Bertemu Kawan-kawan Bloger di Lampung

Cerita kali ini masih tentang Kota Tapis Berseri, Lampung.

**

Rasa-rasanya saya belum puas waktu di sana, belum juga bisa dibilang kemana-mana. Selain mengitari jalanan-jalanan yang bahkan sekarang saya lupa nama jalannya. Meskipun begitu beberapa jam saya di sana akan sangat terkenang seumur hidup. Halah πŸ˜€

Semua itu tentu berkat beberapa orang yang saya temui di sana. Berhubung cerita tentang perjalanan ke Lampung sudah saya tulis di postingan sebelumnya, maka saya akan sedikit menuliskan tentang kawan-kawan yang saya temui di Lampung agar jejak mereka turut abadi di rumah maya saya ini. Yang pertama tentu partner berangkat dan pergi saya dari Jakarta, yaitu Bekti.

 

Bekti

Seminggu sebelum berangkat ada yang tanya ke saya.

“Sama siapa ke Lampung, Mbak?”

“Sama temen.. temen apa ya, temen nulis, temen nge-blog, dia dari Bogor. Kita ketemu di Jakarta nanti.”

Teman yang saya maksud itu adalah Bekti.

Setelah melewati percakapan panjang seperti pada cerita sebelumnya, saya dan Bekti akhirnya memutuskan ke Merak naik kereta dan berjanji bertemu di stasiun Tanah Abang untuk kemudian bersama-sama naik komuter ke Rangkasbitung.

Waktu hari H saya tiba lebih dulu di stasiun Tanah Abang dibandingkan Bekti, saya menunggu Bekti cukup lama (sekitar 2 jam). Saya menunggu dia di Musala. Jadi selama 2 jam itu saya gunakan untuk duduk, selonjoran, berdiri, leyeh-leyeh, duduk lagi, main hape dan kirim pesan “Sampe mana Bek?”, yang jawabannya pasti daerah yang saya enggak paham, gitu terus sampe bosen sambil liatin denah KRL.

“Mbak dimana? nanti kalau ketemu aku jangan kaget ya. Aku agak beda anaknya.”

Itu adalah pesan dari Bekti yang cukup penting di antara pesan agak penting lainnya. Sebenarnya penasaran juga apa yang agak beda dari dia. Singkat cerita bertemulah kami di pintu Musala. Dan sekilas saya tidak menemukan tanda-tanda kalau dia beda sama lainnya, soalnya kita sejenis, sama-sama perempuan gitu dan sama-sama napak tanah. πŸ˜›

Bekti orangnya setinggi saya (atau lebihan dia dikit) atau bolehlah kita disebut nasakom, sebutan untuk para cewek-cewek di Obrolin dulu yang tingginya ga jauh-jauh dari 150cm. Pertama ketemu Bekti sudah tahu langsung kalau itu Bekti dan benar bahwa pipinya chubby. Ada tali abstraknya kali ya antara saya sama Bekti, jadi kita sudah nyambung dan ga ada sungkan-sungkannya gitu. Mungkin ini efek kita yang sering sekali berkirim pesan atau telepon. Padahal di bayangan saya Bekti itu model gadis yang rame gitu, tapi ternyata nunggu dia berjam-jam baru bisa menyimpulkan kalau dia memang Bekti yang saya kenal di dunia perchatingan, bakat ceritanya baru keluar. Hehe.

Bekti adalah gadis Lampung, yang bekerja di Bogor. Entah skenario semesta yang mana akhirnya melingkarkan kami pada lingkar pertemanan yang mbulet. Bekti kenal Agit, Agit kenal saya, dan akhirnya saya kenal dan jadi dekat sama Bekti. Aslinya dia itu melo anaknya, dan bikin gemes saya kadang-kadang. Pengen jitak, tapi jauh. >.<

Bekti.jpg
ini Bekti yang senang sekali waktu kali pertama naik kereta

Setelah bersiap-siap dan merapikan diri, kami berangkat menuju peron dan mengantre untuk komuter jurusan Rangkasbitung. Orang-orang berjubel menunggu kereta ke Rangkas. Entah seperti antrian apa, rasanya banyak sekali orang. Terus mikir ini nanti apa muat ya keretanya. Begitu kereta datang semua berdesakan masuk. Badan saya yang kecil tentu kalah sama mereka yang badannya besar-besar, daripada saya ringsek di tengah saya memilih menunggu semua masuk baru saya antri masuk. Dan berdirilah saya, ngenesnya lagi tangan saya ga sampai buat pegangan ke pegangan yang ada di kereta itu. Wkwkwk. Ya Allah kasian sekali saya, ya. Syukurnya ada Bekti yang bisa saya pegangin kalau-kalau saya tidak seimbang berdirinya.

Kata Eka, temen saya yang kerjanya di Jakarta, begini ini adalah hal yang biasa. Orang berdesakan di KRL, sampe penuh sesak itu adalah pemandangan setiap hari. Heuheu.

 

Orang – Orang RCB

Kalau kata Liya, saya remidi ke Lampungnya. Pasalnya saya hanya tahu Bandar Lampung ketika siang hari dan itu pun hanya kotanya. Kalau tidak berkat orang-orang RCB ini bahkan saya malah cuma tahu Way Halim saja. Hehe

Apa itu RCB? Gita dan teman-temannya punya kelompok yang sukanya ngumpul bareng, main bareng terus mereka juga bikin blog buat ditulisi bareng-bareng, yang kemudian dinamai RCB atau Ragam Cerita Bersama.Β Ini rumahnya RCB. Sebenarnya awalnya saya hanya kenal Gita atau di blog dia lebih dikenal dengan Agit (selanjutnya akan saya sebut Agit saja). Tapi entah karena kebiasaan kami yang mana, sedikit demi sedikit Agit cerita tentang RCB, siapa saja anggotanya bagaimana keseruan mereka dan meski belum pernah ketemu tapi rasa-rasanya kami sudah saling mengenal, lewat tulisan.

Oke, itu sekilas penjelasan tentang RCB yang tidak membantu~

Sekarang mari kita kenalan dengan orang-orangnya.

Β 

Agit

β€œKupikir hadiah terbaik adalah pertemuan. Insya Allah kita akan bertemu.”

Kutipan surat saya ke Agit beserta kado yang sudah saya kirimkan duluan dan baru boleh dibuka olehnya tanggal 8. Sengaja kami membuat surprise. πŸ˜›

Saya dan Bekti tiba di Bandar Lampung tengah malam. Benar-benar tengah malam yang sampai abang tukang grab aja nolak kita karena kemaleman, lebih tepatnya mendekati pagi. Mana di tolaknya ga hanya sekali. Sedih 😦

Pada akhirnya kita harus merepotkan Agit dengan meminta di jemput tengah malam di depan Rumah Sakit Imanuel. Dan saya benar-benar kaget ketika yang jemput adalah Agit sendiri dan pamannya. Tuh kan, orang mau nikah harusnya dipingit, la ini malah disuruh jemput kita-kita.

Ini adalah kali pertama saya bertatap muka langsung dengan Agit, benar-benar Agit yang bisa dicubit pipinya, yang bisa dipeluk, biasanya kami hanya bertukar sapa lewat video call (itupun bisa dihitung jari), pesan suaraΒ ataupun pesan whatsapp. Rasanya seperti sudah lama sekali kenal. Tidak ada kesan aneh waktu kami bertemu.

Kami bertiga tidak beda jauh, sama-sama kecilnya. Kalau yang pernah ketemu saya, ya kira-kira Agit sesaya. Yang khas dari Agit adalah suaranya, suaranya yang suka bikin saya kangen. Agit kalau manggil saya juga khas, ‘Ikha’ yang benar-benar pakai huruf ‘kh’. Bahkan saya sendiri kalau menirukan agak kesulitan, karena tidak terbiasa. Lidah saya yang Jawa, nama saya itu akan terbiasa terbaca menjadi ‘Ika’.

Agit adalah alasan saya ke Lampung, sebagai seorang sahabat dan saudara jauhnya saya ingin sekali menyaksikan dan menghadiri hari bahagianya. Saya ingin memeluknya, menyaksikan dia tersenyum bahagia setelah perjalanan panjang yang ditempuhnya. Yap, tanggal 9 September lalu adik saya ini menikah dengan seorang laki-laki yang selalu disebutnya Tuan di dalam tulisan-tulisannya.

Barakallah.. bisik saya berkali-kali saat ijab qabul selesai diucapkan.

 

Tuan

Rasanya tak lengkap menceritakan Agit tapi tidak menceritakan tentang Tuan. Sesingkat-singkatnya pertemuan saya dengan Agit lebih singkat pertemuan saya dengan Tuan. Kita benar-benar sempat bertukar sapa saat sesi foto bersama, Tuan dan Agit berfoto bersama. Karena ruang tamu untuk laki-laki dan perempuan terpisah. Saat pamitpun saya hanya berpesan ke Agit untuk menyampaikan salam dan maaf saya ke Tuan, karena tidak bisa berlama-lama di Lampung.

IMG-20180909-WA0019.jpg
Agit dan Tuan

 

Oleh-oleh khas

Sub judul ini mewakili tiga orang manusia yang pengen saya sebut oleh-oleh khas.

β€œAku balik jam 12 ya, aku mau liat menara Siger, khasnya Lampung.” Kata saya ke teman-teman waktu ditanya kapan balik.

β€œSorean saja, ga usah ke menara Siger. Kita jalan-jalan dulu.”

β€œPengan punya foto khasnya Lampung. Terus apa dong yang khas dari Lampung..”

β€œIni, kita bertiga. Cuma ada di Lampung ini,”

β€œhahaha, jadi ini khas ya. Ya udah kalau gitu foto dong sama orang khas Lampung.”

Dan berfotolah kita seperti ini…

P_20180909_123200
Kiri ke kanan : Mas Ricki, Luin dan Mas Pit

 

Yang pertama adalah Luin

Luq-Luq Int

Kali saya bertemu Luin di kamar Agit, saat dia masuk dan Agit bilang ada Mbak Ikha. Luin langsung mengenali saya, sementara saya ga inget kalau itu Luin. Sebelum Luin, ada juga saudara Agit yang langsung kenal saya. Tiba-tiba saya merasa seperti artis, dikenal banyak orang. Halah. πŸ˜€

Kupikir Luin itu anaknya diem, atau kalem. Setidaknya itu kesan pertama sampai satu jam pertemuan kami. Ternyata tidak. Bu Guru satu ini adalah orang yang rame dan lincah. Pantaslah kalau dia jadi guru, kelasnya tidak akan sepi. Coba lihat saja, gayanya di foto itu. *tepok jidat. hehehe

Luin ini anaknya suka iseng. Saya pikir kalau RCB ga ada Luin pasti kalau ngumpul ga akan rame. Kalau anak RCB lagi makan bareng dan ga ada Luin, pasti ga akan ada yang iseng nuang sambel sama saos banyak-banyak di mangkok temennya. Ya ga Luin??? πŸ˜›

Satu hal yang saya iri dari Luin, dia ini bisa jahit saudara-saudara. Pokoknya saya suka iri sama orang yang bisa jahit, pasalnya saya belom bisa jahit. Hahaha. Dan satu hal yang saya heran, dia termasuk salah satu orang yang merasa bahwa kodok itu lucu, imut dan menggemaskan.

β€œBagian mana sih lucunya? Yang ada gelii Luiin.”

“Wahai Luin, aku punya banyak kodok di sungai belakang rumah. Sini main, kukasih sama kamu semua. :P”

P_20180909_123331_BF

Mas Pit

Begitu Luin bilang mau manggil Mas Pit dan Mas Pit datang, saya sudah langsung tahu kalau itu Mas Pit. Rambutnya panjang, tinggi, kalau bukan acara nikahan sudah bisa dipastikan dia akan menyamar kayak seniman-seniman gitu. Misal, rambutnya ga diiket. Mungkin. πŸ˜›

Dua orang yang saya tulis terakhir ini sudah bisa dipastikan orangnya tinggi-tinggi. Saya juga kalah tinggi sama Luin, pokoknya diantara mereka bertiga ini saya paling tidak tinggi. Nah, di foto atas itu saya sampe naik satu tingkat lantai biar ga keliatan kecil amat. Hahaha.

Selain pintar ngelukis, tukang foto, Mas Pit ini juga pecinta hewan-hewan yang menurut saya juga bikin geli. Dia suka katak, kaki seribu, wawung dan reptil-reptil lainnya.

Dah, pokoknya Mas Pit orangnya yang kayak gitu lah. Kalau Mas Pit baca ini saya cuma mau bilang.

β€œMas Pit, sejujurnya aku mau tanya resep rambut lebat dan panjangmu. Pasti itu ga rontok kaan, apa sih resepnya. Bagi doong.”

 

Mas Ricki

Sama dengan Mas Pit, Pak Guru satu ini juga tinggi. Saya secara langsung belum pernah chating dengan Mas Ricki, tapi kalau komenan di blog kayaknya sudah pernah. Pernah ga ya? Dalam pandanganku Mas Ricki ini orangnya mengayomi dan bijak gitu. Sabar juga. Keliatan bagaimana dia menghadapi keisengan Luin. Kelihatan lah kalau dia guru. Semoga dia tidak sedang jaim. Hahaha

Dan yang terpenting dia baik hatiiii, sudah ntraktir kami makan bakso dan mie pangsit.

β€œMakasih banyak Mas Ricki, semoga rejekinya lanyar ya Pak Guru.”

 

Keliling Kota

Hal selanjutnya yang kita lakukan adalah makan. Hmm. Kami keluar dengan tiga motor, saya sama Bekti. Kita disini tentu minus Gita dan Tuan, karena mereka masih ada banyak tamu. Bekti memang orang Lampung, tapi dia juga bukanlah orang yang hapal jalan. Jadilah kami mengekor di belakang.

Lampung waktu itu panas, menyengat. Tapi kalau dibandingkan Surabaya masih panas Surabaya. Kalau Lampung panasnya hangat menyengat, kalau Surabaya panasnya serasa membakar kulit, ada ces-cesnya gitu. Kalau kata orang-orang, orang yang sudah tinggal di Surabaya itu akan tahan panasnya kota manapun di Indonesia. Karena Surabaya itu panasnya beda.

Usai makan bakso dan pangsit, kami memutuskan ke toko oleh-oleh gang makam. Karena kami berlima tapi hanya tiga kepala yang memakai helm, maka Mas-Mas itu memilihkan jalan yang berputar-putar, istilahnya lewat gang tikus. Kami sempat terpisah dengan Luin karena terkena macet, tapi akhirnya bertemu di dekat tokonya.

 

Setelah mendapat beberapa jajan, kami bersiap untuk pulang.

**

Mereka semua bersikukuh ingin menahan saya agar tinggal lebih lama. Saya juga ingin, tapi Senin saya sudah harus di Jakarta, saya ada janji ke tempat teman saya, Bekti juga harus masuk bekerja.

Rasanya belum tuntas dengan perjalanan kali ini. Saya masih ingin berkunjung ke Lampung. Pengen naik gunung bareng mereka, ke Gunung Betung. Masih ingin menyebrang ke pelabuhan Bakau dalam keadaan terang biar bisa liat lumba-lumba di lautan. Pengen naik kereta sekali lagi ke Merak.

Terima kasih, Lampung. Terima kasih RCB. Terima kasih, Agit sudah mau direpoti banyak-banyak. Terima kasih Mas Pit, Mas Ricki, Luin sudah menemani kami jalan-jalan. Dan Bekti, terima kasih banyak sudah berbagi waktu, berbagi kelelahan dan berbagi cerita dalam perjalanan kali ini.

Kalian semua menyenangkan. Saya tidak kapok meski diajak muter-muter jalan dan berpanas-panasan lalu sampe Surabaya jadi gosong dikit. Hehehe.

Advertisements

39 thoughts on “Bertemu Kawan-kawan Bloger di Lampung

    1. Aku memang agak pendiam, Mbak. Dan lebih bebas kalau nulis. Kalau cerita biasa belum tentu bisa sebebas ini. πŸ˜†
      Alhamdulillah menyenangkan sekali mbaak. Hihi

      Like

    1. Aman Mas Des. Itu rel kereta di depan stasiun, pas Bekti baru turun dr Kereta dia minta foto.

      Wah iyakah Mas Des. Aku ga nyadar juga berapa panjangnya, asal nulis aja. Terima kasih sudah membaca Mas Des.
      πŸ˜€

      Like

    1. Seruuu, terus sekarang jd pengen meet up – meet up lagee.
      Heuheu, mungkin ada sejenis perasaan lega setelah sekian lama cuma bisa bersua lewat maya. Jdnya bahagia gitu 😳

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s