apa kabar

satu, dua, tiga.

aku selalu mengambil jeda jika ingin berbicara denganmu. kata-katamu yang sedikit itu membuatku lebih suka duduk menghabiskan waktu denganmu dibandingkan menghubungimu lewat pesawat telephone. ya, duduk saja berdua, meski tidak membicarakan apa-apa.

atau kadang kala aku ingin bercerita, tentang perasaanku pada masa dahulu yang berisi hal-hal yang ingin kuulang ketika diriku telah berkepala dua seperti sekarang.

misalnya,

suatu kali aku ingin mengungsi, di pandanganmu yang tenang itu. terik benar-benar memanggang mata ini. hingga panas kurasa dimana-mana. air mata tak jua meredakan luka bakar di kulit ari kegelisahanku. perih menjalariku hingga ke ulu hati. dan kamu dengan tulusnya, mengulurkan kedua tangan. menyambutku yang tangisnya sudah belepotan.

suatu kali pula, aku ingin mengungsi di hangat rengkuh hatimu itu. dingin sudah membanjiri pelataran hati ini. tangisku juga tak henti-henti. gigil sesekali menghampiri. aku ingin dipeluk sekali lagi oleh manusia seperti kamu. seperti diriku waktu kecil dulu. sekali lagi, kamu tidak pernah menolakku. kamu bahkan tidak takut kemeja batikmu basah oleh air mataku. air mata yang rasanya seperti air laut ini, asin.

kamu selalu menyambut lebih dulu. merentangkan tangan, menyiapkan dekapan paling aman yang kamu miliki. kamu tidak pernah malu-malu. kamu tidak pernah pula membuatku merasa malu. aku sedang jatuh cinta atau tidak jatuh cinta, kamu selalu begitu baik kepadaku. sedang dekat dengan siapa atau sedang tidak dekat dengan siapa-siapa, kamu tidak pernah menanyakan itu. kamu selalu lebih paham, bahkan dari diriku sendiri.

perasaan yang hadir darimu selalu memberikan rasa aman, tanpa menyakiti.

bapak, hari ini ada yang bertanya tentang kabarmu. untuk menjawabnya saja aku menghitung jumlah denyut jantungku.

bapak, kabar baikmu itu sering dinanti bahkan oleh orang yang (mungkin) belum pernah bertemu denganmu. aku tahu, beda basa-basi dan seriusnya di sebelah mana. kamu pernah mengajariku.

tapi justru karena itu bapak, aku hari ini ingin kembali ke dalam segala rupa bentuk kasihmu.

sama seperti perasaannya. kami sama-sama memendam rindu.

37 thoughts on “apa kabar

  1. Syedihhhhhhhh ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
    aku juga lagi memendam rindu sama istri ini..
    tak bisa bertemu untuk beberapa jeda waktu yang masih belum bisa di tentukan ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

    Like

    1. terima kasih mbak nura. :’)

      aduh malu, saya juga masih belajaran mbak. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ
      mungkin salah satu resep yang pernah saya baca : rajin membaca dan banyak latihan.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s