Hujan Bulan Nopember : Rasa Percaya

Aku duduk menghadap dinding. Kursi paling pojok. Memandangi kendaraan yang lalu lalang di pinggir jalan. Hujan sudah tiga jam lamanya menghentikan dirinya turun. Menyisakan genangan kecil di pelataran tempat makan. Halaman itu masih basah. Udara masih sejuk. Pikiranku juga. Aku belum mengantuk.

Kulirik seseorang di sebelahku, kamu. Masih terdiam dengan kening yang sebentar berkerut lalu menunduk atau sebentar membuang pandangan entah kemana. Es krim atau udara di luar jendela sana?

Tempat makan ini makin malam makin ramai. Tapi pertanyaan di kepala kita belum juga usai. Timbul tenggelam mencari keberanian, seperti kayu terapung di perairan.

Es krimku sudah mencair, minta segera dihabiskan. Begitu juga dengan es krim Matchamu, kupikir tinggal gigitan terakhir untuk bisa membuat kita beralasan pulang, selain karena malam sudah larut.

Beberapa detik sempat tercipta sunyi. Tidak lama, beberapa detik saja.

Di saat seperti itu, aku masih meresapi pertanyaan entah keberapa tadi. Pertanyaanmu yang membuatku termenung lebih dari sekali.

“Menurutmu apa yang membuat suatu hubungan tetap terjaga dengan baik, Mbak?”

“Kalau dalam hubungan pertemanan, menurutku rasa percaya, pemahaman dan penerimaan. Tapi kupikir sebuah penerimaan adalah hal terpenting dari semuanya.. Kalau menurut sampean?”

“Kalau menurutku suatu hubungan akan berjalan dengan baik, utamanya adalah karena rasa saling percaya…”

Jawabanmu masih panjang, tapi sengaja aku potong sampai kalimat yang aku ingin sisipkan di sini.

Kamu tahu? Waktu itu aku teringat percakapan Chinmi (yang datang sebagai orang asing dari kuil Dairin) dengan Ho Jun di komik New Kungfu Boy 2, “Kepercayaan tidak bisa dibuat, tapi dilahirkan.”

Aku setuju dengan kalimat bahwa rasa percaya itu dilahirkan. Oleh karena dia dilahirkan, maka kupikir tidak serta merta perasaan yang lahir itu biasa. Dia luar biasa. Karena dia berkemungkinan akan tumbuh dan membesar, maka rasa percaya juga bisa tumbang dan patah jika tidak dirawat dan dijaga dengan baik. Oleh karena dia tumbuh dan bisa patah, maka rasa percaya itu adalah suatu yang sangat berharga.

Tapi akakah semua hal yang bisa tumbuh dan patah itu berharga? Kalau itu tergantung, bagaimana kamu menempatkan hal itu.

Tapi, aku juga yakin bahwa rasa percaya yang begitu berharga itu tidak serta merta bisa diberikan kepada sembarang manusia. Harus dengan hati-hati.

Dalam hidup, kita mungkin saja sudah sering kali memberikan rasa percaya. Kepada teman, sahabat, bahkan orang asing sekalipun dengan kadar yang berbeda-beda.

Dalam hidupku pun begitu, dan kemarin, aku baru saja melahirkan rasa percaya untuk kesekian kalinya. Kali ini kepadamu, sebagai teman bicara, dan dengan hati-hati. Aku percaya pada kejujuran-kejujuran kecil yang kamu ceritakan. Pada jawaban yang kadang radak kaku, dan tertahan. Pada cerita yang beberapa kali membuat jeda setelahnya.

Lalu, bagaimana jika aku juga percaya pada ceritamu tentang kodok yang bahagia karena hujan. Apa kabar kodok itu sekarang? Bulan Nopember sudah beberapa kali hujan, kan?

….

“Ayo kita pulang, Mbak.”

Aku tersentak dari lamunan, ternyata barusan kamu menambahkan beberapa kalimat dan entah berapa pertanyaan lagi. Sementara otakku masih memikirkan, “Duluan mana, percaya atau sebuah penerimaan yang harus kita berikan?”

Ah, mungkin kita harus melahirkan rasa percaya itu dulu untuk kemudian menumbuhkannya dan menerima dengan penerimaan yang utuh. Entah itu sebagai teman, sahabat atau yang lebih dari itu sekalipun.

……

“Iya, ayo pulang.”

Kita berjalan ke parkiran sepeda motor. Menyusuri halaman yang masih basah. Dan lagi, kamu menyebutku dengan sebutan “Anak SMP” itu.

“Jadi, kamu gapapa punya teman kayak anak SMP begini? :p”

.

.

.

Surabaya, 13 Nopember

****


PELANGI REDA

Selalu ada alasan sesuatu ada
Selalu ada alasannya meniada
Bertanya-tanya kutub rerasa melebur
Mengabur menghambur membaur
Menerka-nerka ada apa


Di ujung benua, di tepi angkasa
Di palung samudera, di akhir masa
Perjalanan setiap manusia
Bermuara di hatinya
Usah cari mengapa,
Jawabannya ada
Sebab alasannya ada


Dengar nurani riuh berbisik memanggil
Reda pelangi kalbu mengusik kembali
Terlalu jauh kaki melangkah meneduh
Melabuh bersauh mengeluh
Tanpa berhingga dia menduga


Segala bicara
Tak ada jeda
Biar saja


Teman Imaji : Pelangi Reda (Hujan Bulan November)

61 thoughts on “Hujan Bulan Nopember : Rasa Percaya

  1. Aku rasa memang harus menumbuhkan rasa percaya dulu deh.
    karena luka itu timbul dari orang yang kita percaya, dan penerimaan itu kalau sudah ada luka..
    yuk sama-sama terluka, terus menangis bersama..
    biar bisa nerima, hahaha

    Liked by 1 person

  2. Ini, saya baca komen-komen di atas, ngapa sepertinya pada mengerti kisah dibalik hidup Mba Ikha siiiih wkkwk 😀

    Etapi mau ngomentarin sedikit ah, soalnya saya salah satu orang yang percaya kalau suatu hubungan yang baik itu yang berlandaskan saling dapat dipercayai~

    Liked by 1 person

      1. hihi aamiin…aamiin sayang 😍😍😍

        Eh, temanku Eka Sari ada di Surabaya loh, terus aku rekomendasiin kamu buat jadi teman jalan-jalan terkece dan tersabar. Heee, boleh kan Ikha?

        Btw, aku kangen jatuh cinta, dek say. Cuma dalam posisi jatuh cinta saja aku bisa nulis romantis. 😢

        Iya, andaikan aku bisa seprtimu. 😐

        Liked by 1 person

      2. Waaah, mbak maaf baru bales, liburan jd agak susah sinyal di rumah. susah buat akses blog.

        Iya mbak, kemarin mbk Eka juga Wa, cuman kita jadwalnya bentrok, aku pas hari kerja, jadinya juga belom sempet ketemu. Mbak Eka juga ga lama di Surabayanya, cuma seharian. heuheu

        nanti jatuh cinta sama pasangan halal aja mbak, hihi. :”) ❤

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s