Buku : Na Willa dan Cerita Masa Kecilnya

Kali ini saya akan bercerita tentang buku. Masih seperti cerita buku sebelumnya yang menceritakan tentang buku anak-anak. Kali ini juga, judul bukunya adalah Na Willa.

Na Willa merupakan buku yang baru saja saya kenal beberapa hari lalu. Saya langsung tertarik dan membelinya setelah tidak sengaja membaca berita di Tirto tentang Tren Buku Cerita Anak. Berbekal rasa penasaran (yang besar), saya langsung googling mencari reviewnya di Goodreads.Ternyata banyak yang suka. Malahan beberapa ada yang berkomentar buku itu mengingatkan pada Totto-Chan, salah satu buku anak-anak yang saya sukai juga. Selama berselancar itu saya juga menemukan catatan Bang Joe tentang Na Willa yang makin menambah keinginan saya untuk membaca buku ini.

Na Willa cetakan pertama berjudul Na Willa : Serial Catatan Kemarin. Namun yang saya baca sekarang adalah terbitan ulang oleh POSTPress. Buku pertama berjudul Na Willa saja, tanpa embel-embel dibelakangnya. Sementara buku kedua berjudul Na Willa dan rumah dalam gang. Seperti pada foto di bawah ini.

Na Willa dan kawan-kawannya

Buku ini ditulis oleh Reda Gaudiamo. Jujur saya tidak terlalu tahu siapa itu Mbak Reda. Yang saya tahu, saya sudah jatuh cinta pada cuplikan cerita di buku ini ketika kali pertama memegang bukunya. Heuheu. Setelah saya telusuri ternyata beliau ini adalah seorang penyanyi dan juga penulis, beberapa kali juga ternyata saya pernah mendengarkan puisi Sapardi yang dibawakan oleh beliau di Youtube.

Oke, kembali ke Na Willa…

Na Willa, Na Willa… awalnya saya kira Na Willa itu namanya apa gitu. Ternyata anak kecil dalam tokoh itu namanya Na Willa. Ooh…

Sebentar, baiknya mulai dari mana ya? Perasaan suka saya kepada cerita Na Willa sampai-sampai  membuat saya bingung harus menceritakan Na Willa dari mana dulu. Hmm, baiklah..

Na Willa dan Teman-temannya

Na Willa gadis kecil dengan kulit putih, rambut tegak dan mata sipit, yang selalu ingin menjadi seperti Mak. Mak yang mempunyai kulit coklat dan rambut  berombak, berbelok-belok. Willa tinggal di Surabaya, di sebuah rumah yang berada di tengah-tengah gang. Rumah yang kata Na Willa didatangi dari ujung gang sebelah kiri ataupun kanan akan melewati delapan rumah.

Na Willa mempunyai teman yang diceritakannya satu persatu dengan ciri khasnya masing-masing. Na Willa menghabiskan hari-harinya dengan Mak, Mbok, Farida, Dul, atau Bud. Di buku bagian pertama ini tokoh Pak belum diceritakan secara mendalam di keseharian Na Willa, selain juga karena Pak masih bekerja sebagai pelaut yang jarang pulang.

Farida yang tidak bisa bilang ‘r’, jika diejek oleh Dul dengan memanggilnya “Falidaaa.. Falidaaaa”, dia akan marah-marah. Mengejar Dul hendak memukulnya, tapi tidak pernah berhasil. Dul yang selalu menang tiap kalimain kelereng, yang punya banyak layang-layang yang benangnya gelasan dan selalu menang tiap kali dimainkan. Dul yang suka mengejar kereta lalu melompat di sambungan antar gerbongnya. Sebelum akhirnya kakinya putus terlindas kereta. Dan Bud, Budyang aduh..ingusnya selalu keluar sampai melewati garis di bawah hidungnya. Yang kalau dia berjongkok maka ingusnya akan ndlewer panjaaang sekali. Lalu disedot.. sroooot..srooooot (iyuuh 😀 )

Permainan Anak-anak Jaman Dulu

Banyak sekali bagian yang menceritakan keseharian Na Willa dan permainannya dengan teman-temannya. Permainan jaman dulu yang rasanya sekarang sudah sangat jarang sekali ada anak yang memainkannya. Main ayunan,jungkat-jungkit di rumah, main kelereng, petak umpet, masak-masakan, mengejar kereta, dan layangan.

Na Willa sering bermain masak-masakan bersama Farida, alat masaknya masih menggunakan alat masak dari tanah liat dan semuanya kecil-kecil.Membuat pecel, menggoreg kerupuk yang minyak gorengnya dari daun bunga sepatu yang ditumbuk kemudian keluar minyaknya sendiri, sambal pecelnya dari batu bata merah yang ditumbuk lalu diberi air dan kerupuknya dari kulit kerang putih yang sering muncul dari balik pasir. Na Willa bermain layang-layang bersama Dul, meski Na Willa dan Farida hanya bertugas memegangi layang-layang sebelum diterbangkan. Berlari mengejar kereta, meski Na Willa selalu tertinggal oleh Dul. Main kelereng, meski Dul selalu menang. Dul hanya bawa satu gundu, tapi ketika pulang kantong Dul pasti akan penuh dengan kelereng. Dan itu membuat semuanya kesal.

Anak –anak dan Rasa Penasaran

Sampai di bagian ini saya ternyata juga ingat denganTotto-chan. Totto Chan dan rasa penasarannya waktu masih anak-anak. Ketika dia mencari sapu tangannya misalnya, ketika dia masuk ke gundukan pasir yang dikiranya dia bisa keluar ternyata tubuhnya malah tenggelam dalam adonan semen. Willa pun juga mempunyai rasa penasaran yang besar, misalnya bagian cerita Na Willa dan radionya.

Bersama Mak, Na Willa suka sekali mendengarkan radio. Nama radionya ERRES. Dari dalam tubuh ERRES selalu keluar suara-suara. Ada orang nyanyi, ngomong-ngomong dan membacakan berita lainnya. Na Willa yang penasaran menyangka bahwa di dalam ERRES pasti ada orang-orang kecil yang mengeluarkan suara-suara itu, pasti ada Lilis Suryani yang menyanyi. Sampai suatu ketika NaWilla naik ke buffet, membawa obeng dan mengbongkar ERRES. Mak memergokinya, sebelum akhirnya marah dan tak urung menjelaskan tentang gelombang dan peralatan listrik yang ada di dalam radio. Meski Na Willa tidak paham betul apa yang dibicarakan oleh Mak.

*****

Membaca Na Willa, bagi saya seperti memutar potongan kisah anak-anak setiap kali membalik halamannya. Anak-anak yang polos dengan cerita kesehariannya yang tidak terlepas dari kehidupan orang dewasa. Misalnya ketika dia makan kue cucur di rumah Farida. Saat itu mereka memergoki Mbak Tin, kakak Farida, yang menangis -entah karena apa- sampai tersedu-sedu menjelang hari pernikahannya. Mbak Tin yang tidak tersenyum sama sekali waktu dipelaminan, meskipun suaminya Mbak Tin-yang giginya kata Willa berwarna emas itu- selalu tersenyum sumringah di sebelahnya. Mbak Tin bibirnya merah, pipinya merah dan matanya juga merah.

salah satu cerita Na Willa

Bahasa anak-anak yang lucu dan polos membuat buku ini menyenangkan untuk dibaca orang dewasa sekalipun masalahnya sedikit rumit. Bagaimana sebuah kebandelan Dul yang mengejar kereta, guru yang tidak mau salah dan tidak mau mendengar penjelasan muridnya, diceritakan dari sudut pandang Na Willa. Dan kisah-kisah lainnya yang tidak mungkin saya ceritakan satu persatu. Lagi, katanya buku anak-anak yang baik, adalah buku yang juga disukai oleh orang dewasa. Selain itu juga membaca buku ini membuat kita (yang sudah besar iniii) bernostalgia pada kenangan-kenangan waktu kita masih anak-anak, waktu masih memainkan berbagai permainan yang seru seperti Na Willa.

Saya kembali teringat waktu masih kecil sering diteriaki Emak disuruh pulang dan mandi, ketika hari sudah mulai gelap dan saya masih asyik bermain. Waktu kedinginan menggigil karena saking lamanya bermain air hujan. Waktu pertama kali masuk sekolah dan malam sebelumnya saya menantikan dengan perasaan yang dag-dig-dug. Kita tentu punya kenangan di masa kecil yang seperti itu, kan? Waktu membaca buku ini saya ikut menikmati semua kelebatan memori itu lagi.

Buku pertama Na Willa begitu menarik, buku kedua tak kalah menarik. Saya berdoa semoga Mbak Reda segera menyelesaikan buku ketiga Na Willa. Hehe. Hebatnya lagi, buku ini bulan Maret 2019 nanti akan diterbitkan dalam bahasa Inggris, kemarin saya membaca cuplikannya di Instastory @post_santa. Keren, kan. 

Dan…jika teman-teman sekalian penasaran, silahkan baca review yang lebih informatif di Goodreads aja atau kunjungi Instagram PostPress. Kalau tulisan ini hanya sekadarnya saja. Hehe.

Sekian, dan selamat hari Kamis~

38 thoughts on “Buku : Na Willa dan Cerita Masa Kecilnya

  1. waaaah aku terharu tulisan aku di-link gitu… seneng rasanya kalau tulisanku yang seadanya itu bisa menambah rasa penasaran!
    kamu setuju kan kalo buku Na Willa itu emang bagus? hehehehee…

    iya nih, aku ga sabar nunggu maret 2019.

    enjoy!!!

    Liked by 1 person

  2. Jadi tertarik baca Na Wila. Oya mbak, buku anak serial Jip dan Janeke juga cukup asyik sih menurutku. Tp Jip dan Janeke ini khas petualangan anak usia PAUD sih

    Liked by 1 person

    1. Mungkin Patrik lupa ngasih tahu dan kamu telah diculik Spongebob. 😜

      mata ikan emang harusnya di kepala, kalau pindah tempat dia jd gitu. Menyakiti sukanya. 😢

      Like

      1. Haduh, harusnya dia titip pesan ke gary saja.

        Emang yang enggak sesuai tempatnya suka nyakitin, ya, mbak. Kaya perasaan juga gitu. Hati juga. 😞

        Liked by 1 person

  3. Covernya bagus sih ini, sukak. Kayaknya kalau misal saya ke Gramed dan lihat buku ini, pasti saya tertarik untuk ngeliatnya. Cover yang terkesan simplenya itu memanggil banget soalnya hehhe.

    Dan, ini cerita tentang anak-anak dan ditulis dengan gaya bahasa like anak kecil yaaak? GEMAAAS PASTI YA KAAN 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Nur Irawan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s