Teman Imaji : Hujan Bulan September

P_20180901_165826.jpg
Salah satu sudut di Lenmarc Mall

Aku menyukai tempat ini sejak dia masih dalam bayangan, ketika seorang teman perempuanku menceritakan sebuah tempat dengan kaca sebagai dindingnya. Seperti di bandara. Bedanya saat matahari hendak pulang ke rumahnya, yang kita dapati adalah kendaraan darat, bukan lapangan udara beserta pesawatnya.

Di depan bangunan ini, di seberang jalan ada pemandangan parkiran mobil. Dan di jalan yang memisahkan bangunan ini dengan lapangan parkir, mobil-mobil berseliweran, saling mendahului seperti ingin balapan sampai di tujuan lebih awal. Tempat dibalik kaca ini sepi membuat siapapun yang ke sana betah duduk berlama-lama dan bebas merenungkan apa saja, tidak ada bising yang mengganggu telinga, mereka bisa membaca, menulis atau hanya berdiam diri di sana sambil menikmati sore ditemani dengan minuman atau camilan yang mereka pesan di kedai sebelahnya.

Kamu tahu apa yang ada di bayanganku ketika aku terdiam lama dengan pemandangan itu? Aku malah teringat satu potongan film Death Note saat L menggagalkan penerbangan pesawat dimana di dalamnya ada gadis kecil yang mengidap suatu virus mematikan. Hidung pesawat itu menyentuh dinding kaca ketika roda berhenti berjalan beberapa detik setelahnya. Ada retak di sana, di dinding kaca itu.

Aku tidak berniat mencari tempat itu, ketika akhirnya kamu malah mengajakku duduk di sana. Baru ketika matahari turun ke ufuk barat diikuti sinarnya yang beradu dengan mendung tipis, aku menyadari aku berada di mana, aku menemukan tempat yang aku bayangkan kini ada di depan mata, sungguh kebetulan yang menyenangkan. Andai kamu tahu, aku senang sekali atas banyak hal saat itu.

Kalau saja tidak malu, aku benar-benar akan berjingkrak-jingkrak seperti anak SMP yang girang mendapatkan hadiah dari menang lomba tarik tambang. Iya, “seperti anak SMP,” seperti katamu.

Dan aku mau bilang padamu, aku menyukai tempat itu, menyukai pemandangan sore itu. Aku saat itu berpikir akan sering-sering bermain ke sana untuk membaca, menulis atau mengisi TTS, menghabiskan sore. Ditemani (kamu) atau tidak pun.

Dan kini, semua memori pendek tentangmu sering terputar banyak kali. Pendek-pendek saja memori itu, karena durasi pertemuan kita tidak pernah panjang seperti pada kali pertama.

Dalam hidup, sering rasanya kita mempunyai kenangan pendek yang menyenangkan, yang rasanya tidak akan pernah terulang. Seberapapun kita ingin skenario semesta itu mengulangnya. Lalu seringnya memilih tinggal di hari kemarin.

Langkah-langkah tegak, punggung kokoh, tas yang berat, desau angin, kicau burung, kekar batang pohon mahoni, cerita-cerita yang panjang, tawa-tawa renyah, bunyi klakson kendaraan, udara sore yang lembut, kaki-kaki kecil yang berlari penuh harap, sayup-sayup suara mesin pencetak barcodeย boarding pass, derit pintu kereta, lambaian tangan yang diiringi senyum sekali lagi. Pagi masih terlalu pagi untuk melepas punggung itu. Punggung yang kadang aku cari di ruas jalan yang aku tahu belum tentu kutemui ada kamu dibarisannya.

Dan sekali lagi percakapan pendek kita di bawah lampu merah itu mengingatkanku, kepada siapa kita harusnya menaruh harap. Jangan kepada manusia, katamu. Tapi kepada yang Maha Kuasa.

Aku bersyukur dipertemukan dengan orang sepertimu. Orang yang (aku yakin selalu berusaha agar) kebaikannya terus mengalir seperti Banyu. Banyu yang jernih. Mudah-mudahan hatimu selalu seperti itu, jernih.

 

Kalau satu saat kamu membaca tulisan ini, ini di tulis untukmu dari adikmu yang lainnya. Salam dari Ibu yang kemarin menanyakanmu. Semoga kamu sehat selalu.

 

20 September 2018


 

DENGANMU

Ini senja kau duduk manis bersila
Memeluk buku tenggelam dalam layarmu
Tak habis jua teh hangat di gelas ituย 
Nikmati suara celoteh sahabatmu

Berpayung rindang daun kayu putih
Kau ceritakan dan hidupkan mimpi
Betapa bahagia kuberada di sini
Rumah sejuta merpati

Denganmu
Kukepak kecil sayapku
Menari ke langit ke tujuh
Melaju, merayu-rayu
Menjelajahi waktu

Denganmu
Kujelang matahariku
Menyanyi puisi yang syahdu
Melagu, mendayu-dayu
Tergetarlah dunia
Aku bersamamu

Kata orang negara adalah karya
Yang terbaik adalah yang selanjutnya
Tak ada henti kita menggoreskan pena
Sebatas kata bukan budaya kita

Berpacu dengan rintik air hujan
Kita berlari mengejar semua bintang
Tiada badai yang tak bisa kita taklukan
Kita para merpati

Pabila esok kita beranjak tua
Tak kan secuilpun kenangan terlupa

Judul tulisan ini meminjam judul salah satu bab dari buku Teman Imaji – Mutia Prawitasari (bagian Hujan Bulan September)

Advertisements

22 thoughts on “Teman Imaji : Hujan Bulan September

    1. Tonton yg live in action seru juga ๐Ÿ˜€

      Surabaya sudah hujan sekali. Awal September lalu. Tapi sampai sekarang belom lagi. Semoga Bekasi lekas diberi mendung lalu turun hujan. :’)
      Di samping saya saja sini mbak. ๐Ÿ˜Œ

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s