Hujan Bulan Desember : Pulang

Hujan terus jatuh menerpa tanah kering di kotaku, menciptakan bau ampo yang harum. Bumi basah sejak jam tiga sore hingga malam menjelang. Tidak adanya tanda-tanda hujan akan berhenti, membuatku menghambur dan berbaur dengan hujan tatkala naik sepeda motor menuju stasiun. Aku tidak boleh melewatkan kereta Pasundan. Hingga akhirnya aku kebasahan, sedikit. Dan di sepanjang perjalanan … Continue reading Hujan Bulan Desember : Pulang

Advertisements

Hujan Bulan Nopember : Rasa Percaya

Kepercayaan tidak bisa dibuat, tapi dilahirkan.

Teman Imaji : Hujan Bulan September

Aku menyukai tempat ini sejak dia masih dalam bayangan, ketika seorang teman perempuanku menceritakan sebuah tempat dengan kaca sebagai dindingnya. Seperti di bandara. Bedanya saat matahari hendak pulang ke rumahnya, yang kita dapati adalah kendaraan darat, bukan lapangan udara beserta pesawatnya. Di depan bangunan ini, di seberang jalan ada pemandangan parkiran mobil. Dan di jalan … Continue reading Teman Imaji : Hujan Bulan September

Cerita untuk Samudra

Aku bermimpi tentang samudra, yang airnya biru dan ombaknya menderu, yang karangnya keras seperti karang lautan difilm Surf's Up. Aku bermimpi tentang samudra, yang pantainya langsung berbatasan dengan bukit hijau yang meninggi. Tanahnya beberapa bagian penuh dengan tumbuhan perdu yang daunnya tampak hijau dan segar ketika diterpa sinar matahari. Aku bermimpi tentang samudra, yang angin … Continue reading Cerita untuk Samudra

Ima dan Cerita Tentang Jogja

Hai, Ima. Adikku yang lainnya, yang sedang berada di Jogja. Feelingku kamu sehat. Dan semoga memang dalam keadaan sehat. 😉 Ima, suratku kali ini terbuka, tidak lewat email seperti biasanya. Aku meminta maaf, karena belum bisa membalas emailmu sebelumnya. Pekan ini aku kedatangan sahabatku dari Lamongan, namanya Dya. Seorang guru di SMK Muhammadiyah di Ngimbang. … Continue reading Ima dan Cerita Tentang Jogja

Langit

Aku sedang merindukan kalian malam ini, teramat rindu. Rasanya tak bisa kubendung lagi suara-suara itu. Semuanya berjejalan memenuhi langit-langit kamarku, hingga akhirnya kunyalakan leptopku dan kutulis sesuatu untukmu. Bisakah celotehan kecil ini mewakili semua rasaku? Tidak.

Oktober(4)

Ternyata yang lebih dekat dari itu semua rasanya tak ada selain diingat dalam hati dan didoakan ditiap-tiap waktu. Ya, seluruhnya tentangnya yang aku simpan di dalam dadaku.

Oktober(2)

Untuk kesekian kalinya, aku ingin berterima kasih padamu. Iya, kepadamu. Yang tujuh ribu dua ratus dua belas jam yang lalu (kurang lebih) sedang memandang bulan di atap sebuah bangunan. Bulan yang hampir purnama.