Catatan

One Week Friends

Saya mau cerita tentang film One Week Friends (2017), teman satu minggu. Awalnya saya nonton film ini bukan karena tertarik sama ceritanya, tapi karena pemeran Hase-kun adalah Yamaken. Yeaay 😀 Saya bukan penyuka drama Jepang ataupun Korea, hanya sekali dua, kalau lagi pengen nonton, ya saya nonton. Saya sedikit suka saja setiap kali menonton film yang dibintangi olehnya. Meski pada akhirnya saya harus ikut patah hati di film ini. Soalnya dia patah hati juga. Hahaha. Tapi ga ngefans banget sih, dia nikah saya juga ga bakalan patah hati. 😛

Okelah, sebaiknya saya tulis saja ceritanya. Daripada saya ngoceh yang enggak-enggak.

***

Kaori seorang murid pindahan, karena dia tidak menemukan kenyamanan di sekolah lamanya. Lantaran sebuah penyakit yang dideritanya. Dia selalu kehilangan ingatan di setiap hari Senin. Hal ini diceritakan karena dia dibully waktu SMP, gara – gara laki-laki terkeren di sekolahnya itu menyukai dia. Hajime namanya.

Lanjutkan membaca “One Week Friends”

Cerita

Jalan – jalan di Rumah Sakit

Ritual di kantor pagi ini, saya mulai dengan hal yang tidak menyenangkan. Ibu jari saya kejepit pintu lemari. Gara – gara waktu ngembalikan barang ke brankas tangan saya megangi pojok daun pintu lemari, tangan satunya menutup dengan kerasnya. Seketika rasa cenut-cenut itu menjalar tak terkira. Ibu jari saya warnanya langsung hitam, darah merembes sedikit, tapi jauh di dalam kuku ada darah merah kehitaman yang sedang mengendap. Rasanya jangan ditanya, sakit sekali. Seorang ibu jari sedang sakit, kasihan kan anak – anaknya ? siapa yang masakin nanti ? Lah 😀

Jadilah saya mengetik pekerjaan kantor dengan sembilan jari saja. Agak susah memang, soalnya ibu jari saya tetap ingin menekan tuts-tuts keyboard itu. Dia dipaksa tinggal diam, tapi tidak mau. Yah, namanya kebiasaan. Ndak parah sih, masak harus saya bawa ke rumah sakit ? kalau saya cerita ke teman saya. Dia pasti langsung bilang, “amputasi”. Meski saya bisa di ajak bercanda, tapi entahlah. Kata ini terlalu menyakitkan, sehingga saya menjadi orang yang jarang bercerita kepadanya. Coba bayangkan, kalau kita curhat kaki sedang pegel semua, kemudian dia bilang, “bawa kerumah sakit, amputasi”. Ya kalau sekali, ini ratusan kali. Bosan. Aduh ngomong apasih. Lanjutkan membaca “Jalan – jalan di Rumah Sakit”

Cerita

Bapak dan Rokok

Mbah Kung mempunyai tujuh anak, dua laki-laki lima lainnya perempuan. Dari tujuh anak Mbah Kung, Bapaklah yang setiap hari membantu menggarap sawah, ladang dan perengan -sepetak tanah yang berada di pinggir sungai- mbah Kung. Hal ini karena Bapaklah anak laki-laki yang saat itu paling besar.

Sebagai orang desa yang pekerjaan sehari-harinya adalah bertani dan berkebun, mbak Kung punya kebiasaan merokok yang sangat berat. Untuk memenuhi kebutuhan merokoknya, Mbah Kung selalu membawa bekal yang tidak akan pernah ketinggalan. Kemanapun mbah Kung pergi, sekantong bekal tersebut akan dibawa. Kantong itu berisi tembakau, kelobot, cengkeh dan korek api. Tembakau dan cengkeh sendiri tentu untuk bahan rokoknya, kelobot ini nama lain dari kulit buah jagung, kemudian paduan semuanya itu dilinting. Cara membuat bungkus rokok tadi, kulit jagung di kukus dan kemudian dikeringkan. Entah bagaimana proses detailnya, saya kurang paham. Kata Mbah Kung, ngelinting udud begini lebih nikmat daripada rokok yang beli di warung. Lanjutkan membaca “Bapak dan Rokok”

Cerita

Benang dan Jarum

Dear Matahari,

Redup sinarmu hari ini membuatku malas mencuci. Adakah terang siang nanti?


Dear Matahari,

Lembut sapamu pagi ini, membuatku hanya bergelut dengan benang dan jarum. Aku banyak memulai, tapi tak kunjung ada yang selesai. Tas, syal, kotak pensil rajutan itu semuanya terbengkalai. Kadang kala dia menarik sekali, seperti tali yang mau menjeratku. Merayu untuk segera kudekati. Tapi aku terlalu sibuk dengan lainnya. Aku lalai. Apa dia bisa cemburu juga ?

Kadang aku bosan sekali. Hingga rasanya aku malas, bahkan untuk sekedar memegangnya.

Sudah kubilang kan, suatu saat nanti bosan akan menghampiri. Seperti yang kukisahkan lalu-lalu. Dan akhirnya aku meninggalkannya. Jahat sekali.

Tapi tidak kali ini. Aku tidak mau mengulangi. Meski jarang kusentuh, tapi aku terlanjur mencintai benang-benang itu. Setidaknya sekarang akan aku selesaikan yang sudah kumulai. Mungkin, suatu saat nanti aku juga akan berganti hobby lainnya. Tapi aku tidak akan melupakannya.

Dear Benang dan Jarum,

Jangan pernah bosan denganku ya, yang seringkali bosan denganmu. Aku tahu cinta saja tak cukup membuatmu tertata dan berguna tanpa usaha yang nyata. Cinta dariku saja hanya membuatmu seperti benang pada umumnya.

Jangan patah hati, aku temani untuk menjadi berarti dengan segenap kekuatan tangan ini.

Surat-surat

Satu : Saya dan Pencarian Buku

Sedari dulu, saya adalah orang yang punya rasa penasaran yang besar (menurut saya pribadi). Tapi selalu menyerah ketika menemui soal sulit Fisika. Saya angkat tangan kalau sudah disuruh menghitung berbagai macam gaya dan soal semisalnya. Pernah saya ujian Fisika dan nilai saya 4. Bulat. Tidak ada komanya. Mengenaskan. Jadi dulu, saya lebih suka Biologi daripada Fisika. Ya tapi tetap saja menghafal berbagai nama latin dan hukum Mendel itu ternyata juga susah. 😀

Selain mata pelajaran, saya juga penasaran pada banyak hal lainnya, orang salah satunya. Ini yang akhirnya melahirkan bakat kepo. T.T Okelah, maafkan kalau – kalau kalian pernah terkena korban kekepoan saya. Kali ini saya tidak akan bercerita tentang kepo seseorang, tapi tentang rasa penasaran saya pada buku, lebih tepatnya novel. 😀

Lanjutkan membaca “Satu : Saya dan Pencarian Buku”

Cerita

Berhenti

Salah seorang sahabat saya (sebut saja Dya) kemarin curhat, tentang berhentinya dia dari kantornya. Resign. Tersebab beberapa hal yang sudah sangat tidak bisa dipertahankan. Kemudian dia berniat “balikan” sama mantan kantornya dulu. Tapi nasib berkata lain, lowongan yang sebelumnya tersedia dan sudah ditawarkan oleh mantan kantornya ternyata mendadak ditutup. Okelah jadi dia galau. Dan mulai mencari lainnya dan membuka semua kemungkinan sampingan.

Dalam curhatnya dia bilang, “Tolong jangan kasihani aku, tapi semangati aku.”

“Iya. Semangat. Tak semangatin. Ah, hidup ini keras nak, kalau ga semangat dan kuat ga bisa ngadepin.” Lanjutkan membaca “Berhenti”

Cerita

Hewan yang jadi Mainan

“Mbak Umi punya pengalaman nyiksa binatang gak?”

Pertanyaan itu kemarin terlontar dari salah satu anggota grup Obrolin, setelah sebelumnya kita chating dan membahas tentang psikopat coro, yang mana dia masih suka menyiksa coro dengan kapur ajaib.

“Pernah, pas kecil”, saya menjawab sambil mengingat-ingat kenangan masa kecil yang hampir tenggelam.

“pasti ayam”, balasnya.

“Bukan”,…

Dan sebenarnya ayam itu pernah menjadi binatang peliharaan kesayangan saya. Ayam berjenis jantan. Ayam yang sedari kecil selalu ikut kemanapun saya pergi. Siang –siang saya bermain pasaran dia juga ikut, ikut mematuk-matuk pelepah pisang yang saya potongi kecil-kecil, pelepah itu menyamar menjadi lontong siap makan. Dan ayam itu adalah korbannya, suatu kali ayam itu pernah saya suapi juga. Tentu saja dia tidak mau. Lanjutkan membaca “Hewan yang jadi Mainan”

Surat-surat

Sebuah Surat : Sebelum Berpisah

Andaikan kita mengirim surat lewat kantor pos, pasti kita akan saling menerima kertas kusam karna bekas air mata, dan berpulau – pulau karena basah semalam saat menulis.

Penggalan kalimat itu kutulis empat tahun lalu. Ketika untuk terakhir kalinya di tahun 2013 aku mencium aroma Mahasiswa pada jas labku. Ketika untuk terakhir kalinya kulihat dirimu berlari menuju kelas, mengetuk pintu lantas meminta maaf pada Dosen karena terlambat. Sementara aku sibuk berfoto dengan mereka yang memberikan beberapa batang mawar merah. Ketika malamnya kulihat inbox fb ada pesan masuk darimu, ada lagu Lembayung Bali darimu, ditemani sepucuk surat yang membuat mata ini berlinang air mata. Aku dapat merasakan getar gelisahmu karena tak dapat menemuiku saat itu.

Kamu masih ingat ? Lanjutkan membaca “Sebuah Surat : Sebelum Berpisah”

Cerita

Belajar Naik Sepeda Motor

Sabtu malam kemarin, saya sedang jalan-jalan berdua sama Ibuk, lebih tepatnya jalan – jalan buat belanja. Pergi ke toko yang agak jauh sedikit dari rumah. Awalnya ibuk menyuruh saya saja yang berangkat sendirian, tapi karena sedang tidak enak badan dan malas mengingat – ingat belanjaan yang banyak sekali, saya meminta beliau ikut serta. Saya jadi tukang antar saja.

Sepeda motor melaju perlahan menyurusi jalanan desa yang sedikit lengang. Beda dengan jalan aspal yang ada di pinggir desa, suasana selepas magrib, jalan aspal kecil itu ramai. Banyak orang lalu lalang, terlebih kaum muda mudi dan ditambah malam itu adalah malam minggu. Apalagi bulan – bulan Juli ini adalah hari jadi kota Ngawi entah yang keberapa, banyak acara di selenggarakan di sekitaran alun-alun kota. Lengkap sudah. Sepeda motor itu pasti banyak yang menuju ke kota.

Dapat dipastikan, jika saya sedang berdua saja dengan Ibuk tanpa adanya orang ketiga, beliau akan memulai percakapan yang serius tapi santai tapi bikin mikir. Semacam nikah misalnya. Hahaha. Kesempatan seperti ini selalu dimanfaatkan Ibuk dengan baik. Dan malam itu juga akhirnya mencuatlah satu PR untuk saya dari Ibuk. Lanjutkan membaca “Belajar Naik Sepeda Motor”

Catatan

Layang – layang

Sesampainya di Singosari aku menatap langit yang kelabu. Mendung tapi tidak hujan. Padahal sekali dua kali aku ingin merasakan hujan juga di kota ini. Hujan yang deras, sederas ingatanku pada setiap kalimat di tulisan itu. Entah kenapa setiap kalimatnya melekat erat, aku bisa mengulanginya saat ini tanpa harus membuka catatan lagi. Tulisan yang akhirnya nyata aku ketahui dimana letak daerahnya, bangunan-bangunannya yang cantik, tugu bunganya, dan perpustakaannya. Aku bayangkan, aku sedang melafalkan tulisan itu lagi sambil duduk di pinggir jendela di perpustakaannya. Meski tak hujan tak mengapa, gerimis kecil yang sebentar seperti tadi pagipun sudah cukup.

f519231630912ca559406ccce1d69256
Sumber gambar : Pinterest

Di Singosari saat aku menatap ke langit, ada layang – layang disana. Terbang tinggi di angkasa. Warnanya hitam, berbentuk burung dan beberapa orang-orangan, mirip tokoh kartun yang kemarin di putar di televisi, Upin-Upin. Benda – benda itu mengingatkanku akan suatu hal. Tulisan pendek tahun lalu yang aku jabarkan dari percakapanku denganmu.

Dulu, ratusan hari sebelum hari ini, aku pernah bilang. Kamu adalah layang – layang, yang kelak akan terbang tinggi. Tinggi sekali, membumbung ke angkasa. Dengan benang yang kuat dan pengendali yang hebat. Kamu akan selalu punya rumah untuk pulang, akan punya pengendali yang dengan benang berada di tangannya kamu tidak merasa khawatir akan putus, kalau kamu jatuh akan ada yang menerbangkanmu lagi. Akan ada tangan yang senantiasa memegangi benang itu. Menjaga agar layang-layang miliknya tetap berkibar di angkasa. Seperti layang-layang siang tadi yang kulihat, dan akan lebih tinggi lagi. Kamu akan menemukan pengendali itu.

Sekarang, selamat berjuang untuk pengendalimu itu, seorang ‘penolong’mu itu.

🙂