Hujan Bulan Juni : Simpan

Di sebuah toko buku, di jalan Diponegoro. Setelah beberapa menit kami masuk dan berdiri di depan sebuah rak buku.

“Kelilingo lagi, kamu punya waktu… ehm,.. 16 menit,” katanya sambil melihat ke arah jam tangan.

“16 menit? kupake tidur ya. hahaha” Enam belas menit lagi bagiku terlalu lama untuk mengelilingi rak buku yang sudah aku kelilingi dua kali.

Aku tertawa kemudian berlalu mencari mesin pencari buku. Kuketikkan Time Keeper-nya Mitch Albom, tapi rupanya sedang kosong. Kucoba pula mencari bukunya Mbak Apik, Melangkah Searah, tapi juga kosong. Aku kembali ke rak tempatmu berdiri, kamu masih asyik memilih. Aku menghitung waktu, berapa lama kamu berdiri di sana. cukup lama, pikirku ada yang perlu ditimbang buku seperti apa yang akan benar-benar kamu pinang dan dibawa pulang. Aku kembali pergi dan membaca buku @nksthi (nanti kita sambat tentang hari ini). Aku penasaran seperti apa isinya, hingga harganya sedemikian mahal, setengah dari isi buku selesai kubaca. Buku kututup dan aku mencarimu di antara rak-rak buku. Tidak kutemukan. Ternyata kamu pergi ke depan memanggil seorang karyawan toko.

Aku kembali membaca @nksthi, satu buku akhirnya selesai. Di sebelahnya tepat ada buku @nkcthi (nanti kita cerita tentang hari ini), kubuka secara acak, tapi entah kenapa yang terbaca justru nasehat untuk hati yang lebih kuat. Aku sudah pernah membacanya, mungkin di instagram atau entah dimana. Aku kembali ciut kemudian berulang kali merapal doa lagi agar diberikan kekuatan untuk menyampaikan apa-apa yang perlu kusampaikan. Kututup buku, aku kembali mencarimu di antara rak-rak buku. Tidak ada. Aku pergi ke depan dan menemukanmu sedang memilih pensil warna, membandingkan harganya lalu mengambil yang 30 warna.

Kita pergi meninggalkan toko buku, dengan aku yang tidak membeli apa-apa.
.
.
.
.
.
.
.
Sebelum pulang, kamu membuka tas. Menghitung dua kali seikat pensil warna yang berisi dua belas batang. Mengeluarkan buku yang kamu pilih dengan cukup lama tadi, dan menyerahkannya kepadaku. Memintaku menyimpannya, meminta lekas memasukkannya ke dalam tas. Aku kaget.

Tidak tahu kenapa, bagian ini (menerima segepok pensil warna dan buku) mengingatkanku pada cerita Banyu dan Kica. Banyu yang pada bab terakhir cerita ‘Teman Imaji’ memberikan segepok kejutan setelah jalan-jalan dari puncak gunung satu ke puncak gunung lainnya. Kebaikan Banyu yang tiba-tiba kepada Kica. Dan kebaikan di akhir cerita itu justru membawa Banyu dan Kica mengarungi awal cerita kehidupan baru, sebagai teman hidup.

Aku sudah pernah bilang kan, bahwa aku tidak terbiasa dengan kebaikan yang tiba-tiba seperti ini. Tiba-tiba ada.

“diwarnai, biar tidak stress,” tuturmu.

Aku menutup muka. Air mata sudah hampir jatuh, sudah dipelupuk. Tapi kamu melarangku menangis. Kamu malu kalau dilihat orang, katanya. Dikira disakiti, padahal tidak. hahaha.

Kamu tahu, kenapa air mata yang entah sumbernya dari telaga mana itu mau tumpah tadi, karena bahagia dan juga takut. Aku bahagia. Siapa yang tidak bahagia jika diberi hadiah? tapi aku juga takut, bahwa kebaikanmu semakin menambah apa-apa yang selama ini disimpan di telapak hati. Sementara aku belum tahu, akan seperti apa doa-doa kita dirupakan ke depan. Hingga aku sadar, atas hal-hal yang tidak ada kuasa kita untuk menahan, maka biarlah Allah yang menentukan, biarlah Allah yang menjadi tempat titipan dan tempat menyimpan teraman.

Sesampainya di rumah, kubuka kembali tasku. Kugenggam 12 pensil warna itu. Benar-benar berwarna warni rupanya. Mataku berbinar, hatiku hangat.

Kurasakan, ada lega di sana, di dada. Benar katamu, mengeluarkan kalimat yang berat itu akan melegakan. Meski begitu sulit sekali memulainya. Meski seringnya kita memakai kata pengganti yang kita sepakati artinya demikian. Meski banyak kalimat yang tidak kita katakan tapi sama-sama kita pahami dan rasakan. Ada hal yang tidak kita sebutkan, tapi aku tahu bahwa kamu juga tahu.

Terima kasih. Meski sudah berulang kali dikatakan, tapi aku tetap ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih untuk kebaikan-kebaikanmu kepadaku.

Aku percaya pada kalimat, ‘kalau cinta terbaik adalah memaafkan, maka terima kasih terbaik adalah mendoakan.’- Mutia Prawitasari

Maka, “terima kasih tak terkira untukmu, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik lagi, semoga Dia menjagamu, memberimu petunjuk, keluasan hati dan pikiran. Dimudahkan urusan-urusanmu dan mudah-mudahan hatimu ditetapkan dalam jalan kebaikan-Nya.”

Jarum jam bergeser dan hari berganti. Jika perjalanan yang sesungguhnya adalah tentang pulang, mudah-mudahan apa-apa yang kita tuju selama di perjalanan pulang ini mendekatkan kita pada tujuan utama hidup kita.

.
.
.
Surabaya, 2019

44 thoughts on “Hujan Bulan Juni : Simpan

    1. aamiin yaa Rabb…
      terima kasih doanya Mas…

      terima kasih sudah mampir ke sini Mas.
      mungkin pengaruh novel-novel yg dulu pernah saya baca Mas. tp ini masih belajar bercerita juga πŸ™ˆ

      Liked by 1 person

  1. Aamiin ya Allah. Semoga apa-apa yang Mbak Ikha dan dia semogakan, Allah segera kabulkan. Cerita yang manis sekali, Mbak Ikha :”))

    Like

  2. Tadinya cuma pen maen maen di WP karna udah 4 taun gamaen WP lagi

    eh ternyata ada post sebagus ini πŸ˜‚ alahh terharu+termotivasi juga πŸ™

    Like

Leave a Reply to uuz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s