Pendakian ke Penanggungan

Lama sekali rasanya ga nulis tentang gunung. Lama sekali juga ga naik gunung. Terakhir jalan-jalan ke gunung tahun 2017, tahun kemarin sama sekali ga kemana-mana. Akhir-akhir ini sering merasa kangen naik gunung, tapi juga ga mau bawa berat. Maunya ada yang bawain tasnya gitu. hahaha

Lalu timbul keinginan untuk bernostalgia sejenak, mengenang perjalanan yang telah lalu.

Terakhir kali saya mendaki adalah ke gunung Penanggungan, dan itu tahun 2017. Enggak tahu kenapa namanya gitu, tapi pikir saya awalnya karena gunung ini tingginya nanggung, alias sekitaran 1.653an mdpl. Eits, jangan salah, meski gunung ini ga sebarapa tinggi, tapi entah kenapa setelah mendakinya saya merasa gunung ini medannya bikin saya geleng-geleng karena capek.

Waktu itu kami berangkat dari Surabaya hari Sabtu siang. Berkumpul dengan teman-teman lainnya di depan terminal Bungurasih, kami berenam naik motor menuju jalur pendakian dari Trawas. Enam orang itu ada Mas Khoi, Zakky, Ajeng, Mbak Cemara, Mas Nazar dan Saya.

Kami sampai di jalur pendakian sekitar (pukul berapa? Entah, bahkan saya pun sudah lupa. wkwkwk) waktu Asyar. Setelah menunaikan keperluan masing-masing, membeli perbekalan dan sebagainya, kami berangkat untuk memulai perjalanan. Tiket masuk ke Penanggungan ini waktu itu Rp.10.000,-, Sekarang? Entah, saya pun tidak tahu.

Dari kiri ke kanan : Saya, Bang Encing, Mas Khoi, Mas Nazar, Dik Ajeng, Mbak Cem dan Zakky

Barangkali saya tidak akan cerita detail tentang perjalanan ke Penanggungan ini, tapi kali ini saya akan bercerita hal-hal berkesan yang masih saya ingat hingga saya menuliskan cerita ini.

Siput Tak Bercangkang

Jika kami memulai pendakian sekitar pukul setengah empat sore, maka sudah bisa dipastikan malam hari kami masih akan terus berjalan. Saya yang waktu itu sudah lama sekali tidak naik gunung, merasa ngos-ngosan dan memilih berjalan di tengah. Jujur rasanya capek sekali, dengan tas keril yang berat berada di pundak. (Tas yang dibawa Bang Encing itu, berangkatnya saya yang gendong)

Sekitar Magrib kami baru sampai (entah di post berapa, mungkin baru) sepertiga perjalanan. Setelah berhenti istirahat, kami melanjutkan dengan memasang headlamp di kepala masing-masing. Namun ternyata hanya ada beberapa head lamp yang kami bawa, sisanya adalah senter. Saya memberikan head lamp saya ke Mbak Cemara, berhubung dia berjalan di depan saya daripada bawa senter, dan saya mengekor di belakangnya.

Nah, hal yang paling tidak saya suka di rute ini adalah adanya siput tak bercangkang atau siput telanjang. Binatang melata ini dengan santainya merangkak di tanah-tanah, bebatuan di sepanjang jalur yang kapan saja bisa kepegang tangan saya, karena waktu berjalan dengan kondisi jalanan yang menanjak saya pasti mencari pegangan. Ya, emang tanah gunung ini rumah mereka sih, saya yang salah malam-malam jalan-jalan.Hahaha

Dengan begitu beberapa kali ada waktu-waktu dimana saya teriak karena kaget. Sebenarnya kalau melihat siputnya saya ga jijik sih, tapi momen tangan megang benda berlendir yang empuk di tengah kegelapan itu yang bikin saya teriak. Kageeeet >.<

Gambar terkait
sumber :wisatapriangan(dot)co(dot)id

Beruntung ada Mbak Cemara di depan saya yang siap mengabari saya di sebelah mana ada siput dan jalan mana yang tidak ada siputnya. “Alhamdulillah, kamu penolongku Mbaak :”* “

Ada Sinyal

Yes, di pos bayangan gunung Penanggungan ini ada sinyal, malah masih 4G. Seneng ga kira-kira? Yang mau live IG masih bisa, yang mau update status masih bisa, yang mau ngeblog dari atas bukit juga bisa banget.

Hadirnya sinyal di pos bayangan ini bagi saya adalah peristiwa ganjil tersendiri. Hahaha lebay ya. Kebetulan waktu saya melakukan perjalanan ini adalah masa dimana hari-hari saya rasanya kepala penuh, ingin sejenak melepas penat dan menyingkir dari hingar bingar keramaian dunia. Salah saya adalah waktu ada jaringan, saya membuka aplikasi perchatingan, hingga yang harusnya kepala saya jernih waktu itu malah sedikit keruh lagi. Lah, curhat.

Tapi dengan adanya sinyal ini enak kok, setidaknya kalian bisa mengabari keluarga jika ada apa-apa atau sekadar mengabari keberadaan kalian.

Teman Baru

Yups, salah satu hal yang saya syukuri dari pendakian ke Penanggungan ini adalah bertemunya saya dengan teman-teman baru. Kalau sama Zakky saya sudah lama kenal, dia adalah teman saya sejak di bangku kuliah. Mas Khoi sudah sempet muncak bareng ke Merbabu bareng juga. Nah, empat kawan lainnya itu adalah kawan-kawan baru bagi saya. Mereka adalah :

Mas Nazar
Saya tidak seberapa kenal dengan Mas Nazar awalnya, tidak begitu akrab. Mas Nazar ini tubuhnya tinggi besar, sama kayak di fotonya itu. Waktu di jalan pun kami tidak banyak bertukar sapa, karena Mas Nazar jalan di depan sementara saya di belakang. Apalagi waktu pulang, saya jalan duluan di depan bareng Bang Encing, Mas Nazar di belakang menemani Ajeng.

Mbak Cemara
“Cemara,” Mbak-mbak dengan gigi gingsul itu memperkenalkan dirinya. Saya mengerutkan kening dan mengulangi namanya.
“Cemara? Saya harus manggil apa Mbak?”
Iya, yang saya ingat nama panjang Mbak ini adalah Evodie Cemara Karenina Latuasan. Saya suka dengan namanya, entah kenapa setiap kali mengingat namanya yang terbayang di otak saya adalah jalan yang panjang di pinggir bukit dengan pohon cemara berjajar di tepi, berjajar rapi di sepanjang jalan itu. Sejuk, menyejukkan mata yang memandang.

Mbak Cem ini orangnya asyik, baru pertama kali mendaki dan pendakian pertamanya adalah ke Penanggungan ini. Dari Mbak Cem ini saya jadi mengingat banyak hal, tentang bagaimana perempuan kalau pertama kali mendaki, tentang bagaimana saya dulu yang juga begitu. Perasaan bingung dan takut saat harus melangkahkan kaki mana dulu di jalan licin dan menanjak, pernah juga saya mengalaminya.

Satu hal yang saya acungi jempol adalah semangatnya Mbak Cem ini besar. Saya dulu waktu mendaki pertama kali ke Semeru tiap 20 meter minta berhenti. Dan sekalinya berhenti ga nanggung-nanggung berhentinya, bisa sampe 10 menit. wkwkwk. Alangkah sabarnya temen saya waktu itu.

Ajeng
Ajeng ini orangnya super rame, yang bikin suasana hidup salah satunya adalah Ajeng. Hal yang khas dari Ajeng adalah ketawanya. Kalau ada yang dikangenin dari Ajeng adalah ketawanya.
Jeng, sehat-sehat ya tugas di luar pulaunya.

Bang Encing
Nah, Abang yang satu ini baru saya kenal ketika pagi menjelang. Namanya sudah disebut-sebut sedari awal, tapi saya belum tahu orangnya. Katanya ada temen yang mau ikut nyusul satu lagi, tapi berangkat belakangan. Sekitar menjelang Shubuh seperti ada suara Bang Encing manggil-manggil Mas Khoi, hingga kami yang masih tidur pun akhirnya terbangun.

Waktu pulang, Bang Encing dengan senang hati membawakan tas saya dan satu tas teman-teman lainnya. Sayanya mah tinggal jalan kaki bawa badan. Enak kan? Wkwkwk. Ternyata Bang Encing ini selain sudah pernah pergi ke banyak gunung, juga gemar membantu lainnya. Waktu di jalan, beliau banyak berkisah tentang pelajaran hidup waktu naik gunung. Cerita yang saya ingat sampai sekarang adalah pengalaman membawa temen perempuan mendaki untuk pertama kalinya.

“Itu butuh kesabaran Mbak, apalagi dia kalau mau jatuh dikit teriak, kepeleset teriak.”

Yes, kesabaran saudara-saudara. Jadi sekali lagi saya ingin berterima kasih pada teman-temen seperjuangan saya yang dulu setia dan sabar menemani saya belajar berjalan lebih jauh ke Semeru. Kalian luar biasa. Kalian orang-orang yang sabar. Argin, Dhani, Sulis, Bang Jek, Irul, Alfa, Doni, Eka, Wilda, dan satu lagi Nisak, terima kasih banyak.

teman-teman saya waktu ke Mahameru tahun 2013

Jadi kangen main bareng deh. hahaha. Terima kasih untuk kalian semua.

pose sak karepe dewe
Advertisements

54 thoughts on “Pendakian ke Penanggungan

    1. Mbak kalau naik bareng temen yang udah pengalaman aja. biar dijaga. hehe. aku dulu pertama naik nangis juga di dalem hati Mbak, pengen bilang, “Ya Allah ga kuat, pengen pulang aja..” tp ditahan-tahan..πŸ˜‚

      Like

    1. Capeek Kak yang jelas. tapi seruu. πŸ˜€
      tapi kalau kuat muterin mall pasti kuat juga buat jalan kaki di gunung.

      udah sering muterin mall kan Kak?

      Like

      1. nah, naik gunung jg gt Kak. tp bedanya masih bawa beban di pundak lagi πŸ˜†πŸ˜†
        kak Leni kalau mau nyoba naik, coba saja ke Ijen kak atau Bromo. itu asyik. jalannya ga terlalu jauh.. hehe
        kalau ga ngecamp kita ga perlu bawa banyak barang juga..

        Like

      1. Kita sama-sama newbie kalau gitu.. πŸ˜€

        Sip, Bang. dua gunung itu bagus-bagus dan menantang. πŸ˜† semoga lekas ke Jawa lagi terus naik ke 2 gunung itu hehe πŸ˜€

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s