Cerita

Tetangga

“Pagar rumah mereka adalah pagar yang memberikan kehidupan, bukan pagar yang memisahkan.”

***

Awal April lalu ketika saya berlibur dua hari dirumah, sabtu sore selepas asyar saya diminta belanja ke sebuah toko di desa Sembung, desa sebelah dusun saya. Ketika memilih beberapa keperluan saya ditegur oleh seorang ibu – ibu yang sudah lumayan sepuh, yang sedang belanja juga. Percakapan yang terjadi diantara kami tentu dalam bahasa Jawa kromo, kromo dan ngoko itu adalah bahasa sehari – hari di desa saya. Meski mereka tahu dan bisa berbahasa Indonesia, tapi berbicara dengan bahasa Ibu sudah mejadi kebiasaan sedari kecil, dan sekarang semakin kesini generasi mudanya mulai endel-endel semua. Bahkan ketika ditanya orang tua, tidak bisa menjawab dengan bahasa kromo yang baik. (ah, sedih saya, jangan-jangan saya jugaa ). Balik ke percakapan dengan si Ibu. Percakapan sore itu kira – kira begini kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Lanjutkan membaca “Tetangga”

Cerita

Suatu Saat

Mak pernah bilang, “Berkeliling negerilah. Anak Mak boleh kemana saja, meski Mak ini ga pernah tahu pojokane cowek

Aku pernah menjadi anak tunggal selama 11 tahun, sebelum lahirnya adik perempuanku. Hidupku kelihatannya sangat dimanjakan, orang sering berpendapat begitu. Nyatanya aku tidak pernah benar-benar merasa dimanja. Bapak selalu bisa berlaku keras terhadapku meski sering juga berlaku lembut. Aku tidak pernah mendapatkan definisi hidupku dimanja jika dibandingkan dengan teman-temanku yang memang dimanja. Rasanya tak perlu dibanding-bandingkan sudahan. Dimanja atau tidak, diriku di masa kecil adalah seorang anak yang sering keras kepala dan bandel. Begitu? Atau sampai sekarang bahkan ? Hahaha

Lanjutkan membaca “Suatu Saat”

Cerita

Teman Sebangku

Sepanjang TK sampai SMA saya punya teman sebangku, satu yang berbeda. Ada di waktu SMA. Kalau suatu saat dia membaca tulisan ini, mari kita nostalgia sama – sama.

Kenapa berbeda ? saya akan ceritakan satu persatu.

TK.

TK saya dulu di RA Perwanida, satu komplek dengan MI Ringinanom. Sekolah ini terletak di desa paling selatan dari kecamatan Karangjati. Waktu di taman kanak – kanak dulu, kelas saya adalah kelas pasar. Jumlah muridnya hampir empat puluhan, dengan satu guru pengajar, Bu Murtini namanya. Kelas yang luar biasa ramai, setiap hari selalu ada yang menangis karena ulah jahil murid laki – laki. Termasuk saya, saya pernah sekali dua kali menangis. Bagaimana tidak, pernah ada anak laki – laki yang saya lupa namanya, sengaja menculek (apa bahasa Indonesianya ya ?) Lanjutkan membaca “Teman Sebangku”

Cerita

Berburu : Happy Little Soul

Ada yang familiar sama judul itu ? Itu judul buku. Judul bukunya Ibook. Siapa Ibook ? Nah, yang pasti bukan Ibuk saya. Tapi Ibuknya Kirana. Terus siapa Kirana ? Kirana itu balita lucu dan pintar. Anaknya Mbak Retno. Yang punya IG kalau mau tahu bisa kepoin IGnya Ibook di @retnohening
(Salah satu sejarah saya punya akun instagram adalah karena pengen kepoin akunnya mbk Retno. Hahaha. Video-video Kirana yang lucu dan menggemaskan sering mengusir kebosanan saya)


April is coming, Maret baru saja berlalu. Nah, di bulan April ini salah satu tanggal yang saya tunggu adalah tanggal 1 April. (Lupakanlah kalau di April saya juga makin tua, biarkan saja. Hahaha) Ada apa dengan 1 April ? Sudah sejak beberapa hari yang lalu di IG nya ibook diumumkan kalau Ibok akan nerbitin buku. (Ibok itu panggilan mbk Retno di IG, siapapun manggil dia Ibok itu sudah biasa, dan manggil mbak Hana dengan sebutan bulek. Sama kayak Kirana manggilnya. Kadang saya juga suka manggil mbak Hana dengan sebutan bulek di tumblr. :mrgreen:) Lanjutkan membaca “Berburu : Happy Little Soul”

Catatan

Pulang

​Mungkin saat ini yang kamu butuhkan hanya pulang. Bukan jalan-jalan atau makan-makan.

Pulang. Kata itu sering menentramkanku disaat ada setumpuk pekerjaan di meja yang menari-nari di hari Jum’at sore. Mereka seakan tak mau ditinggal. Menggandeng erat tanganku, tak mau lepas. Sudah lebih manja dari kekasihku : buku. Tapi ini adalah pulang yang aku cintai, karena aku merasa bisa bebas berlari setelah melepas paksa dari jerat semua itu. Rasanya aku merdeka, meski hanya sementara.

Pulang. Kata itu kadang juga menjadi tekanan berat, seberat beban yang dibawa punggung waktu di gunung, punggung yang sudah semakin lelah setelah berjalan jauh. Berat. Menghimpit. Menyesakkan dada. Ini adalah pulang yang aku benci, tapi tetap harus aku jalani.

Tapi sebenarnya aku selalu menemukan hal yang bisa kusukai dari jenis pulang yang aku benci. Meski tak jarang aku hanya menyukai perjalanan jauhnya saja. Duduk berlama-lama tanpa seorangpun memecah lamunanku. Diam seorang diri diantara penumpang lainnya. Menerawang jauh ke langit sana. Langit senja atau langit malam, tak masalah. Aku menyukai semuanya.

Pulang. Malam ini aku pulang. Entah ini pulang yang mana, aku tak tahu. Di jalan yang aku temui hanya penjaja tahu sumedang yang katanya selalu baru, jalanan macet, langit yang gelap, deretan lampu jalanan dan bising musik tahun 2000an yang diputar keras-keras di dalam bis. Ah, kekasihku aku bosan, temani aku menghabiskan perjalanan ini. Aku akan ceritakan banyak kisah malam ini padamu. Mari dengarkan sambil kita saling berkaca. Aku pada halamanmu dan kamu pada mataku.

*** 

Cerita

Tak berjudul…

Semalam teman-teman kos (baik yang sekarang ataupun mantan anak kos) mengajak saya dan Nudya ketemuan. Kangen, lama tidak berjumpa katanya. Dan memang saya sudah hampir setahunan belum menyempatkan diri bertemu mereka. Padahal masih satu kota, sama-sama di Surabaya.

Saya berangkat dari kos lepas magrib, setelah hampir satu jam menyusuri jalanan yang banyak macetnya saya sampai di bunderan ITS yang legendaris itu. Saya memilih turun dari kendaraan umum di pintu masuk perumahan kertajaya. Berjalan sebentar ke arah Jl. Gebang Putih, kemudian sekitar 200 meter belok kiri ke Jl. Gebang Wetan.

Nostalgia tidak sepenuhnya berhasil saya lakukan. Banyak hal yang sudah tidak bisa dikenang. Jalan sudah semakin melebar. Pohon-pohon sudah ditebang semua. Semakin ramai, hanya ada beberapa penjual makanan yang tetap. Penyet Pak RT dan nasi goreng Pak Gendut.

Lanjutkan membaca “Tak berjudul…”

Catatan

Catatan Kecil Tentang Tambora

Gunung Tambora, saya mengenal nama gunung itu justru ketika sudah lulus kuliah (sepertinya pelajaran geografi saya perlu dipertanyakan 😀 ), waktu itu saya menonton film Serdadu Kumbang. Disana dikisahkan sedikit mengenai gunung Tambora. Gunung yang membuat benua Eropa gelap. Sedahsyat apa letusannya, sampai benua Eropa gelap setahun lamanya ? tanya saya waktu itu. Namun pertanyaan itu menguap begitu saja seiring waktu berjalan. Barulah ketika teman kantor saya siang itu sibuk membicarakan tentang rencana pendakian ke Tambora (yang sepertinya hanya wacana jangka panjang saja ?), saya tertarik untuk searching lebih jauh mengenai Tambora. Niat awalnya hanya mencari jalur pendakian, info transportasi dan sebagainya, tapi saya menemukan sebuah review buku yang bercerita tentang Tambora. Akhirnya saya memutuskan untuk membelinya. Lanjutkan membaca “Catatan Kecil Tentang Tambora”

Cerita

Kolam Renang Muslimah : Al Hikmah Surabaya

Seminggu yang lalu, saya di chat sama Nurul teman kos dulu waktu kuliah. Dia ngajak saya renang hari ahadnya, eh sebenarnya saya ga bisa berenang, tapi ndak papa lah, nemenin dia, sekalian ketemuan sama dia. Sudah dua tahun lebih saya ga ketemu sama Nurul ini.

Nama kolam renang ini sudah sering saya dengar, tapi belum pernah kesana. Sempat dulu janjian sama teman – teman Dukuh Pakis, tapi selalu gagal karena ada saja halangannya, ada yang mudik, ada yang sakit, ada yang halangan dan sampai akhirnya hanya berupa wacana saja agenda itu. Akhirnya ahad kemarin rencana yang dadakan itu terlaksana. Lanjutkan membaca “Kolam Renang Muslimah : Al Hikmah Surabaya”

Catatan

Akhir Tahun

Tulisan kali ini akan berisi banyak curhatan tentang pekerjaan. Jarang – jarang kan saya bercerita tentang pekerjaan ?

Kenapa judulnya akhir tahun ? karena memang bulan Januari sampai April bagi para accounting masih terhitung akhir tahun (ini pengertian di kantor saya, kalau di lainnya saya kurang tahu). Kenapa masih dihitung akhir tahun ? karena terkait adanya laporan perpajakan OP (Orang Pribadi) dan Perusahaan yang masih harus di selesaikan. Seperti yang sebagain orang tahu, batas pelaporan pajak tahunan OP adalah akhir Maret. Sedangkan perusahaan pada akhir April. Lanjutkan membaca “Akhir Tahun”

Catatan

Malam

Hai malam, di sisa hari ini aku ingin bercerita. Barusan aku membaca sebuah surat untuk kesekian kalinya. Sebuah surat yang ditulis Abang untuk seseorang yang jauh berada di seberang pulau sana. Kamu tahu, saat membaca itu tiba – tiba ada yang ikut mengalir deras di hatiku. Sebuah rasa sayang kepada gadis itu. Sebuah rasa yang aku mengerti tapi aku susah mengatakan itu bagaimana. Aku tak mengenalnya, Abang yang mengenalnya. Malam, aku bukan gadis itu, jadi aku tak tahu persis bagaimana rasanya. Tapi aku yakin, ada bulir bening yang mengalir di telapak hatinya ketika membaca tulisannya. Terlebih hari ini ada surat untuknya kedua kalinya. Lanjutkan membaca “Malam”