Cerita

Karung Kotoran

Saya pernah punya kisah, antara saya dan Anjing. Tanggal10 Juli 2014, pukul 00.10 lebih saya masih diluar kos. Sekembalinya mengantar teman saya dan sepeda motornya ke rumahnya, kemudian saya berjalan kaki pulang ke kos. jarak kos dengan rumah teman saya dekat, hanya 1 Km. Lima rumah sebelum kos saya ada sebuah rumah yang mempunyai dua anjing entah jenis apa. Ketika malam semakin larut anjing – anjing ini sering menggonggong dan berkumpul dengan kawan mereka lainnya dari RT sebelah, semacam reuni begitu. Dari suaranya ada sekitar empat atau lima anjing.

Malam itu dari jarak 500 m, saya melihat mereka sedang rapat besar, terlihat bergerombol di tengah jalan. Saya memutuskan untuk terus berjalan, sampai kira-kira seratus meter dari anjing-anjing itu. Dan tepat saya melangkah semakin mendekati mereka, tiba-tiba rapat mereka bubar. Mereka menyebar, berlarian dan menggonggong dengan keras. Beberapa diantaranya mendekati saya, dan berhenti di depan saya dengan jarak 10 meter. Suasana menjadi sangat ramai tapi mencekam bagi saya. Pada dasarnya saya takut anjing, bukan takut najisnya kalau terjilat mereka,  takut kalau diserang mereka dan saya tergigit. Akhirnya saya diam, berdiri mepet dipagar orang tanpa bergerak sambil berdoa agar mereka lekas pergi dari hadapan saya. Lanjutkan membaca “Karung Kotoran”

Catatan

Tahan Banting

Pagi tadi saya sedang diantar Pak Rudi ke Dharmo Park, naik Toyota Calya. (Kuda putihnya kantor yang baru. Oke maaf pamer, tapi bukan itu tujuannya) Terjadilah percakapan kecil waktu kami sedang berada di tengah kemacetan jln Mayjend. Sebelumnya ada seorang ibu-ibu yang menyetir sepeda motor lalu menyenggol spion mobil, karena takut lecet, Pak Rudi lekas mengecek dengan membuka kaca mobil. Oke, mobil aman.

Pak Rudi : “Mobil ini bagus, 156juta. Tapi kalau dipegang anak kantor pasti sebentar lagi bakalan beset-beset. Lecet-lecet.”

Saya : “Mungkin iya, lihat saja Mas Rud mobil Innova itu. Sudah banyak luka di badannya.”

Pak Rudi : “Mobil ini alus masihan. Eman.”

Saya : “Tapi mobil sekarang ringkih, makanya kesenggol dikit lecetnya keliatan.”

Pak Rudi : “Walaah jelas iya um. Beda jauh sama mobil keluaran tahun dulu. Bahannya ini sudah banyak dikurangi.”

Saya : “Itulah kenapa mobil sekarang gampang ringsek ya ?” (Di pikiran saya terbayang kecelakaan tiga minggu yang lalu di Tro Wulan yang membuat Toyota Calya putih hancur tak berbentuk setengah badannya, padahal kecelakaan tunggal dan hanya menabrak pembatas jalan) Lanjutkan membaca “Tahan Banting”

Cerita

Penambah Cinta

Bagi sebagian besar wanita mungkin sudah menjadi hal yang biasa ketika datang bulan dan mengalami PMS ataupun perut kram atau sakit ketika datang bulan, saya menyebutnya delepen. Saya hanya akan bercerita tentang delepen. Semalam, saya menangis lama di kamar mandi. Saya kucurkan air kran ke bak mandi kencang-kencang agar tidak ada yang mendengar. Hampir 45 menit. Karena apa, karena rasanya perut saya bergejolak sangat hebat secara periodik. Niatnya mau mandi tapi bergerak saja susah. Akhirnya hanya terdiam sambil pringas pringis menahan tangis. Begitu keluar kamar mandi, saya langsung menubruk bantal dan Kasur. Tertidur disana sampai pagi.

Lanjutkan membaca “Penambah Cinta”

Catatan

Baik-baik

Aku pernah membayangkan, kita bertiga duduk bersama dan menatap senja yang sama. Senja di kotanya, di kotamu ataupun di kota yang namanya tanpa sengaja kamu tukar karena mirip.

Aku tahu, segala rupa yang dia kira aku tidak tahu. Aku tahu, segala rupa yang kamu tidak tahu. Dan kamu tahu segala rupa yang aku tidak tahu. Tentangku dan dia, tentangmu dan dia, atau tentang kita bertiga yang tidak akan pernah dikupas habis ceritanya oleh tulisan manapun. Tidak ada atau tidak akan pernah ada. Harus tangan kita bertiga yang bercerita.

Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah selesai bercerita tentangnya. Kamu tidak pernah selesai dan aku tidak pernah selesai.

Aku tahu, suatu saat jenuh akan menghampiri kita. Menyentuh hingga titik tertinggi. Menyudahi semua cerita itu. Dan hanya membuat kita saling memeluk dalam jauhnya jarak. Membuat kita saling mendekap erat dalam sunyinya malam. Saling menitikkan air mata. Dan memberikan tepukan hangat dipundak masing-masing. “Kamu kuat”, kata itu bergantian saling kita ucapkan.

Aku sedang membayangkan kita bertiga yang sudah tua kelak, duduk bertiga di rumput beralaskan tikar di taman. Berbagi cerita yang seperempat abad lamanya tak pernah saling kita kisahkan.

Kamu menumpahkan tawa tiap kali mendengar satu fakta tersampaikan. Tawa yang bertahun-tahun saling kita rindukan. Kalau masa itu ada, aku adalah orang yang ingin menyaksikan banyak-banyak tawamu. Akan aku ceritakan banyak hal, agar wajah sumringahmu tetap ada di suasana itu.

Jika tidak ada itu semua. Maka biarlah kita bertiga hening seperti sekarang. Aku tak lebih beruntung dari kamu. Kamu tak lebih beruntung dari aku. Kita saling menyangka begitu. Tapi sebenarnya masing-masing dari kita punya tempat tersendiri disana.

Jika tidak ada itu semua, aku akan terus menggenggam erat kalimatmu. Kita tetap dekat setersekat apapun hati itu.

Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja. Pesanmu kemarin akan kucatat selalu.

Baik-baiklah, semoga Dia memberikan ketenangan selalu. Dia tempat kita berangkat dan pulang. Dia tempat kita pergi dan kembali. Dia, Rabb semesta alam tempat segala cerita bertumpah, tempat segala keresahan berpulang. Tempat segala ketenangan berasal. Dia yang Maha Baik.

Jangan risau, tahan saja rindumu untuk beberapa waktu. Dan kembalilah semaumu. Aku masih jadi bunga Mataharimu, malam tibapun aku akan tetap mekar. Di hatimu 🙂

Cerita

Surat Cinta Pertama

Ditulis secara tidak sengaja, barangkali Ziza mau membaca Surat Cinta Pertama ini sebagai penambah tawa atas konyolnya cinta monyet di jaman saya yang belum tahu apa itu artinya cinta monyet.

***

Saya sedang duduk termenung di depan leptop, ketika ingatan ini justru melesat meniti jalan waktu, kembali kepada hari – hari lima belas tahun lalu.

Di sebuah masjid dekat rumah, kami, segerombolan gadis kecil sedang sibuk sendiri-sendiri. Sebagian ada yang bermain, sebagian ada yang mendengarkan khutbah Jum’at, dan sebagian ada yang asyik membaca ramai-ramai buku surat. Ah, sebelumnya saya coba ceritakan, bahwa anak – anak gadis TPA jaman saya, sering ikut sholat Jum’at di masjid. Saya yang orangnya pendiam, memilih mengamati saja. Mengamati mereka yang sedang asyik membaca sebuah buku  sambil ber-haha-hihi. Lanjutkan membaca “Surat Cinta Pertama”

Cerita

Baterai HP dan Supir Taksi

Hari ini Surabaya diguyur hujan, tidak deras tapi gerimis saja. Setidaknya mampu mendinginkan hati-hati yang sedang gerah, karena banyak hal yang tidak bisa dikipasi dengan kipas angin listrik yang kecepatannya di angka maksimal sekalipun. Sedari kemarin sore sebenarnya hujan ini sudah turun, disambung tadi malam, waktu Subuh tadi dan dilanjut sampai waktu Duha menjelang. Masih belum reda. Beberapa tetes diantaranya mampu mengingatkan saya pada puisi Hujan Bulan Juni yang melegenda itu.

…..

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

…..

Dibiarkannya yang tak terucap

Diserap akar pohon bunga itu

…..

Lanjutkan membaca “Baterai HP dan Supir Taksi”

Catatan

Rahasia Kecil Lontong Balap

Beberapa waktu lalu saat saya pertama kali blogwalking di akunnya Mas Dika (yang akhirnya berteman juga di grup Obrolin) pada postingannya yang berjudul Sederet Anime, dari hasil komen panjang kita sampai pada bahasan makanan khas Surabaya. Disana saya sebut Lontong Balap dan Semanggi. Nah, kemudian Mas Dika ini bertanya Lontong Balap ini bagaimana teorinya ya ? kenapa di sebut Lontong Balap atau teman-teman saya sering menyebutnya Lontong Racing (mekso banget ya 😀 ).

Di sekitar tempat tinggal saya di Dukuh Pakis, ada sebuah gang kecil yang disebut gang tikus, di ujung gang ini, yakni gang yang mendekati Golden City Mall, ada sederetan rumah nonpermanen. Rumahnya kecil, beratapkan seng, lantainya masih tanah sebagian besar, sederhana dan berdempetan satu sama lainnya. Rumah ini biasanya didirikan bukan di atas tanah milik pribadi, entah sewa entah asal menempati saya kurang tahu. Jika berjalan dari arah timur, tiga rumah pertama sebelah kanan akan kita temui banyak sekali gerobak-gerobak Lontong Balap. Ternyata setahun setelah saya pindah kos di Gang III A (dulu saya kos di gang II dan tidak pernah melewati gang tikus ini ) saya baru tahu bahwa sebagian besar penjual Lontong Balap bermarkas disini.

Lanjutkan membaca “Rahasia Kecil Lontong Balap”

Cerita

Sepasang Mata dan Telinga

Sudah menjadi kebiasaan bagi kami sekeluarga, setiap lebaran Idul Fitri, selesai sholat Ied, kami akan pergi ke kecamatan Bringin, yakni kerumah Simbah, Biyung sebenarnya panggilannya sehari-hari. Panggilan yang kini sudah semakin jarang terdengar, digantikan dengan Eyang Uti, Nenek atau lainnya. Biyung ini sendiri artinya Ibu. Sebenarnya ini panggilan seorang anak kepada ibunya, tapi entah kenapa dulu kami diajarkan untuk memanggil Simbah sama dengan bapak ibu kami memanggil ibunya, yakni Biyung. Semua cucu Biyung dari ketujuh anak-anaknya, memanggil beliau dengan sebutan Biyung.

Lanjutkan membaca “Sepasang Mata dan Telinga”

Cerita

Sudah berbeda

Puasa pertama kemarin saya jalani sambil jalan-jalan, sahur di Surabaya dan berbuka di Ngawi. Sholat Tarawih hari kedua di Ngawi. Di masjid dekat rumah, sepelemparan batu saja. Lari sprint sebentar juga akan sampai. Kalau kuat tapi. Masjid Baitul Ma’iyah namanya. Masjidnya tidak megah memang, biasa saja, ya seperti masjid  di kampung-kampung lainnya. Tidak juga luas, tapi cukup untuk menampung orang sekampung ketika sholat hari raya nanti, tentu saja halamannya dipergunakan juga. Pokoknya tidak luas, dan penduduk kampung kami juga tidak begitu banyak.

Malam tadi hujan mengguyur kampung kami, sepuluh menit sebelum adzan Isya’ dikumandangkan. Dan berhenti ketika puji-pujian dilantunkan selepas adzan Isya’. Puji-pujian disini dilantunkan akan sangat lama jika dibandingkan dengan di Surabaya. Kalau adzan berkumandang dan kita belum siap-siap, bahkan setelah kita siap-siap lalu lapar dan mulai makanpun, saya jamin tidak akan tertinggal sholat Isya’ berjamaah. Ya, asal makannya ga kayak saya, makan sepiring nasi satu jam baru habis 😀 kata teman saya, makan ala puteri Solo. Apa benar begitu? Entahlah, belum bisa membuktikan. Bertemu langsung dan kenal puteri Solo saja belum pernah apalagi melihat sang puteri makan. Yang barangkali acara makannya puteri ini tidak semua orang bisa melihatnya.

Lanjutkan membaca “Sudah berbeda”

Cerita

Melepaskan

“Kamu bakalan kangen ga ?”, tanyaku.

“Hahaha. Kapan balik ke rumah?”, jawabannya tidak menjawab tanyaku.

“Menjelang lebaran, tentu saja.”

Masih teringat pesan whatsappnya selepas tarawih malam pertama puasa, kamu tidak langsung pulang. Tapi menyempatkan berkirim chat kepadaku. Maklum, dirumah susah sinyal dibandingkan di wilayah masjid. Pesan yang kubaca intinya adalah, “say goodbye, nanti kita bertemu lagi menjelang hari raya.”

Pagi kemarin, selepas shubuh aku meluncur menuju terminal. Tidak ada bandara di kotaku, tidak ada perjalanan yang lebih cepat dibandingkan bus patas. Tidak juga kereta. Aku mengejar mobil yang berangkat mengantarkannya ke kota seberang, Ponorogo. Turun dari bus sudah jam 09.12, ada telfon dari Mamak (begitu kamu lebih suka memanggilnya, dibanding panggilan Ibu atau Emak). Beliau bilang bahwa kalian sudah sampai Desa Pecinan. Desa yang berjarak satu jam dari lokasi turunku saat ini. Ah, ternyata kita tidak sempat bertemu. Sudah kuusahakan berangkat mengejar bus paling pagi selepas shubuh. Tapi cerita berkata lain.

Tak langsung pulang, aku malah terduduk di pinggiran jalan di dekat pasar. Duduk disamping penjual lele yang sibuk mengambili lelenya yang jatuh ke tanah seekor. Aku terdiam bengong, entah memikirkan apa sambil memegangi Hp mengecek beberapa pesan disana. Barulah setengah jam kemudian kutelfon sepupu perempuanku, minta dijemput. Lanjutkan membaca “Melepaskan”