha kok, setelah jadi jarang saya pakai? Saya suka model bajunya, tetapi ternyata saya tidak suka warnanya.

 

Dokumen

Benda kedua yang turut saya bereskan adalah dokumen, misalnya berkas kuliah dan beberapa diantaranya berkas pekerjaan. Di lemari saya ada setumpuk dokumen yang tebal sekali dan selama ini hanya saya pindahkan kesana kemari setiap kali saya beres-beres. Akhirnya kemarin saya bongkar dan saya pilah mana yang seharusnya saya simpan.

Hal yang membuat saya geli sendiri adalah ternyata selama ini saya menyimpan segepok slip gaji yang tinggal kertasnya saja. Slipnya segepok, gajinya entah sudah kemana.

Saya adalah pengumpul benda-benda sentimental, saya akui itu. (Saya masih menyimpan kartu ujian nasional SMA, lho. πŸ˜€ )Alasan saya menyimpan dan mengumpulkan slip gaji tersebut adalah karena alasan sebagai kenangan nanti. Buktinya saya bahkan masih menyimpan slip gaji waktu gajian pertama kali di kantor tempat saya bekerja sekarang. Pikir saya dulu sebagai kenangan, kali pertama bekerja dan mendapat gaji. Dan ternyata saya malah menumpuk slip demi slip, bahkan ketika gajian sekarang sudah memakai system payroll sekalipun, saya masih menyimpannya. Terus sekarang mikir, buat apa coba? πŸ˜€

Dokumen kedua yang saya musnahkan setelah slip gaji adalah berbagai legalisir dokumen sekolah yang bahkan masa berlakunya sudah habis. Dan ternyata saya menyimpan beberapa dokumen teman-teman saya yang waktu itu entah bagaimana bisa ada di saya. Misalnya legalisir ijazah teman sekolah. Saya pikir itu bukan hal penting yang harus saya simpan, toh mereka pasti masih punya arsip sendiri dan pastinya ada dokumen aslinya juga.

Selain kedua dokumen itu saya juga memusnahkan beberapa dokumen-dokumen yang tidak begitu penting dan bahkan kertasnya sudah berwarna kuning-kuning karena tintanya luntur. Hasil bersih-bersih ini menyisakan satu map dokumen saja.

 

Buku

Benda terakhir yang saya bereskan adalah buku. Barangkali ini adalah benda yang paling sering saya beli di antara semua kebutuhan lainnya. Meski buku saya tidak banyak jika dibandingkan pengoleksi buku bacaan lainnya, tapi saya merasa buku-buku saya ini turut memenuhi kamar.

Dan termasuk kejahatan yang saya lakukan terhadap buku ini adalah saya banyak membeli tapi tidak tuntas membacanya. Masih ada banyak buku yang belum tuntas saya baca. Ada banyak faktor selain malas, yaitu saya mendadak tidak tertarik lagi ketika sampai di tengah-tengah bacaan. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti membaca dan menyimpan niat untuk membacanya kapan-kapan.

Kalau kata Marie Kondo, bahwa yang namanya kapan-kapan berarti takkan pernah.

Dan kapan-kapan yang saya niatkan itu nyatanya tidak terjadi sampai sekarang juga. Bagaimana tidak, saya dulu menimbun niat tersebut dengan membeli buku baru yang lebih menarik perhatian saya. Saya punya buku dari tahun 2014 yang baru saya baca beberapa lembar saja. πŸ˜€

Alasan lainnya adalah saya ternyata tidak terlalu suka dengan buku-buku tersebut, ketika membacanya tidak menimbulkan efek senang yang membuat rasa penasaran meningkat hingga ingin lekas-lekas menuju halaman selanjutnya. Jadi pas beli itu saya ngapain ya? Entahlah, khilaf lagi mungkin.

Ketika selesai membaca buku KonMari, saya masih belum menyisihkan buku-buku saya sama sekali, masih merasa berat. Saya merasa sayang dengan buku-buku yang saya miliki dan enggan melepasnya. Namun setelah membaca buku kedua, yakni bukunya Bang Diptra bab Paradigma Baru Terhadap Buku (hal. 108)

Berdasarkan pengalaman Bang Diptra yang juga merasakan susahnya melepaskan buku-bukunya dulu, beliau menyimpulkan tiga paradigma baru terhadap buku.

  1. Nilai sebuah buku tidak terletak pada bentuk fisiknya, tetapi lebih kepada kandungan gagasan yang ada di dalamnya.
  2. Memiliki koleksi buku dalam jumlah banyak bukanlah sebuah jaminan seseorang akan menjadi bijak
  3. Buku disebut bermanfaat jika isinya sudah diamalkan sehingga ilmu yang terkandung melekat dalam keseharian.

Saya mendapat pencerahan tentang bagaimana harus bersikap terhadap buku-buku saya tersebut. Maka dengan mengadopsi tips dari kedua buku yang saya baca, kemarin saya mencoba memilih dan memilah kembali buku-buku saya.

Rasa berat untuk melepaskan itu sedikit demi sedikit mulai berkurang meski tidak sepenuhnya bisa leluasa. Kadang masih ada rasa sayang ketika menimbang satu buku di tangan, antara iya dan tidak, begitu terus beberapa kali. Hingga saya membuka kembali tulisan Bang Diptra (hal.108) itu beberapa kali setiap kali niat saya goyah di tengah-tengah berbenah.

Beberapa buku yang sudah saya beli tapi belum saya baca masih saya simpan, kali ini karena buku itu masih ingin saya baca. Sementara buku yang belum selesai saya baca tapi sudah tidak ada keinginan untuk membacanya, maka saya lepaskan. Barangkali dia akan bermanfaat di tangan lainnya.

Setelah berkutat cukup lama (kurang lebih tiga jam. Hahaha, lama, ya) saya akhirnya berhasil menyisihkan setumpuk buku yang rasanya tidak lagi ingin saya simpan.

 


Ada beberapa hal yang terpikirkan ketika membaca dua buku tersebut dan ketika proses berbenah sedang berlangsung. Yang pertama ternyata menyimpan barang-barang yang membuat kita bahagia itu rasanya menyenangkan. Ada semacam lega di dada. Yang kedua saya kembali teringat tentang konsep ruang kosong di dalam hidup ini, Bang Diptra pernah memposting tulisan seseorang di sini.Β Silahkan jika mau membaca. Dan yang ketiga tentang kembali ke komitmen awal dan tidak berlebih-lebihan tentang barang.

Jadi, kedepan rasanya saya akan semakin menimbang dan menimbang ketika akan membeli buku, pakaian atau benda-benda lainnya. Apakah saya benar-benar butuh, benar-benar menyukai buku tersebut dan ingin membacanya atau hanya sekadar keinginan sesaat semata.

Kejahatan harus dihentikan. Ya, kan?

Advertisements

84 thoughts on “Menyimpan Barang yang Membuat Kita Bahagia

  1. Sepertinya kalau begitu saya juga harus berbenah nih, terutama dokumen-dokumen yang kadaluarsa. Niat awalnya sama sih, kenang-kenangan. Bahkan saya masih menyimpan buku catatan fisika, kimia, biologi dan matematika ketika saya SMA (saya tamat SMA tahun 2003)

    Terima kasih tulisannya mbak ikha

    Liked by 1 person

    1. Waah, 2003 sudah hampir 15 tahun Mas Febi.
      Buku-buku saya waktu SMP sudah tidak ada, tapi kemarin pas pulang buku SMA masih ada beberapa.

      Barangkali Mas Febi perlu membereskan juga buku catatan itu. Rasanya kalau disimpan juga akan sangat jaraang sekali dibuka. Biarkan terkenang di hati. Hehe. πŸ˜€

      Sama-sama, Mas Febi. Selamat berbenah.

      Like

  2. Wah saya juga hobi banget nyimpen dokumen kadaluarsa di kamar, salah satunya buku sekolah. Hhee
    Masih sayang buat dibuang atau dijual.hhiii

    Tapi belanja bukunya emang harus direm tuh mba, dah banyak buku yang terbengkalai soalnya.

    Liked by 1 person

    1. Dikasihkan orang, mungkin ada yang butuh Mas, kalau eman dijual apa dibuang. Kalau buku paket sih,πŸ˜†πŸ˜†

      Hahaha. Iya nih Mas. Sedang belajar ngerem dari dua bulan lalu.

      Like

  3. Aku juga suka nyimpe barang sentimental kak! πŸ˜‚

    Koleksi tiket bioskop? Alasan sentimental. Simpan surat/notes dari orang lain? Sentimental. Tapi kayaknya slip gaji nggak deh. Udh terlalu fokus mau habisin aja πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Yaak. Ternyata. πŸ˜…
      Koleksi tiket keretaku udah musnah, Fadel. Benda sentimentalku berkurang banyak.

      Iya, sekarang aku fokusnya kayak kamu. Fokus ngehabisin gajinya aja, slipnya masa bodoh sudahan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

  4. Saya habis nonton variety show gitu mba judulnya little house in the forest. Katanya ada permainan minimalism *smga tulisannya bener. Jd setiap hari orng harus buang 1 barang yg ga terlalu penting dan ga begitu di pakai.

    Liked by 1 person

    1. *tulisannya bener kok mbak. Hehe

      Waah, keren itu Mbak. Latihannya bertahap gitu ya. Sehari satu, sehari satu.
      Memang kalau sekali jalan susah, ini juga bertahap. πŸ˜†

      Like

  5. Ternyata menyimpan barang-barang yang membuat kita bahagia itu rasanya menyenangkan. Yah aku setuju dengan itu mbak, aku juga termasuk orang yg suka nyimpen2in barang. Penu banget kamarku

    Jadi pengen berbenah lah esok hari hehe

    Liked by 1 person

    1. Yang penting-penting berbentuk dokumen digital udah ada Mas. Dokumen asli juga sudah ada.
      Kalau dokumen ga penting didigitalin nanti jadi sampah digital ya, ga sih?πŸ˜†πŸ˜†

      Liked by 1 person

      1. Soalnya berkas, dulu disimpan buat arsip, jadi ya semacam dia hanya berkas saja. Tidak ada nilai kenangannya. Kecuali memang masuk benda kenangan sih, Mas.

        Liked by 1 person

  6. Mbak, saya ni orangnya kayak yang males banget berbenah tau nggak wgwgw.

    Kadang dokumen aja kayak saya lupa naruh dimana, tapi untung dokumen yang tidak terlalu penting sih. Kalau dokumennya surat tanah, mati saya. Lagipula, saya belum punya tanah :’

    Liked by 1 person

  7. Meski sangat suka belanja, tapi soal berbenah emak emak selalu oke iya kan?πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€
    Terutama karena terbiasa hidup tak menetap lebih lama di suatu tempat lebih dr 1,5 tahun jadi urusan memilah milih barang penting sudah jadi hal yg tak asing lagi.
    Selain hrs pandai berbenah terutama baju, ada baiknya dikeluarkan saat masih layak pakai sehingga masih banyak orang yang mau memakai pakaian bekas kita. Selain bermanfaat bagi orang lain kita juga tak hrs pusing membawa banyak barang.
    Dokumen jg memang lbh baik dimusnahkan jika tak terpakai tp setelah 5 tahun. Krn biasanya updating data selalu dilakukan setelah 5 tahun.
    Selamat berbenah lagi Ikha

    Liked by 2 people

    1. Urusan berbenah emak-emak selalu oke. Bener banget ini Bun, apalagi nomaden kayak Bunda. Jago banget pasti.πŸ˜†
      Iya Bun, yang masih layak kemarin juga dikasihkan.
      Nah, iya. dokumen ini updatingnya ternyata 5 tahun, kemaren pas baca buku baru inget kalau banyak berkas kadaluwarsa di lemari.

      Siap, makasih Bunda. πŸ˜€

      Liked by 1 person

  8. Bermanfaat sekali, mbak ikha.
    Aku mah apa aja simpen. Hehehe..alasannya ya kayak mbak bilang, buat kenang2an. Wkwkw πŸ˜€
    Masih perlu belajar berbenah nih…hehe πŸ™‚
    Seperti ungkapan yg pernah ruri lihat, tulisannya : ” Less stuff, more happier ”
    Hmm..bener jg! πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Yak, pengumpul benda sentimental juga rupanya Ruri. Sebagai kenang-kenangan.
      Sebenarnya gapapa menyimpan sebagai kenangan Ruri. Selama itu membuat kita seneng.
      Tapi kalau apa aja disimpen, nanti jd penuh deh kamarnya. Wkwkwk
      Yup, less stuff, more happier.
      Kalau seorang pelaku gaya hidup minimalis, ini bener banget.
      Ini mbak masih belajar sih. Hehe

      Liked by 1 person

  9. Wah … ternyata banyak persamaannya dg sy mb ikha, antara lain suka mengoleksi barang2 yg mnyimpn memori termasuk kartu peminjaman perpustakaan saat SMA sy msh simpn sampai skrg.
    Tapi betul jg apa yg mb ikha uraikan di sini, rumah dan kamar sy makin sesak
    Lemari jg bgt, kadang sy pisah2kn baju2 yg jarang atau tak pernh dipakai lg tp sy bingung mau dibawa ke mana bj itu, aplg jika baju2 dinas mau disalurkn ke mn jd bingung, akhirnya cm disimpn di gudang trus lama2 dikencingi tikus atau kucing. He he he.
    Untuk buku betul jg mesti dipilah2 jg ya dan kalau yg ini gk binggung mau dikemanakan krn dpt dibawa k perpustakaan sekolah

    Liked by 1 person

    1. Wah, bunda juga ternyata ya. hehe.
      kalau benda-benda kecil sebagai kenangan masih gapapa Bunda rasanya, mungkin bisa ditaruh di kotak kenangan.

      Iya bun, menyimpan barang yang sudah tidak dipakai lama-lama jadi penuh rumah kita.
      terkait baju dinas, saya pernah mengamati Pak De saya dulu pegawai dinas kehutanan, setiap kali ada kesempatan main ke kampung, beliau membawa baju-baju dinas yang sudah tidak terpakai. Jadi Kakek saya pernah juga memakai baju dinas bekas Pak De, hanya saja bedge/semacam tanda kedinasannya sudah dicopot. Selain itu ditawarkan juga ke tetangga. kalau orang kampung ya kebanyakan dipakai ke sawah buat cari rumput.. hehe
      Barangkali waktu ada penggalangan baju bekas untuk disumbngkan di sana Bun, bisa disalurkan. eman kalau akhirnya dikencingi tikus dan tidak terpakai.
      Iya, Bun, kalau buku ndak bingung ya hehe

      Like

      1. Iya mbak, cm daerahku kota kab sih, kayaknya gk ada org sekitarku yg mmbutuhkn bj dinas, ya kecuali pas ada penggalangan baju2 bekas ya, tp kok jarang sy dengar ada acara spt itu di sini, ya nntilh kalau ada sy ikutan, soalnya betul jg cm rusak dikencingi tikus dan kucing he he

        Liked by 1 person

      2. Oh iya sih ya Bunda. Baik Bun, semoga nanti pas ada penggalangan Bunda bisa ikut menyumbangkan. Eman eman.. πŸ˜€

        Like

      1. ini Mas, barangkali ada yang mau di baca. tinggal ini yang masih ada
        1. Kumcer – Karena Aku Sayang
        2. Novel – Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono)
        3. Novel – Critical Eleven ( IKa Natassa)
        4. Buku Prosa – Ja(t)uh ( Azhar Nurun Ala)
        5. Novel – Cinta adalah Perlawanan (Azhar Nurun Ala)
        6. Islam Liberal 101 – Akmal Sjafril
        7. Novel – Bila Musim telah Berganti ( Purwati Sugito)
        8. Komik – Kungfu Boy (seri 1 saja)

        Liked by 1 person

  10. Baeq…
    Kapan-kapan itu nggak akan pernah.

    Kapan-kapan aku telpon ya = nggak akan telpon sampai kapanpun.

    πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„

    Ngelihat kamar sendiri. Oh yha banyak yg mesti dibuang.
    Yang bikin bahagia ya??? Sip, yang meresahkan tak bakari 😟😟😟

    Liked by 2 people

    1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Kapan – kapan bentuk tidak langsung dari php.

      Sip. Selamat berbenah Mbak Mo. Biar padang kamarnya..πŸ˜†

      Like

  11. Selepas baca buku “Goodbye Things”, saya juga rasanya ingin buang semua barang-barang yang jarang terpakai.
    Tapi meski sudah enam bulan buku itu selesai saya baca, sampai sekarang, isi kamar saya tetap utuh, tak berkurang apa apun

    Liked by 2 people

  12. Saya tertarik sama paragraf menyimpan slip gaji. Saya baru tau ada irng menyimpan slip gaji pertama sebagai kenangΒ²an. Klo slip gaji prtma saya entah kemana bahkan lupa kpn dan dimana saya mendapat gaji pertama, la wong kerjanya pindahΒ² hehehe

    Tapi saya setuju sma ketiga kalimat ini.

    1. Nilai sebuah buku tidak terletak pada bentuk fisiknya, tetapi lebih kepada kandungan gagasan yang ada di dalamnya

    2. Memiliki koleksi buku dalam jumlah banyak bukanlah sebuah jaminan seseorang akan menjadi bijak.

    3. Buku disebut bermanfaat jika isinya sudah diamalkan sehingga ilmu yang terkandung melekat dalam keseharian.

    Liked by 1 person

    1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Iya Mas Juman. Soalnya saya masuk kerjanya dulu berkesan banget. Ada sedikit dramanya. Jadi sampe pas gajian rasanya seneng banget. Makanya terus slipnya disimpan.
      Jangan-jangan ini aneh ya πŸ˜…

      Wah, Mas Juman udah banyak pengalaman kerja pastinya ya. Saya belum pernah pindah.

      Iya Mas, saya setuju juga sama ketiga poin itu.

      Like

  13. Eh, bener juga ya,kak Finda ..
    Kalo pas bongkar-bongkar lihat isi lemari kadang muncul perasaan nyesel dan kepikiran ‘kenapa dulu barang ini ya ?’ … padahal kurang atau ngga bermanfaat,malah kebeli barang tapi ngga pernah digunain.

    Huhuhu .. setelah itu jadi nyesel ngabisin uang doang adanya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s