Bukunya Mas Nuhid

Sebelumnya maafkan saya Mas Nuhid, sepertinya ini hanya sedikit cuap-cuap yang tidak memenuhi poin nomer empat.

 

Labirin Tanpa Jalan Keluar

Beberapa waktu yang lalu Mas Nuhid membuat pengumuman tentang terbitnya buku beliau, Labirin Tanpa Jalan Keluar. Dan berbaik hati membagikan e-book secara cuma-cuma selama tiga hari. Di poin ketiga Mas Nuhid menyebutkan syarat salah satunya, ‘alasan anda membaca buku ini’ yang disertakan di badan email.

Waktu itu saya iseng saja menjawab, “saya mau tersesat di labirin. …”

Selang beberapa menit e-book dikirimkan, besok paginya baru saya baca. Hari pertama saya membaca sampai jam lima sore dan sampai di bagian (kira-kira) sepertiga awal. Rasanya ga pengen mandek, kemudian saya kepikiran sama email saya, “harusnya bukan itu alasannya, kok saya takut tersesat beneran ya”. Dan e-book ini saya tamatkan dalam waktu tiga kali duduk. Continue reading “Bukunya Mas Nuhid”

Advertisements

(Sedang jadi) Satpam Socmed

Minggu kemarin seorang kawan baik saya ngechat lewat whatsapp, bahwa dia mau puasa IG. Hari pertama dia berhasil, terus pasang status di WA.

“Hari pertama gue ga buka IG nih 😎”

Saya capture, sebagai bukti dia lagi proses. Hehe

Besoknya saya kaget, karena dia share video dari IG di grup whatsapp. Akhirnya pagi tadi saya tanya, bagaimana kabar puasanya. Ternyata dia sudah berbuka duluan dari waktu satu minggu yang dia jadwalkan.

“Enggak kuat Miik”, katanya.

Continue reading “(Sedang jadi) Satpam Socmed”

Aku

Postingan ini merupakan akhir dari catatan kecil Tentang Oktober, yang telah saya terbitkan selama beberapa hari di tahun ini.

 

Surabaya, 13 Oktober 2017

16:54 – 16:59 WIB

 

Aku ingin pulang ke rumah.

Menikmati jalan-jalan sore ditepi sawah.

Sampai ada yang meneriakiku dari jarak yang tak cukup jauh.

“Ikha pulang, sebentar lagi petang datang !”

Aku ingin pulang ke rumah.

Menemui diriku yang sedang menghitung deretan angka.

Menghitung tak lelah-lelah.

Aku ingin pulang.

Aku ingin.

Aku pulang.

*

Aku ingin pulang, pulang bukan seperti yang kebanyakan orang artikan, juga bukan pulang seperti yang sedikit orang perbincangkan. Aku ingin pulang dengan pulang yang kuartikan sendiri. Aku ingin pulang menemui, mendengarkan dan berbicara dengan diriku. Aku hanya rindu. – Aku kepada aku

 

Ada Masanya

[Tulisan ini hanya sebuah perenungan kecil dari percakapan beberapa hari lalu dengan Kania]

Dahulu kamu berkata tidak apa-apa dengan semua jerawat di wajah ini. Bilang pada diri sendiri bahwa dia akan lekas membaik. Jerawat adalah juga sahabat. Dia akan nangkring disana selama yang dia mau. Mau kamu usir paksa atau kamu tunggu mereda itu tergantung kamu. Dan kamu memilih, mencoba bersabar bersamanya, meski sekali dua kamu sebal juga akan tingkahnya.

Akhirnya dia pergi, semua anak keturunannya dia bawa pergi dari wajahmu. Tapi tunggu, wajahmu menjadi berbeda. Kamu berkata dia meninggalkan bekas yang ‘apik’ di wajahmu. Bekas yang sebenarnya banyak kamu sebabkan sendiri. Tapi kamu selalu berkata bekas itu disebabkan oleh jerawat. Padahal bekas itu karena ketidaksabaranmu. Ketidaksabaran tanganmu itu.

Continue reading “Ada Masanya”

Oktober(4)

Postingan ini merupakan bagian dari catatan kecil Tentang Oktober, yang akan saya terbitkan setiap hari (mungkin) selama beberapa hari saja.

08 Oktober 2017

23.34

 

Jangan

Jangan datang, jangan tiba, jangan datang tiba-tiba.

Tetapi, kadang tiba-tiba itu terlampau menyenangkan….

Jadi, datang saja, setibamu.

Tak perlu buru-buru.

 

Jangan pergi, jangan lari, jangan pergi sambil berlari.

Karena langkahmu terlalu jauh untuk kususuri.

Bayanganmu menjadi sepotong gelap yang aku cari.

Continue reading “Oktober(4)”

Oktober(3)

Postingan ini merupakan bagian dari catatan kecil Tentang Oktober, yang akan saya terbitkan setiap hari (mungkin) selama beberapa hari saja.

 

Surabaya, 07 Oktober 2017

02.24

 

Kamu lamat-lamat memandangi bayangan diri di dalam cermin. Memperhatikan setiap lekuk wajah. Kemudian kamu tersenyum kepada seseorang di dalam sana. Tersenyum kepada diri sendiri.

Setiap kali kamu melakukan ritual seperti itu, apa yang sedang kamu coba pikirkan ?

Dirimu baru terbangun dari tidur, terjaga di dini hari. Rambutmu yang masih acak-acakan. Wajahmu yang tanpa polesan. Tanpa make-up apalagi hiasan lainnya. Cermin itu berkata jujur, kamu tampak apa adanya. Kamu yang sebenarnya.

Ya, dirimu yang sebenarnya adalah ketika bangun tidur.

Oktober(2)

Postingan ini merupakan bagian dari catatan kecil Tentang Oktober, yang akan saya terbitkan setiap hari (mungkin) selama beberapa hari saja.

 

Surabaya, 05 Oktober 2017

06.36

 

Kemarin malam aku membeli nasi goreng. Ga pake saos atau biasa disebut putihan. Sebelum Aang yang sedang terkurung di bola es ditemukan Katara (Emang kapan? Entah, yang jelas negara api tidak pernah benar-benar menyerangku 😀 ) aku menjadi tidak suka saos. Lebih suka kecap. Aku menambahkan pesanan dengan telur dadar. Karena aku sedang pengen.  Aku menunggu sambil duduk di kursi antrean, di belakang. Ketika nasi sudah dibungkus, sembari membayar aku iseng bertanya. “Telurnya sudah pak?” Dan, astaga, bapak itu menepuk jidat. Beliau lupa memasukkan telur dadar ke bungkusan. Seorang Ibu di sampingku tertawa, sambil mengungkit kejadian sebelumnya. Beliau lupa juga pelanggannya beli nasi goreng atau mie goreng. Akhirnya bungkusan nasiku dibuka kembali. Dan aku melihat nasinya merah. Oh, yasudah. Ndak papa. Mungkin bapaknya sedang banyak masalah di rumah. Sehingga pikirannya agak kacau. Karena nasiku spesial (ga pedas) kali ini aku tidak tega protes karena bapaknya salah memberikan pesanan. Kasihan yang antre karena harus memasak lagi untukku dan terlebih aku sudah sangat kelaparan. Aku lebih kasihan perutku saat itu. Continue reading “Oktober(2)”

Oktober

Postingan ini merupakan bagian dari catatan kecil Tentang Oktober, yang akan saya terbitkan setiap hari (mungkin) selama beberapa hari saja.

Kali kedua
Rumah, 01 Oktober 2017
07.32

Ibu memasang wajah penasaran setelah sekian lama membahas nama tanpa rupa. Ibu mengutarakan banyak kekhawatiran tentang kehidupan, bukan tentang kekhawatiran perempuan, juga bukan tentang rezeki dalam hidup. Ibu membahas sisi kehidupan lebih dari itu. Tapi tak ada hubungannya dengan foto itu. Tidak ada, atau ada tapi berbeda.

Pagi itu kali kedua ibu bertanya. “Mana to?” Sederet komentar ibu tentang kumpulan piksel di gawai itu mengudara memenuhi ruang bicara kami. (Harusnya kurekam wajah penasaran Ibu saat itu.) Ibu tahu, aku tahu. Tentang banyak hal yang tidak dikatakan, tidak diceritakan, atau belum bisa bukan tidak. Cerita kami belum selesai, dan harus diakhiri. Karena aku harus kembali ke kota rantau.

Apa sih yang benar-benar selesai di dunia ini ? Rasanya masih saja ada hal yang bisa dibahas. Sekadar, semua orang tahu bahwa garam itu asin, besok pasti juga akan bisa dibahas lagi. Misalnya kadar keasinan garam merk A sekian persen dibandingkan garam merk B.
Continue reading “Oktober”

Memberi Tumpangan

Seperti yang diberitakan diberbagai media online, kemarin lebih dari seribu angkutan kota di Surabaya melakukan aksi di depan kantor Gubernur Jatim. Demo yang dilakukan berkaitan dengan tuntutan kebijakan adanya transportasi online. Berita lengkapnya mungkin bisa dicari sendiri, tapi yang membuat saya tertarik untuk sedikit menyinggung berita ini adalah adanya gerakan #NunutCak yang ramai di laman facebook e100.

Gerakan ini dibuat untuk mengajak masyarakat ikut berempati dan memberikan tumpangan pada penumpang yang terlantar. Memang akibat angkutan kota yang tak beroperasi membuat banyak orang terlantar di terminal dan berbagai ruas jalan. Mereka kebanyakan adalah pegawai kantoran atau pendatang dari kota lain. Continue reading “Memberi Tumpangan”

Bintang

Sebagian bintang ingin diletakkan diatas.

Agar telihat orang.

Cahayanya terlihat dari bumi, dimana semua manusia tinggal.

Dipandangi setiap hari, kala malam.

Jika langit tak mendung.

Sebagian bintang ingin tetap tinggal di bawah.

Di bumi.

Mereka hanya ingin menjadi bintang di bumi.

Dipandangi setiap hari.

Oleh penduduk langit.

Cahaya – cahaya berpendar dari rumah – rumah, bak kunang-kunang.

Berkerlip dari dalam rumah yang di dalamnya dilantunkan ayat – ayat Al Qur’an.

Mereka hatinya bening bercahaya.

Karena banyak menyebut nama Tuhannya.

 


Surabaya, Juni 2016