Setelah Menonton Film Searching

Hasil gambar untuk poster film searching poster film searching poster film searching
poster film searching/imdb

Sewaktu mengikuti kelas KKS di masjid Ar Rahmah – Teluk Buli bulan Maret lalu, seorang pemateri (bunda Shinta) menyarankan kepada peserta untuk memutar film Searching. Sebuah film yang membuat saya terketuk-ketuk isi kepala. (kemudian saya menyarankan filmnya kepada beberapa teman hehe) Lalu saya menumpahkan isi kepala kesini.

Awal tahun ini, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk lebih banyak mengakses ilmu tentang parenting dari beberapa sumber. Pertama dari kelas Matrikulasi IIP yang mana ini saya didukung banget sama Quree, udah mau mundur dua kali karena awalnya ga kuat sama ritmenya, tapi terus aja dibujuk. wkkwkw. Makasih, Quree. Alhamdulillahnya lagi, saya merasa banyak sekali ditampar dan disadarkan dari kelas ini, meski saya tidak selalu bisa menyimak 100%. Banyak ilmu lama rasa baru juga yang saya dapatkan. Dan yang lainnya dari berbagai kelas offline. Salah duanya adalah SPN dari Masjid Al Falah.

Kembali ke film Searching.

Diceritakan dalam film tersebut sebuah keluarga kecil masa kini yang mendokumentasikan aktivitas mereka dalam PC bersama dengan akun masing-masing. Pamela, sang istri menderita penyakit kanker yang semakin lama kesehatannya semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia ketika anaknya beranjak remaja. Tinggalah David Kim dan anaknya, Margot Kim. Hingga suatu hari David mendapati anaknya tidak bisa dihubungi dan menghilang. Lalu…selengkapnya tontonlah filmnya sendiri. hehe

Yang ingin saya tuliskan disini adalah apa-apa yang saya pikirkan setelah menonton film tersebut :

Pertama adalah membangun kedekatan orang tua dengan anak. Sebelum Margot menghilang, dia sempat membuat panggilan kepada Ayahnya tengah malam, namun David tengah tidur dan tidak mendengar bunyi smartphonenya. Keesokan paginya David menghubungi Margot namun tak kunjung ada jawaban. Hingga akhirnya David melaporkan hilangnya Margot. Selain itu juga David berusaha menanyakan perihal anaknya ke teman-teman masa kecilnya, teman sekolahnya dan teman-teman media sosialnya. Tapi mereka tidak tahu, meskipun mereka berteman di dunia maya (memberikan like dan komen) namun sejatinya mereka tidak tahu apa-apa tentang Margot. David tidak begitu tahu siapa saja yang sebenarnya menjadi teman Margot, bisa ditanya ketika ada apa-apa, bisa ditanya Margot dimana dan sebagainya. David yang semula mengaku mengenal anaknya, kini berbalik mangatakan bahwa dia tidak mengenal Margot (dengan baik).

Saya teringat cerita Bunda Shinta waktu beliau menyampaikan materi di kelas parenting, putri beliau penggemar K-Pop. Waktu bunda tahu hal tersebut, maka Bunda mati-matian belajar tentang artis-artis korea itu, Bunda mencari tahu tim manajemennya, kisah para artisnya dan segala hal yang bisa Bunda cari tahu akan Bunda pelajari. Sehingga ketika putri beliau bertanya tentang korea, maka Bunda adalah orang pertama yang akan ditanyai. Hal ini berlaku juga untuk hal-hal lainnya, Bunda Shinta ingin menjadi tempat bertanya yang pertama untuk anak-anaknya. Saya garis bawahi, menjadi tempat bertanya yang pertama untuk anaknya.

Hal seperti inilah salah satunya yang membangun kedekatan anak dengan orang tua, hingga orang tua harusnya tahu ada apa dengan anaknya jika sewaktu-waktu anak terlihat berbeda. Orang tua benar-benar mengenal anaknya luar dalam. (Kalau yang belakangan ini rame dibahas di kelas Matrikulasi IIP adalah mengenali fitrah anak.) Ini hanya salah satu contoh, banyak hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun kedekatan dengan sang anak.

Tahu media sosial sang anak. “dia biasanya main tumblr.” itu adalah jawaban salah satu teman Margot ketika David bertanya tentang anaknya. “Apa itu tumblr?” Ini bukan tumbler tempat minum, tapi yang dimaksud adalah salah satu media sosial semacam blog. David akhirnya mencoba mencari media sosialnya. Tapi sayang instagramnya dikunci,Β  David akhirnya membuka akun-akun media sosial milik anaknya (dengan cara mengakses langsung dari akun anaknya).

Hal ini mungkin adalah tantangan tersendiri bagi orang tua zaman sekarang, yang sekarang anaknya menginjak remaja, sudah mengenal smartphone dan berbagai media sosial lainnya, orang tua harusnya mengenali apa saja yang dibuka anaknya, apa yang diakses, apa yang ditonton. Belum lagi anak-anak sekarang masih kecil pegangannya sudah Hp. hmm. Tapi ibu-ibu sekarang canggih sih ya sudahan, minimal mereka sudah bisa whatsapp, main facebook lah atau instagram juga. Berbeda dengan Emak saya yang diceritain orang masang status di whatsapp saja bingung bagaimana prosesnya, kenapa bisa foto terpasang di sana, terus tanya, “kok bisa kayak gitu? gimana cara(kerja)nya” Giliran saya yang bingung jelasinnya bagaimana bisa seperti itu.

Oh, ya, beberapa waktu lalu saat saya mendengarkan radio Suara Surabaya, dikabarkan bahwa seorang ibu telah kehilangan anaknya sejak sehari lalu. Waktu penyiar radio tanya, “sudah di cek fbnya bu? IGnya? atau statusnya barangkali kelihatan kapan terakhir diakses.” Sang Ibu yang melapor menjawab belum. Nah, kalau orang tua tahu socmed anaknya setidaknya tahu aktivitas maya anaknya seperti apa. Kan repot, kalau mencoba mencari tahu lewat IG tapi tidak saling follow dan akunnya dikunci, tidak berteman di facebook dan lain halnya.

Selanjutnya adalah jangan mudah percaya dengan teman maya (apalagi yang baru kenal). Diakhir film tersebut dijelaskan apa sebenarnya yang membuat Margot hilang, salah satunya adalah kebaikan dan kepolosan Margot yang dimanfaatkan oleh seorang penggemarnya sejak SD (pengagum rahasia gitu) yang menyamar lewat sebuah akun di YouCast (sebuah aplikasi yang digunakan Margot untuk live, mirip-mirip kalau kita lagi live di instagram gitulah menurut saya).

Sekarang banyak sekali fenomena orang hilang, anak hilang karena kepincut sama teman mayanya, entah itu diajak ketemuan terus tidak karuan jejaknya, dikabarkan hilang, kemudian orang tuanya bingung mencarinya, atau bahkan yang lebih menyeramkan dari sekadar itu seperti dirampok dan lainnya. Di Suara Surabaya sering sekali dikabarkan hal yang demikian. Naudzubillah, semoga kita bisa memilah mana teman-teman yang bisa dipercaya.

Demikianlah beberapa hal yang terpikir sesaat setelah menonton film Searching, film ini menurut saya bagus untuk ditonton, baik untuk orang tua maupun untuk kita (para anak-anak yang belum menjadi orang tua). Aslinya setelah menonton film ini dan setelah mendengar materi ini dan itu banyak sekali hal yang terpikirkan oleh saya terkait pengasuhan anak. Lalu mengaitkannya dengan keluarga dan orang tua.

Terakhir, mungkin pelajaran yang diambil harusnya lebih dari ini. Tapi cukup sampai disinilah saya menuliskan. Nah, kalian (kalau juga menonton), selamat menemukan!

58 thoughts on “Setelah Menonton Film Searching

  1. Film keren ini.
    Setuju, film ini menggugah sekali bagi orang tua zaman sekarang.
    Tantangan orang tua untuk berinteraksi dekat dengan anaknya butuh wawasan tentang internet secara lebih baik.

    Liked by 1 person

  2. Aku juga udah nonton film ini mbak Ikha. Sepanjang nonton deg-degan banget. Ikutan sedih :((( *ngebayangin jadi bapaknya heu

    Aku jadi ingat saat SMP dulu, aku sempat marah sama ayahku mbak. Gara2 ayah jadi followers di mana pun sosial media aku wkwk mungkin karena saat kecil nggak terlalu dekat sama ayah, jadinya merasa terganggu aja gitu kalau ayahku tau kehidupan sosial mediaku wkwk

    Tp skrg pas udah gede semakin paham kenapa ayahku ngelakuin itu. Bahkan skrg aku udah nggak ngerasa keganggu berbagi kehidupan sosialku, contohnya tulisan-tulisanku di wordpress. Rasanya malah tenang nggak ada rahasia sosial media kepada orang tua haha

    Liked by 1 person

    1. iya
      mbak, sepanjang nonton deg-degan, apalagi pas pencarian di danau itu. :((

      wkwkwk. merasa diawasi terus ya mbak shinta kalau di follow semua-muanya gitu.

      Alhamdulillah ya mbak sekarang sudah tercerahkan, semakin dewasa semakin kita paham apa maksud baik dibalik sikap orang tua.
      Ayah mbak baca tulisan di wp mbak juga berarti ya.

      nah, iya ini mbak. tidak ada rahasia tentang sosial media ini memang bikin tenang hati. πŸ˜€

      Liked by 1 person

      1. Banget mbak. Yang nonton ikutan sedih. Terus makin sedih saat bapaknya mondar mandir ke sana kemari minta pertolongan pihak2 terkait 😒

        Wkwk betuuuul. Padahal dulu nggak ngapain2 juga di sosial media. Tapi, entah kenapa nggak suka aja dikepoin orang tua πŸ˜‚ Mbak Ikha pernah mengalami ini juga nggak?

        Beberapa iya kalo ada tulisan yg emang ditujukan untuk ayahku wkwk

        Bener mbak bikin tenang hati hahaha

        Like

      2. huum mbak, 😒

        wkwkwk. ga pernah mbak, tapi adikku pernah di posisi mbk Shinta, dan aku pemfollow sosmednya. kalau orang tuaku ga pake sosmed mbak sama sekali mbak, bisanya baca sms sama telpon saja, orang zaman dulu. πŸ˜†

        Liked by 1 person

      3. Hahahaha aku pun skrg di posisi ayahku mbak. Aku followers semua akun sosmed adikku. Duh, berasa udah berumur ya mbak kalo udah berubah gini wkwkwk

        Oh gitu, mamaku juga kayak gitu kok mbak. Bedanya, mama bisa pake whatsapp haha tp Alhamdulillah ortu mbak msh bisa telpon dan wa. Jadi msh bisa komunikasi kan πŸ˜€

        Liked by 1 person

      4. hahaha. semoga adik-adik kita sabar, karena niatan kita follow adek-adek kita itu adalah untuk kebaikan. wkwkwk, iya ini mbak, merasa sudah berumur.

        Iya Mbak, Alhamdulillah masih bisa telponan, setidaknya kalau ada apa-apa ga bingung. πŸ˜€

        Like

    1. nah, bapak teladan mas Nur ini πŸ˜‚
      orang tua hadir menemani anak saat mereka nonton, kalau anak tanya atau cerita kitanya nyambung. gitu kan Mas Nur πŸ˜€

      Like

  3. Kemarin aku udh download nih, ada temen minta, eh malah di cut pdhl blm aku tonton:(

    Orang pertama yang di tanyai, iya bener bgt. Semoga anakku nanti suka-nya yang gak aneh-aneh wkwkw.

    Like

    1. lah, mungkin dikira dia Dika uda liat. minta lagi ke temennya Dika hehe :’)

      aamiin. semoga juga ibuk bapaknya nanti bisa mengimbangi kecepatan bertanya anaknya. πŸ˜€πŸ˜‚

      Like

  4. Alhamdulillah saya dulu nonton Searching di bioskop (sombong dikit, wkwk)..

    Btw, seingat saya itu bukan Instagram (lupa tapi aplikasi apa)..

    Kunci keberhasilan bapaknya menemukan anaknya adalah dia tahu password email istrinya sehingga bisa akses “forgot password” medsos anaknya..

    Like

    1. saya malah baru tahu bulan kemaren film ini, zamannya tayang di bioskop ga tahu. sekalinya ke bioskop yg ditonton malah Jurassic park. wkwkwk

      eh, yang awalnya dikunci sama dia itu bukan IG ya. sek nanti kuliatnya, lupa jg.

      oh ya, betul ini,
      saya melewatkan bagian itu. πŸ˜€

      Liked by 1 person

      1. Maksud saya aplikasi di mana “pelaku” bertemu dg Margot itu bukan aplikasi IG, tapi lupa saya juga..

        Btw saya gak bisa check and recheck, soalnya gak punya file filmnya.. Hehe..

        Like

  5. Aku nyamber banget di setiap komenan. Mbakkk ikaaa lama gg bertegur sapa, aku nnton ah film ituuuu. Mksh atas referensinya ya mbak πŸ’ž

    Like

    1. siap mbak Ami, sama-sama.
      semangat mbak.
      kalau kata pematerinya, jika sudah dekat dengan anak, setidaknya mereka nanti akan menanyakan dan bercerita hal2 yg penting juga ke orang tuanya.

      Like

  6. Film ini mengemas banyak hal yg harus kita semua perhatikan dan sesuai dgn permasalahan zaman now sih. Klu hubungan emosional+jalinan komunikasi ank dan orgtua emg penting bgt sih.

    Waktu itu aku random aja nontonnya wktu ke bioskop, tp ternyata bagosss

    Like

  7. Sinta yudisia yaaa. Memang top banget makemak satu itu. Produktif di usia paruh baya (nggak lagi muda padahal, kalah akuuu). Film ini bener-bener bikin deg-degan pas pertama nonton. Thriller. Pas nyari info di medsos, bener-bener kayak nyata. Logis banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s