236 : Ibu adalah hutang yang selamanya tak akan kuasa kita lunasi.

sebuah tulisan dari awbyan, dari tumblr saya boyong ke wordpress

Ibu adalah hutang yang selamanya tak akan kuasa kita lunasi.

Sejak kita bukanlah apa-apa kecuali segumpal darah dari air hina, sembilan bulan dengan susah payah dikandungnya, sampai kita akhirnya melihat dunia, sampai tangis pertama kita jadi air mata bahagianya. Sejak saat itu, kita tak akan pernah bisa membalas budi seorang ibu meski hanya satu tarikan nafasnya saat melahirkan kita.

Kita hadir sebagai sebujur tubuh mungil yang tak berdaya, merepotkan, dan tak bisa apa-apa. Sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit buang air. Tapi toh, kesabarannya mustahil surut oleh percik air seni atau kotoran yang tercecer. Hati seorang ibu akan selalu lebih lapang dari semesta. Wangi pelukannya adalah semerbak bau cinta, dekapan tangannya lebih lembut dari mega-mega. Disusuinya kita, disapihnya, dididiknya meski kita tumbuh menjadi kanak-kanak yang keras kepala. Namun doanya masih melampaui ketujuh langit, bergetar singgasana-Nya karenanya. Tak ada yang lebih tulus dari doa seorang ibu untuk anaknya.

Barangkali, ibu adalah satu-satunya makhluk yang membuat malaikat cemburu. Bagaimana tidak, kunci surga ada di telapak kakinya. Derajat ibu tiga kali lebih utama dari ayah sekalipun, demikian Rasulullah bersabda. “Ibumu, ibumu, ibumu,” katanya, “lalu ayahmu.” Memang tak semudah yang dipikirkan untuk merangkap tugas menjadi bidadari, malaikat, dan manusia dalam satu waktu.

Dan surga pernah sedemikian dekatnya sampai kita beranjak dewasa. Dalam perjalanannya, kita akan semakin bengal, semakin nakal, sampai cukup pandai berbuat dosa. Kita akan bertemu kekasih hati, jatuh cinta, dan pergi dari curahan kasih sayang yang selama ini tak ada hilirnya. Sampai saat itu, ibu akan masih gemar berdusta dengan kalimat ‘tak mengapa’, meski perasaannya dikorbankan sebab tahu bahwa ia tak lagi jadi persinggahan. Sampai saat itu, ibu akan masih pandai menyembunyikan dahaga kerinduan, bahkan untuk sekedar bertanya kabar kita dengan transmisi data super cepat pun ia urungkan. “Takut mengganggu,” begitu katanya meski dalam hati ia menangis. Barangkali air matanya akan tetap mengalir meski sumur-sumur kering dan dedaunan gugur bersama ranting.

Yang seringnya terlupa, ibu adalah tempat pulang yang sewaktu-waktu akan pergi jua.

Kulit-kulit yang mulai kisut, kening-kening yang berkerut, raga tua ibu boleh jadi tak lama lagi berjumpa maut. Sungguh betapa celakanya kita saat ia masih ada, namun tak mampu membuat kita masuk surga. Jangan-jangan kita yang telah susah payah mencari Jannah dengan amalan-amalan kebaikan, malah lupa bahwa kuncinya ada di depan mata. Satu pintunya boleh jadi akan tertutup tanpa kita sempat menyadarinya, padahal sebelumnya lebar-lebar terbuka.

Adalah ibu, perempuan pemilik wajah yang mulai tampak tua saat menanti kepulangan kita. Perempuan yang paling ingin berjumpa dengan kita, paling ingin mendengar suara kabar dan cerita kita. Perempuan yang rindu mengelus rambut dan mencium kening kita. Perempuan yang paling tak peduli dengan permintaan maaf kita. Perempuan yang paling cepat lupa dengan perlakuan kasar kita. Perempuan yang tak perlu kita meminta untuk ridhanya. Sudahkah kita membuatnya bahagia sebelum tiba saatnya menutup mata?

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”

14 thoughts on “236 : Ibu adalah hutang yang selamanya tak akan kuasa kita lunasi.

  1. Ibu tempat pulang yang sewaktu-waktu akan pergi juga :’

    jujur, kadang ku berdoa biar ‘pergi’ duluan ketimbang ibuk. Ngga bakal kuat ngebayangin sedihnya soalnya.

    pfffffft.

    menikmati momen-momen berharga banget sama Ibuk selagi bisa :’

    Liked by 1 person

  2. Bersyukurlah bagi siapapun yang masih mempunyai ibu. Luangkan waktu sebanyak banyaknya untuk ibu. Karena ketika ia sudah tiada, maka rasa “penyelasan” itu akan selalu hadir. Tidak ada rasa cukup, padahal kita sudah melakukan yang terbaik, tetap saja akan terasa tidak cukup pada akhirnya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s