Kembang Tebu

sumber gambar

Kabut mudun ing mongso ketiga.
Pedhut dalan-dalan seng tumuju menyang pesawahan.
‘Mbun seng semampir ing godong tebu netes siji-siji.
Netes marang lemah seng wes terlanjur teles.
Mbah Suwardi nuntun sepeda Unto, mlaku alon-alon, mecah dalan seng ono ing tengah perkebunan.
Nyibak kabut mongso ketiga.
Kereto angin dituntun, dalan lunyu ora ketulungan.

Kembang tebu nguncup koyo sulak kesiram banyu.
Adem, kademen kesiram udan sak wengi.
Udan kiriman mongso ketiga.

Sepi. Tanpo suoro.
Srengenge durung tangi.
Angin isih wedi.
Kinjeng durung miber.
Sepahan tebu semebar ono ing pinggir dalan.
Ora ono laler.
Sepi tanpo suoro.

Isuk isih isuk banget.
Bocah-bocah durung podo budal sekolah.
Mbah Suwardi nuntun sepeda Unto, kembang tebu isih nguncup.
Pedhut dalan-dalan, kembang tebu isih nguncup, koyo sulak kesiram banyu.
Teles, lemah-lemah teles durung kanginan.
Kembang tebu durung kanginan.
Angin kang agawe kembange mabur siji-siji.

Kembang tebu mongso ketiga.


Ini translatenya. Hehehe. Kalau diterjemahkan biasa saja sebenarnya. Tidak ada istimewanya. 😀

Ada beberapa kata yang saya tidak menemukan arti yang pas dibahasa Indonesia. Seperti kata pedhut, tapi artinya di bawah ini sudah cukup mewakili. Barangkali ada yang mau mengkoreksi, dengan senang hati. 🙂


Kembang Tebu

Kabut turun di musim kemarau.
Kabut tebal (menutup) jalan-jalan yang menuju ke area persawahan.
Embun yang menggantung di daun tebu menetes satu-satu.
Menetes di tanah yang sudah terlanjur basah.
Mbah Suwardi menuntun sepeda Onta, memecah jalanan yang ada di tengah perkebunan.
Menyibak kabut di musim kemarau.
Kereta angin (sepeda) dituntun, jalan licin sekali.
Kembang tebu kuncup, seperti kemoceng tersiram air.

Dingin, kedinginan tersiram hujan semalam.
Hujan kiriman di musim kemarau.
Sepi. Tanpa suara.
Matahari belum bangun.
Angin masih takut.
Kecapung belum terbang.
Ampas tebu tersebar di pinggir jalan.
Tidak ada lalat.
Sepi tanpa suara.

Pagi masih terlalu pagi.
Anak-anak belum berangkat sekolah.
Mbah Suwardi menuntun sepeda Onta, kembang tebu masih kuncup.
Kabut tebal (menutup) jalan-jalan, kembang tebu masih menguncup, seperti kemoceng tersiram air.
Basah, tanah-tanah masih basah belum tertiup angin.
Kembang tebu belum tertiup angin.
Angin yang membuat bunganya terbang satu persatu.

Kembang tebu musim kemarau.

Sebuah pagi ditepi perkebunan tebu tahun 1998. Ingatan yang samar-samar, kaki telanjang saya sedang berlarian di jalanan depan rumah, pergi setelah shubuh mencari mangga jatuh yang ada di sebelah perkebunan tebu. Ladang yang sekarang dikerjakan Bapak, pohon mangganya berbuah tidak selebat dulu. Mungkin saatnya direboisasi? kayak hutan saja, ya. Saya tidak mendapat mangga, tapi membawa pulang kecewa bercampur bahagia. Entah perasaan apa namanya.

Advertisements

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

[QS. Yaasiin 36: 65]

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai berkata’,” (QS. Fushshilat: 21).

 

Akan datang hari mulut dikunci….”

Saya teringat sepotong lirik dari lagu almarhum Chrisye “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, saya teringat pula dengan suatu ayat dalam Al-Qur’an, surat Yaasiin : 65. Semakin lagunya saya putar semakin merinding sambil merenungi apa-apa yang telah diri ini usahakan. Continue reading “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”

Langit

IMG-20171120-WA0023.jpeg

Hai, Gita. Apa kabar?

Angin pulaumu akhir-akhir ini tampaknya tak begitu baik, aku tak bisa mengingatkanmu selalu untuk membawa perlengkapan kerjamu. Jaket, air minum, minyak angin dan masker, kamu tentu tak melupakannya, tapi kadang kamu mengeluh melupakan satu diantaranya. Kamu ingat kejadian itu? Kalau tidak, biar aku saja yang mengingatnya.

Gita, adakah kau rindukan sapaan seperti ini seiring waktu berlalu? Waktu dimana hari-hari terus bertambah, sementara ada yang tak mau berpindah ke tempat lainnya dari hati kita. Dan memang tidak akan berpindah. Waktu tidak benar-benar melarutkan semuanya, Gita. Benar, kan? Continue reading “Langit”

Pengalaman Pertama Kali Bekerja

Obrolan di suatu siang dengan Ibu di teras rumah.

“Mak, gimana kalau aku kerja sambil nunggu masuk kuliah?”

“Yakin kamu betah? Kalau betah sih, ya ga apa-apa.”

“Yakin.”

**

Awalnya saya ragu, tapi saya tidak bisa membayangkan diri saya hanya bergelimpangan di rumah selama tiga bulan tidak melakukan apa-apa. Makan, tidur, makan, tidur lagi, juga tidak bisa membuat gemuk. Terlebih sewaktu SMA saya sudah malas pergi ke sawah, sekadar membantu menyiangi rumput atau menjadi penunggu burung emprit di sore hari pun. Saya waktu itu hanya bertemu dengan sawah empat bulan sekali. Yakni, pada masa tandur (menanam padi) dan masa panen. Itupun hanya sebagai tukang antar nasi untuk para tetangga yang membantu di sawah.

Sekarang malah kangen. Saya kalau pulang sering menawarkan diri membantu di sawah, tapi ternyata tidak ada yang bisa saya kerjakan, karena memang tidak ada yang dikerjakan. La mau nyangkul juga tidak bisa.

Ujian Nasional SMA saya dulu dilakukan di bulan April, seingat saya bulan Mei pertengahan saya sudah mulai libur, tinggal menunggu pengumuman. Sementara kuliah saya masuk bulan agustus. Jadi saya punya banyak waktu untuk dihabiskan sebelum menjadi Mahasiswa. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja sambil menunggu masuk kuliah.

Continue reading “Pengalaman Pertama Kali Bekerja”

Membaca : Gerimis di Atas Kertas

Waktu tahu kalau Gerimis di Atas Kertas akan terbit, saya turut senang. Dan setelah menunggu lama, akhirnya kesampaian juga membaca cerita penuh dari buku ini. Ini adalah buku ketiga yang saya baca dari kelima karya beliau, penulis yang memiliki nama pena A.S. Rosyid atau lebih kita kenal dengan panggilan Bang Ical. Di sebelah sini rumahnya.

Membuka halaman pertama, saya langsung disambut oleh bahasa lain dari bubuk kopi di pulau Lombok, yaitu tebek. Bukan melanjutkan membaca, saya malah belajar melafalkannya. Ada beberapa kata lainnya yang juga dituliskan dalam bahasa Sasak atau kalimat dengan bahasa Indonesia dialek sasak. Potongan percakapan yang hanya bisa saya bayangkan bagaimana logat aslinya. Sepertinya seru.

Buku ini berisi tiga cerita. Tiga cerita yang setelah saya baca ternyata lakon-lakonnya bersinggungan. Semua cerita berlatar tempat di Lombok, pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid itu. Continue reading “Membaca : Gerimis di Atas Kertas”

Saya dan Okto

Kalau suatu saat saya jadi pemarah dan suka ngambek tapi ga tahan lama itu sifat turunan dari Ibu. Kenapa ga tahan lama? Soalnya ketika saya marah terus kamu goda sebentar saja, pasti sudah hilang marahnya. Ibu gitu soalnya, kecuali hatinya sudah dongkol banget. Tapi semarah-marahnya beliau, bakalan cepat reda InsyaAllah.

Kalau Bapak jarang marah, tapi sekalinya marah bakalan panjang urusan. 😩

Kalau suatu saat saya terlihat penyabar dan kalem itu sifat turunan dari Bapak. Bapak itu penunggu yang setia. Mungkin kalau Bapak jadi Guru, saya yakin Bapak bakalan sabar menghadapi muridnya. Meskipun Bapak bisa juga jadi keras. Semua tergantung suasana sih.

Kalau saya tiba-tiba gupuhan itu sifat turunan dari Ibu. Kalau saya bisa menghadapi sesuatu dengan tenang itu sifat turunan dari Bapak.

Continue reading “Saya dan Okto”

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Semalam sebelum tidur saya membuka-buka memori di kepala. Saya terkenang dengan buku catatan saya pas SD, semacam buku diari, tapi tidak untuk curhatan. Buku itu kertasnya berwarna biru kepink-pinkan, cewek banget ya. Hahaha.  Isinya lagu-lagu daerah yang saya temukan dari beberapa buku yang saya baca di perpustakaan sekolah.

Karena saya suka nyanyi (pas SD), makanya lirik-lirik itu saya tulis di buku. Kalau sedang luang atau kalau kebagian jadwal ke sawah, biasanya saya bawa buku terus nyanyi di pinggir wangan. Wangan itu semacam kanal yang airnya hanya ada ketika musim hujan datang atau biasanya dialiri air dari Waduk Pondok/Dero. Dan buku itu sudah raib entah kemana.

Kemudian saya teringat sesuatu, lagu Indonesia Raya itu aslinya 3 stanza/bait. Seingat saya di buku saya dulu tertulis lagu Indonesia Raya yang versi panjang. Lagu itu dulu tidak pernah dinyanyikan secara utuh di sekolah saya. Saya juga tidak ingat lagu itu saya temukan dari buku apa.

Continue reading “Lagu Indonesia Raya 3 Stanza”

Bukunya Mas Nuhid

Sebelumnya maafkan saya Mas Nuhid, sepertinya ini hanya sedikit cuap-cuap yang tidak memenuhi poin nomer empat.

 

Labirin Tanpa Jalan Keluar

Beberapa waktu yang lalu Mas Nuhid membuat pengumuman tentang terbitnya buku beliau, Labirin Tanpa Jalan Keluar. Dan berbaik hati membagikan e-book secara cuma-cuma selama tiga hari. Di poin ketiga Mas Nuhid menyebutkan syarat salah satunya, ‘alasan anda membaca buku ini’ yang disertakan di badan email.

Waktu itu saya iseng saja menjawab, “saya mau tersesat di labirin. …”

Selang beberapa menit e-book dikirimkan, besok paginya baru saya baca. Hari pertama saya membaca sampai jam lima sore dan sampai di bagian (kira-kira) sepertiga awal. Rasanya ga pengen mandek, kemudian saya kepikiran sama email saya, “harusnya bukan itu alasannya, kok saya takut tersesat beneran ya”. Dan e-book ini saya tamatkan dalam waktu tiga kali duduk. Continue reading “Bukunya Mas Nuhid”

(Sedang jadi) Satpam Socmed

Minggu kemarin seorang kawan baik saya ngechat lewat whatsapp, bahwa dia mau puasa IG. Hari pertama dia berhasil, terus pasang status di WA.

“Hari pertama gue ga buka IG nih 😎”

Saya capture, sebagai bukti dia lagi proses. Hehe

Besoknya saya kaget, karena dia share video dari IG di grup whatsapp. Akhirnya pagi tadi saya tanya, bagaimana kabar puasanya. Ternyata dia sudah berbuka duluan dari waktu satu minggu yang dia jadwalkan.

“Enggak kuat Miik”, katanya.

Continue reading “(Sedang jadi) Satpam Socmed”

Aku

Postingan ini merupakan akhir dari catatan kecil Tentang Oktober, yang telah saya terbitkan selama beberapa hari di tahun ini.

 

Surabaya, 13 Oktober 2017

16:54 – 16:59 WIB

 

Aku ingin pulang ke rumah.

Menikmati jalan-jalan sore ditepi sawah.

Sampai ada yang meneriakiku dari jarak yang tak cukup jauh.

“Ikha pulang, sebentar lagi petang datang !”

Aku ingin pulang ke rumah.

Menemui diriku yang sedang menghitung deretan angka.

Menghitung tak lelah-lelah.

Aku ingin pulang.

Aku ingin.

Aku pulang.

*

Aku ingin pulang, pulang bukan seperti yang kebanyakan orang artikan, juga bukan pulang seperti yang sedikit orang perbincangkan. Aku ingin pulang dengan pulang yang kuartikan sendiri. Aku ingin pulang menemui, mendengarkan dan berbicara dengan diriku. Aku hanya rindu. – Aku kepada aku