Hujan Bulan Desember : Pulang

Hujan terus jatuh menerpa tanah kering di kotaku, menciptakan bau ampo yang harum. Bumi basah sejak jam tiga sore hingga malam menjelang. Tidak adanya tanda-tanda hujan akan berhenti, membuatku menghambur dan berbaur dengan hujan tatkala naik sepeda motor menuju stasiun. Aku tidak boleh melewatkan kereta Pasundan. Hingga akhirnya aku kebasahan, sedikit. Dan di sepanjang perjalanan aku kedinginan. Tentu saja, jaketku lupa kubawa serta. Sementara pendingin ruangan kereta ini terus menyala.

Keretaku berhenti di stasiun terakhir ketika malam sudah pekat, aku turun bergantian dengan orang-orang yang sibuk dengan banyak barang bawaan. Aku tidak terlalu mempedulikannya, aku hanya ingin lekas pulang dan merebahkan badan.

Di pintu gerbang, aku menemukanmu sedang menungguku. Kamu membawa dua helm, memberikannya satu untukku dan mulai menyalakan sepeda motor. Pukul sebelas malam, motormu melaju perlahan membelah jalanan, meninggalkan gerbang stasiun yang masih ramai dengan orang-orang yang juga ingin pulang.

Jalanan kota mulai sepi, tapi tidak mati. Setidaknya tidak ada kemacetan di perempatan ketika lampu merah menyala. Angin bertiup lembut mengantarkan aroma debu jalanan yang samar tapi ada. Menggantikan udara kereta yang aromanya masih tersisa di olfaktori. Aku yang duduk diam di jok belakang, menikmati semua itu sambil sesekali menjawab pertanyaanmu.

Dari balik  punggung kirimu, aku mengintai wajahmu yang ada di kaca spion. Satu hal yang tidak selalu berani aku lakukan karena sungkan. Bibirmu sedang menggumamkan suara lirih yang tidak bisa kudengar. Mungkin lagu atau sebentuk doa kepada Tuhanmu. Jika kamu sedang berdoa, semoga di antaranya ada doa untukku.

Kemudian pandanganku kubuang ke kanan. Kembali mengintip kaca spion dari balik punggungmu. Kali ini yang kutemui adalah wajahku sendiri. Mengenakan helm hitam pemberianmu, dia -gadis di kaca itu- sedang tersenyum. Samar-samar aku menemukan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan.

Roda sepedamu terus melaju menyusuri Jalan Biliton hingga habis, lalu berbelok ke Jalan Sulawesi. Sebentar aku pejamkan mata dan berharap kamu tidak menyadarinya. Aku tidak ingin kamu menyangka aku tertidur. Aku hanya sedang menikmati udara malam dan merasa sedang disambut selamat datang di kota ini. Kupikir aku hanya pergi sebentar, tak tahunya terasa lama. Sebentar kubuka mata dan aku merasakan diriku pulang. Pulang ke perantauan. Aku pulang dan dipeluk oleh kenangan-kenangan di kota ini.

Jalan-jalan yang kulewati, gedung-gedung yang tegak berdiri, barisan bunga di pot-pot taman, hingga jembatan tua dan sungai yang sering aku pandangi dari dalam kendaraan. Semuanya terlihat menentramkan.

Memasuki Jalan Pandegiling kantukku semakin hilang. Udara yang beradu dengan kecepatan motormu membuat kemejamu beterbangan. Aku melekati ujung kemejamu dengan jari jemariku. Memegang erat kainnya dan berharap kamu tidak merasakannya. Aku kembali memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam lalu lirih berdoa. “Semoga Allah selalu memudahkan urusanmu.”

Kubuka mataku, sekelebat sosok menghalau lamunanku, lalu aku tahu perasaan apa yang menyergapku, rindu.
Aku rindu kepada Bapak. Aku ingin pulang (lagi).


Sepeda motor terus melaju, rindu terus menderu.


Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!
Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!
Dan lalu…
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!
Dan lalu…
Advertisements

18 thoughts on “Hujan Bulan Desember : Pulang

  1. Aku tersenyum, menikmati saat membacanya. Membayangkan. Lalu melemparkan kenangan. Aku berharap seseorang pun merasakan begitu, seseorang yang kubuncengkan di jok belakang merasakan hal yang sama sepertimu. Aku berharap begitu… Setidaknya masa lalu itu akan memberinya kenangan.

    Tapi ada satu scene yang membuat saya garuk-garuk kepala… Melupakan jaket? Jaket bisa dilupakan saat berpergian? Aku gak mengerti ini πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    Liked by 1 person

      1. Karena tak berani dan sungkan melihat matanya melalui spion.

        Karena dia memakai kemeja, kemudian beterbangan, yang mana Mbak Ikha tak berani berterus terang membenarkannnya.

        Dan itu bukan Abang gojek, karena Abang gojek pake jaket

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s