Seperti Hujan

Saya sedang tidak sibuk dengan telephone genggam waktu Arih mengirim pesan bahwa dia minta ditemani hari minggu mendatang. Jadi, saya membalas pesan Arih beberapa waktu kemudian. Ternyata Arih minta ditemani ke mall. Arih, teman sekaligus saudara jauh saya itu mau ke BG Junction Mall dan minta ditemani, katanya dia males kalau sendirian.

“Malu aku kalau sendiri. Ayolah, temani, yaa.” Begitu alasan keduanya.

Padahal mah, saya juga pernah (atau sering ?) nge-mall sendiri, dan enggak pernah masalah. Emang kalau nge-mall sendiri kenapa, sih?

Kalau boleh jujur, saya tidak suka ke mall. Saya lebih suka ke pasar tradisional. Apalagi pasar tradisional yang ada di desa, saya suka. Saya suka memperhatikan interaksi sosial yang terjalin antara penjual dan pembeli.

Bagian yang paling tidak saya sukai dari masuk mall adalah keramaiannya. Hahaha. Ya, kalau sepi namanya bukan mall, tapi pemakaman. Meski tidak suka bukan berarti tidak pernah, yaa.

Hari minggu yang dimaksud Arih itu adalah hari ini, siang sampe sore tadi saya berhasil keliling tiga mall besar di Surabaya demi menemani Arih, ternyata dia memilih BG Junction karena hendak mencari toko Platino Combine J. di Surabaya. Terlepas dari apa kepentingan Arih saya tidak akan bercerita itu, tapi ada satu momen dengan Arih yang membuat saya melakukan permainan masa kecil yang sudah sangat lama tidak saya lakukan.

Permainan dengan suara hujan.

Ceritanya begini. Saya sampai di BG Junction sekitar jam satu siang. Setelah ngobrol ngalor-ngidul Arih mengajak berkeliling mencari toko yang dimaksud. Kecewa dengan hasil pencarian, karena tokonya tutup, Arih mengajak saya makan. Kami mampir di satu-satunya foodcourt yang ada di sana. Semua meja penuh, saya dan dia berkeliling dua kali baru kami mendapatkan tempat duduk. Setelah kami duduk, kami baru sadar ternyata sebagian besar makanan di sana adalah nasi goreng. Hahaha. Dan kami berdua bukanlah penyuka nasi goreng di mall yang porsinya banyak dan nasinya merah sekali.

“Disini ramai. Bising. Kalau sepi bukan mall ya namanya. Hahaha. Kok banyak nasi goreng, sih.” Kata Arih mengoceh panjang sambil meletakkan tasnya dan mulai berjalan berkeliling mencari makanan yang sekiranya dia inginkan.

Saya duduk menunggu Arih dan tidak berniat memesan, pertama karena saya tidak terlalu lapar, kedua karena tidak ada makanan yang menarik perhatian saya.

Suasana di sana benar-benar bising. Semua orang di meja-meja makan seakan-akan sedang berlomba bercerita. Semua mulut sibuk melakukan dua hal yang membingungkan klep epiglotis. Dimana seharusnya orang yang makan tidak dibarengi dengan berbicara kalau tidak mau klep epiglotis ‘bingung’ dan akhirnya tersedak.

“Baiknya kalau makan ya makan saja, kalau selesai baru mengobrol.” Begitu pesan Bapak yang selalu saya ingat.

Sejenak saya memejamkan mata, mendengar dengan saksama berbagai suara di sana. Suara orang-orang yang sedang bercakap sambil makan siang, suara sound system beserta pembawa acara yang berteriak dengan keras memandu peserta lomba, suara teriakan anak kecil yang sedang bermain di playground. Semuanya membentuk dengungan yang tiada henti. Seperti tercipta aliran suara yang deras dari dengungan itu tadi.

Saya menutupkan kedua telapak tangan saya pada kedua telinga. Kemudian membukanya dan menutupnya kembali dengan pelan-pelan sekali. Begitu berulang kali, lalu saya mempercepat gerak menutup dan membuka telapak tangan, kemudian melambatkannya kembali hingga membentuk irama tersendiri. Irama yang mengingatkan saya pada permainan masa kecil dengan suara hujan.

Ketika hujan deras datang, saya sering memainkan telapak tangan di indra pendengaran dan membuat irama dengannya. Kadang kala suaranya kencang seperti badai, kadang kala menghilang lalu menjadi seperti badai lagi. Mungkin suaranya seperti ini,”wiiiii…uuuu…. wiii… uuuuu… wiii.. uuuuu..wi u wi u wi u… wiii uuuuu..”

Tidak bisa membayangkan? Nah, baiknya nanti kalau hujan kalian coba di rumah, ya. Hahaha.

Entah kenapa saya dulu suka sekali memainkan hal-hal kecil seperti itu. Seperti membawa keseruan tersendiri.

Segala macam suara orang-orang itu tadi mengingatkan saya pada suara hujan. Suara mereka seperti suara hujan yang teramat deras. Namun yang ada bukan hujan air, tapi hujan suara.

Arih datang ketika saya selesai bermain dengan dengungan itu. Dan kami memutuskan tidak jadi makan di foodcourt.

Kami makan di tempat makan ala-ala korea yang saya lupa apa namanya. Arih merekomendasikan di sana karena sering makan dengan Vinda. Saya memesan ramyeon dan Arih memesan rice bowl. Apa nama lengkapnya? Entah, saya tidak ingat sama sekali. Wkwkwk. Maap ya, saya susah ngapalin nama-nama makanan korea itu tadi. Huh.

Suasana di sana cenderung sedikit tenang dibandingkan di foodcourt, meski tidak bisa saya bilang hening karena di sebelah restoran ada panggung acara fansclub artis korea yang konon sedang berulang tahun akhir bulan ini. Lagu-lagu korea yang sama sekali tidak saya kenal sedang diputar di sana.

Kami bergegas menuju Tunjungan Plaza setelah menyelesaikan santapan makan siang. Ada dua mall lagi yang harus dikunjungi sebelum hari beranjak sore.

Dan… matahari sempurna bulatnya di ufuk barat ketika kami keluar dari City of Tomorrow dengan hasil yang nihil. Ternyata toko yang dicari sudah tutup untuk selamanya.

“Yaah, ga dapet apa-apa ya. Tapi jadi pengalaman, kalau nanti kamu cari sesuatu kayak tadi, jadi tahu dimana saja toko yang menjualnya.”

“Dan kalau ga gini, kamu ga ketemu aku ya Rih. Hahaha”

“Hahaha. Iya”

Dan jika diibaratkan hujan, pertemuan kami hanya seperti hujan tahunan. Setahun dua kali, kadang malah sekali saja waktu lebaran. Padahal kita bertetangga dan masih saudara.

Kami tertawa bersama sebelum akhirnya berpisah untuk pulang.

Advertisements

44 thoughts on “Seperti Hujan

      1. Dulu kan tinggak di deket jalan Demak situ. Jd pulang aktivitas ya melewati BG Junction. Sejak nikah, aku pindah ke Sby Timur. Udah ga pernah ke BG Junction lg, kecuali bbrp thn lalu mau submit SPT (pajak).

        Liked by 1 person

  1. Kalau hujan?

    Hujan datang pasti saya main air.
    Entah itu telapak tangan yang dibuka di bawah air kucuran genteng, entah itu nekat keluar rumah jalan-jalan (pake payung atau ga pake payung). Kalau habis hujan, pasti main ciprat-cipratan dari kubangan air yang diinjak kuat. jadi rok temen-temen basah semua.

    Haha, miss that moment.

    Cuman akhir-akhir ini, kalau hujan cuma terdiam di samping hujan.
    Kayak dihipnotis, hehe.

    Liked by 1 person

  2. “Emang kalau nge-mall sendiri kenapa, sih?”
    nge-mall sendiri itu bahaya, apalagi cewek. bisa kesambet!
    kesambet belanja besar-besaran higgga isi dompet menghilang, hahahaha
    lagian nge-mall itu enakan rame-rame, apalagi kalau berduaan sama pasangan,
    PASANGAN 🀭🀭🀭

    Liked by 1 person

    1. Hahaha, kalau aku aman kok Mas Nur. cukup bisa mengerem diri.

      PASANGAN YAAA… PASANGAN. Ya Allah, ini orang kompor banget sih dimana-mana. T.T

      Like

  3. saya masih suka mainin suara hujan bahkan saat sudah banyak uban begini. seru aja. kadang telinga anak yang saya jadiin eksperimen dan dia ganti bikin eksperimen di telinga adeknya…

    tapi bicara soal makan sambil ngomong, saya ingat kisah Palui(tokoh semacam Kabayan daritanah Banjar).
    Suatu hari saat makan, si anak mengajaknya bicara tepat saat Palui hendak menyuapkan nasi ke mulutnya. Palui bilang, nanti saja setelah makan baru ngomong. dan anak pun menurut.
    Usai makan dia tanya anaknya, tadi mau ngomong apa? dengan kalem si anak bilang, tadi saya maubilang, ada tahi cicak di sendok bapak wkwkwk dan si bapak langsung…. tebak sendiri deh wkwkwk

    Liked by 1 person

    1. Gapapa Bun, malah bisa sambil main sama anak-anak. seru-seruan bareng.

      Wkwkwk, ya Allah, saya ngakak bun bacanya. ga kebayang bapaknya dapet asupan gizi tahi cicak πŸ˜›

      Like

  4. Saat hujan, yang pasti saya lakuin adalah membuka lebar-lebar telapak tangan dan membiarkan dinginnya air hujan membasahi telapak tangan saya.

    Bahkan kalo air hujan turun dari sela sela genting rumah, pasti ada jarak antara air yang turun itu, biasanya saya suka memasukkan tangan saya ke sela sela yang tidak turun air itu dengan berharap tidak terkena air hujan, itu permainan yang seru saat saa kecil dulu wkwkwk.

    Sayangnya, sudah lama hujan tidak turun di bekasi utara belakangan ini.

    Liked by 1 person

    1. Waah, seru ya kak. :”)
      saya dulu juga sering main air yang kayak gini..:D

      masih musim kemarau mungkin ya kak, surabaya baru kemarin saja gerimisnya. sudah lama ga hujan juga..

      Like

  5. Nyari apa sih kak sampai ngunjungin 3 mal? Ada yang tokonya tutup selamanya pula wkwk

    Yaktul. Nasi goreng mal ada yang merah banget bermandikan saos entah apa. Dan aku dulu juga suka gitu! Tutup buka kuping buat denger suara hujan wkwk. Tapi pas lagi sendiri aja πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Hallo Mbak, iya saya tinggal di Surabaya hehe.
      BG Junction kabarnya sekarang memang sepi mbak, kalah sama mall-mall lain, pas saya ke sana itu hari libur, mungkin itu agak rame jadinya foodcourtnya juga rame πŸ˜€

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s