Menemukan Banyu

Saya kemarin membaca tulisan Mbak Uti, judulnya ‘Menjadi Banyu’, dan beberapa hari lalu ada sesuatu hal yang juga mengusik pikiran, tentang Banyu, tentang kamu.

Jika kamu diibaratkan dalam tokoh sebuah novel, maka saya lebih suka menghadirkan kamu sebagai tokoh Banyu. Tapi saya sadar kok, kamu tetaplah kamu, bukan Banyu. Hanya saja, ijinkan kali ini saya bercerita dengan meminjam nama Banyu dalam tokoh novel Teman Imaji.

Dalam Teman Imaji diceritakan bagaimana Banyu kehilangan Bapaknya, atau Banyu memanggilnya Papa. Banyu yang begitu mengenang kebaikan Papanya. Banyu yang baik, kebaikan yang menurun dari Papanya. Banyu yang merenung seorang diri di teras belakang rumahnya di malam setelah kepergian Papanya. Lalu Banyu yang ingin menjelajahi lima gunung dan lima pantai sendirian. Banyak perasaan yang dialami Banyu selepas kepergian Papanya.

Saya tahu, kamu sudah pernah berada di posisi Banyu. Kehilangan tulang punggung keluarga, kehilangan sosok yang dijadikan sandaran. Pernah merasakan kangen yang juga dirasakan oleh Banyu. Kangen kepada Bapak yang telah kembali lebih dulu kepada-Nya. Sewaktu kita pertama kali bertemu dan saling bertukar cerita di perjalanan, kamu menceritakannya. Tidak lebih, saya hanya tahu sebatas itu. Dan suatu saat kamu menunjukkan foto Bapak dalam foto keluarga kecilmu yang menjadi wallpaper layar handphonemu.

Saya belum tahu memang bagaimana rasanya ditinggal Bapak, tapi suatu saat kamu menuliskan sebuah kalimat yang membuat hati saya meleleh.

Bapak : ada rasa kangen yang tak terkatakan lagi

Malam itu saya menangis, tengah malam terisak seorang diri. Saya tidak tahu persis apa yang turut saya rasakan untukmu, tapi saya menangis. Saya pernah merasakan bagaimana saya rindu kepada seseorang tapi tidak tersampaikan lagi, meski saya sadar sepenuhnya, rindumu kepada Bapak tetaplah beda. Tidaklah sama seperti apa yang saya rasakan.

“Al-Fatihah buat Bapak :”)” balas saya.
Kamu tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya membacanya saja.

Atau disaat-saat kita bertemu dan kamu sering sekali menanyakan kabar Bapak, Bapakku.

“Kemarin habis pulang, ya. Bapak apa kabar?”

Setiap kali pertanyaan itu terlontar darimu saya merasa kamu sedang kangen dengan Bapakmu. Hati saya meleleh lagi. Saat hendak menjawab, tenggorokan ini seperti tercekat. Saya mengambil jeda lama hanya untuk menyampaikan beberapa kata.

“Alhamdulillah…. sehat…semuanya sehat”

Lalu saya balik bertanya kabar ibumu atau kita sama-sama terdiam mengambil jeda untuk bernapas lega. Ingin rasanya disaat-saat seperti itu saya bilang, “Kalau kamu sedang kangen Bapak, mainlah ke rumah gapapa. Anggap saja Bapak saya itu juga Bapak kamu. Mereka, orang tua saya, pasti senang kalau ada yang main ke rumah.”

Ingin rasanya saya bilang, tapi selain karena hal itu tidak sesederhana kalimatnya, juga ada rasa tidak kuasa. Meski berulang kali kamu bertanya kabar Bapak, berulang kali pula kalimat itu tertelan lagi. Dan lagi, hingga kini saya hanya mampu menuliskannya.

Menemukan kamu, menemukan banyu.

Kali ketiga kita bertemu, suatu sore di Lenmarck, semenjak itu saya suka sekali menganggap kamu sebagai seorang yang kebaikannya seperti banyu, dalam makna lain seperti air. Air yang berusaha mengalirkan kebaikan untuk lingkungannya. Begitu juga kamu, meski sadar atau tidak, kamu telah mengalirkan kebaikan-kebaikan (yang selalu kamu sebut kecil dan sederhana itu) ke orang-orang sekitarmu.

Lalu kamu yang berkata bahwa kamu masihlah jauh dari makna ihsan itu sendiri.

Barangkali apa yang saya lihat adalah yang baik-baik saja darimu, meski saya juga tahu, bahwa setiap kita pasti punya cela entah di sebelah mana. Cela yang selalu berusaha sekuat tenaga kita tutupi.

Semoga kita semua terus mengusaha untuk menuju ke sana, menuju untuk menjadi orang yang selalu berusaha berbuat baik. Baik ke diri sendiri, keluarga, tetangga dan orang banyak lainnya. Menjadi baik dan bermanfaat. Lewat jalan-jalan yang tidak harus semua orang tahu, lewat jalan-jalan yang dekat, yang ada di sekitar dan terjangkau oleh tangan kita.

Kamu terlihat demikian, terlihat sebagai orang yang (selalu berusaha) menjadikan kebaikan itu mengalir bak air, lewat tangan-tanganmu, lewat kaki-kakimu, lewat kerja-kerja yang membuat deras keringatmu, maka semoga Bapak tenang dan senang di sana. Karena memiliki seorang anak seperti kamu. Semoga Bapak alam kuburnya terang dan sejuk, semoga Bapak diberikan kemudahan dalam meniti sirothol mustaqim kelak. Semoga kalian kelak disatukan kembali di tempat terbaik di surga-Nya.

Pada akhirnya kita semua nanti akan ditinggalkan atau meninggalkan, dan kangen tetaplah menjadi kangen yang akan lebih sering memantik hati kita untuk melangitkan doa-doa lebih banyak untuk mereka-mereka yang telah tiada.

Teruntuk kamu, dan juga kamu, yang Bapak atau Ibunya atau keduanya telah kembali lebih dulu ke sisi Allah dan teruntuk kita semua yang orang tuanya masih ada:

Tetap jadilah sebaik-baik diri kita.

33 thoughts on “Menemukan Banyu

  1. Kebaikan yang seperti air, terus mengalir dan menumbuhkan. 😃 Semoga kita juga bisa seperti banyu.

    Like

  2. Hahaha

    Baik, kalo versi Kak Umi, si dia adalah Banyu, kalo versi aku, si dia adalah Abu-abu.

    Ceritanya punya kesamaan, ku pikir. Abu-abu ini orang yang tegar banget. Dia bahkan udah gak punya dua-duanya :’) Pas diceritakan, aku yang masih punya orang tua lengkap kala itu menangis sejadi-jadinya, dong :’) Padahal aku juga tau luarnya aja… Dan saat kehilangan Papa beberapa bulan lalu, aku baru merasakan ternyata memang nggak mudah. Di usia aku yang seperti ini, di kondisi aku yang kayak gini. Pada akhirnya dia menjadi motivasi banget buatku, dan bisa buat aku malu, kayak “Kalau pas aku lemah dalam urusan kayak gini aja, apalagi diaaaa :’)”

    Dia juga kadang bertanya, gimana Mama? Gimana Papa?

    Aahhh entah kenapa aku merasa Banyu dan Abu-abu punya beberapa kesamaan wkwkkw

    Bedanya, soal “Anggap saja orang tua aku adalah orang tua mu” udah aku bilang, jauh sebelum saat ini :p

    Liked by 1 person

    1. Aauuuuuulll 😭😭😭

      iyaa, bisa jadi demikian Banyu dan Abu-abu punya beberapa kesamaan. Semoga Abu-abu selalu tegar dan sabar.
      Aul juga yaa. :’)

      heuheu, semoga kalau dia tanya lagi nanti aku kuat untuk bilang yaa. ga mewek duluan.. :’)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s